Info Teknologi

Revolusi Industri 4.0 telah memasuki sektor pertanian Agroindustri 4.0. Adanya revolusi industri ditandai dengan adanya teknologi baru yang berbasis komputerisasi. Pemetaan berbasis lahan yang dilakukan di Indonesia sekarang ini mengalami kemajuan yang cukup pesat. Pesawat tak berawak atau drone telah digunakan oleh BBSDLP sebagai alat bantu pemetaan berbasis lahan. Drone yang digunakan oleh tim BBSDLP adala drone dengan tipe DJI Inspire 1.

Menurut keterangan alatnya DJI Inspire 1 merupakan drone yang mempunya empat buah kaki yang dapat dilipat setelah drone tersebut lepas landas. Dengan begitu Anda akan dapat memaksimalkan kamera Inspire 1 tersebut untuk merekam seluruh pemandangan 360 derajat tanpa adanya halangan untuk pengambilan gambar secara menyeluruh. Kamera Inspire 1 juga dapat ditekuk hingga 125 derajat.

Sama dengan varian produk DJI Phantom 2 Vision+, Kamera yang dipasang pada bawah drone tersebut langsung terhubung dengan gimbal tiga sumbu yang dapat membantu Anda untuk merekam video lebih halus. Untuk masalah angin tidak perlu khawatir, Drone DJI Inspire 1 akan berfungsi sangat baik dengan gimbal tiga sumbu tersebut. Pastinya ini akan membuat Anda lebih bersemangat ketika melakukan pengambilan gambar.

Untuk bagian konektor, Inspire 1 menyediakan USB port dan HDMI output yang dapat dgunakan untuk menghubungkan smartphone, tablet serta layar monitor dengan Drone tersebut. Sedangkan untuk pengendalian atau controler, Inspire 1 juga dapat mempersiapkan alat tersebut untuk mengendalikan gerak kamera. Kontroler tersebut menggunakan teknologi transmitter nirkable Lightbridge yang dapat mengirimkan video 1080p ke Android atau iOS dengan jarak kurang lebih 1,7 KM jauhnya.

Penggunaan drone sebagai alat bantu pemetaan lebih efektif dan efisien dari segi watu dan biaya dibandingkan dengan citra satelit, akursai hasil juga lebih baik dari citra satelit yang hanya mengakomodasi 40 cm/pixel. Pemetaan dengan drone dapat menjangkau wilayah dengan akses terbatas, sehingga mendapatkan hasil yang lebih akurat.

Contoh foto yang diambil oleh Drone DJI Inspire 1.

Era kini Citra Radar Resolusi Tinggi menjadi hal yang penting digunakan dalam berbagai bidang, dari geologi hingga transportasi. Sistem RADAR ini merupakan sistem inderaja yang sangat potensial diaplikasikan untuk pemantauan dan identifikasi obyek – obyek di permukaan bumi.

Citra RADAR dihasilkan dari sistem inderaja aktif menggunakan gelombang microwave yang dipancarkan sensor untuk mengirim dan menerima sinyal. Kemudian sensor microwave akan memancarkan sinyal dalam bentuk polarisasi yang akan menghasilkan suatu citra atau gambar. Citra Radar kemudian diolah untuk menghasilkan data – data sesuai kondisi sebenarnya di lapangan.

Indonesia sebagai salah satu negara agraris dengan luas sawah  8 juta hektar sudah barang tentu perlu memanfaatkan Citra Radar Resolusi Tinggi tersebut, salah satunya untuk menentukan sifat – sifat biofisik lahan yang ada. Menurut Muhammad Hikmat, peneliti Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian Sifat biofisik sumberdaya lahan menjadi aspek penting karena menjadi bagian dari pertimbangan dalam perencanaan penggunaan lahan maupun pengambilan kebijakan teknis yang akan diterapkan dalam mengelola lahan di suatu wilayah. Hal ini dikarenakan upaya pemenuhan kebutuhan padi nasional harus dilakukan secara terencana salah satunya dengan mempertimbangkan aspek biofisik lahan sawah.

Dalam penelitiannya Hikmat mengatakan bahwa pemanfaatan Citra RADAR untuk identifikasi sifat biofisik lahan juga tergantung kepada tujuan penelitian dan harus disesuaikan berdasarkan panjang gelombangnya. Gelombang Radar dapat dibedakan dalam beberapa Band (saluran) yaitu C, S, L, dan P. Masing-masing band mempunyai kemampuan yang berbeda - beda dalam mendeteksi obyek.

Band - band tersebut memiliki panjang gelombang yang beda – beda. Band C dengan kisaran panjang gelombang 3,8 – 7,5 cm, band S dengan panjang gelombang 7,5-15,0 cm, band L dengan panjang gelombang 15,0-30,0 cm, dan band P dengan panjang gelombang 10,0-100,0 cm.

