Pelatihan daring bertajuk " Online training on digital soil mapping: Towards the development of national soil salinity maps" diselenggarakan oleh FAO/GSP bekerjasama dengan Asian Food & Agriculture Cooperation Initiative (AFACI) pada tanggal 23 Maret hingga 3 April 2020. Pelatihan ini bertujuan untuk mengenalkan metode Digital Soil Mapping (DSM) dalam pemetaan tanah salin skala nasional di negara-negara Asia.

Kurang lebih 50 peserta yang terdiri dari peneliti, surveyor, dan akademisi ilmu tanah dari 17 negara berpartisipasi pada pelatihan ini selama dua minggu. Adapun peserta dari Indonesia terdiri dari enam peneliti lingkup BBSDLP yang sebagian besar adalah para peneliti muda.

Materi yang disampaikan dalam pelatihan daring ini terdiri dari pengenalan karakteristik tanah-tanah salin, pengenalan R Studio sebagai aplikasi pemetaan tanah digital, teknis pengumpulan dan penyajian data, dan membangun model matematika terbaik untuk memprediksi tanah salin.

Pelatihan dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama, peserta dilatih menggunakan contoh data yang telah disiapkan oleh pemateri. Pada tahap ini, pemateri menjelaskan teori dan teknis DSM, kemudian peserta langsung mempraktikkan pada masing-masing komputer. Tahap kedua, peserta diminta membuat peta tanah salin menggunakan metode DSM dengan data dari negara masing-masing.

Christian Omuto, salah seorang pemateri, berharap masing-masing negara peserta dapat mengaplikasikan DSM untuk membuat peta tanah salin nasional. Menurutnya pemetaan tanah digital adalah konseptualisasi faktor-faktor pembentuk tanah di mana model matematika digunakan sebagai penghubung antara sifat-sifat tanah dengan lingkungan pembentuknya. Peta yang dihasilkan adalah peta raster yang mempresentasikan sifat-sifat tanah yang berubah secara kontinyu mengikuti model hubungan.

"Peta DSM lebih mempresentasikan sifat-sifat tanah sebenarnya dibandingkan pemetaan tanah tradisional di mana sifat tanah berubah drastis antar batas satuan peta," tegas Umuto.

Yiyi Sulaeman, sebagai koordinator kontributor untuk wilayah Asia, menekankan perlunya penggunaan DSM di masa kini.

“Masa sekarang adalah masa big data dan masa R serta Phyton. Menguasai R adalah modal besar untuk memiliki ciri khas di kantor kita,” ujarnya kepada para peneliti muda yang mengikuti training. (PB)