Semakin besar panjang gelombang, maka kemampuan membaca kanopi tanaman semakin besar. Gelombang microwave L-band yang lebih panjang memiliki kemungkinan lebih besar menembus dedaunan atau cabang-cabang kecil kanopi bagian atas, berinteraksi dengan batang kayu, komponen cabang yang lebih besar dan permukaan yang mendasarinya (Tsolmon et al. 2002; Lucas et al. 2004).

Selain itu band L juga dapat menghasilkan data dengan kekasaran permukaan tanah yang lebih baik dibandingkan dengan band lain yang mempunyai panjang gelombang lebih pendek (Mazloumi dan Sahebi 2016). Meskipun memiliki panjang gelombang yang lebih pendek, band C masih dimungkinkan untuk digunakan pada lahan pertanian tanaman pangan dengan vegetasi tanaman rendah.

Pemanfaatan Citra Radar Resolusi Tinggi dapat menghemat waktu dan biaya operasional, meskipun pengadaan citra saat ini masih tergolong mahal. Beberapa kelebihan penggunaan Citra ini adalah: (1) mampu memberikan data unik yang tidak diperoleh dari sarana lain, (2) mempermudah pekerjaan lapangan, dan (3) mampu memberikan data yang lengkap dalam waktu yang relatif singkat dan dengan biaya yang relatif murah.(LR)

Lahan rawa pasang surut memiliki potensi strategis untuk dikembangkan lahan pertanian sebagai  sumber pertumbuhan baru produksi pertanian. Namun, hal tersebut perlu didukung teknologi budidaya yang handal karena umumnya memiliki kendala teknis, infrastruktur, sosial ekonomi, dan kelembagaan

Read more: Rawa Pasang Surut Sebagai Pilar Swasembada

Perubahan iklim yang dinamis sangat berdampak pada sektor pertanian di Indonesia, hal tersebut ditandai dengan kejadian iklim ekstrim yang sering terjadi. Kejadian iklim ekstrim mengakibatkan petani kesulitan dalam melaksanakan usaha taninya, misalnya dalam penentuan waktu dan pola tanam, pemilihan varietas, serta penanganan hama penyakit (OPT). Iklim ekstrim yang paling terlihat yaitu adanya kejadian kekeringan yang berkepanjangan diakibatkan curah hujan yang rendah atau hujan yang terus menerus yang mengakibatkan banjir di banyak tempat.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menggelar Sekolah Lapang Iklim (SLI) yang antara lain melibatkan staff dan peneliti Badan Litbang Pertanian melalui Balai Penelitan Hidrologi dan Agroklimat (Balitklimat).  Sekolah Lapang Iklim (SLI) tersebut merupakan program yang digagas oleh BMKG, sebagai salah satu upaya untuk menanggulangi dampak iklim ekstrim. SLI adalah sekolah lapang yang dilaksanakan di alam terbuka dengan memberdayakan petani agar mampu membaca kondisi iklim serta kearifan lokal untuk melaksanakan budidaya pertanian spesifik lokasi agar dapat meminimalisir penurunan produksi sebagai dampak fenomena iklim ekstrim seperti banjir atau kekeringan.

Melalui SLI para petani maupun penyuluh diharapkan mampu mengaplikasikan informasi prakiraan iklim dan mampu melakukan adaptasi dalam pengelolaan usaha tani apabila terjadi perubahan iklim ekstrim.

SLI adalah sosialisasi pemahaman informasi iklim pada tingkat petani, penyuluh atau pemangku kepentingan terkait. Tujuan SLI adalah meningkatkan pengetahuan petani tentang iklim, membantu petani mengamati unsur iklim dan menggunakannya dalam rangka mendukung usaha tani,  dan membantu petani menerjemahkan informasi prakiraan iklim untuk strategi budidaya yang lebih tepat.

Kurikulum SLI disusun sedemikian rupa dan dilaksanakan dalam satu musim tanam. Kurikulum SLI menurut Pedoman Umum Sekolah Lapang Iklim Direktorat Pengelolaan Air, Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan Dan Air, Kementerian Pertanian 2010,  antara lain berisi materi: evaluasi hasil pengamatan lapangan,  dinamika kelompok , pengenalan unsur cuaca dan iklim, pengenalan ekosistem, pengenalan istilah dalam prakiraan musim, konsep peluang, pengaruh cuara dan iklim terhadap OPT.

Dalam kegiatan SLI juga dilakukan kunjungan lapang (field trip), pengenalan alat pengukur cuaca dan iklim, proses pembentukan hujan, cara memanfaatkan informasi prakiraan musim dan kearifan lokal, neraca air untuk kebutuhan irigasi dan menilai potensi banjir, faktor penyebab banjir dan kekeringan, serta pengendalian masalah banjir dan kekeringan.

Dari aspek sosial ekonomi diajarkan pula tentang: analisa usahatani sederhana, penilaian ekonomi informasi prakiraan musim/iklim. 

SLI bersifat spesifik lokasi karena berkaitan dengan kondisi spesifik di masing-masing daerah serta disesuaikan dengan kebutuhan petani setempat (Catur Nengsusmoyo/5/4/2017)