Info Terkini

Pekanbaru, 12 Mei 2018. Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) melakukan kerjasama dengan Universitas Riau yang dituangkan dalam Piagam Kesepahaman Bersama (MoU) yang masing-masing ditandatangani oleh Kepala BBSDLP Prof. Dr. Dedi Nursyamsi, M. Agr dan Rektor Universitas Riau (UNRI), Prof. Dr. Ir. Aras Mulyadi, DEA. (12/5/2018)

Naskah kesepahaman tersebut berisikan kesepakatan mengadakan kerjasama secara kelembagaan dalam lingkup pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat khususnya yang berkaitan dengan sumberdaya lahan pertanian. Sebagai tindak lanjut penandatanganan Piagam Kesepahaman tersebut akan diatur dan dituangkan dalam Perjanjian Kerjasama dengan kesepakatan kedua belah pihak.

Kerjasama antara lembaga penelitian dan lembaga pendidikan tinggi dinilai sangat penting bagi kedua belah pihak. Selain untuk membangun jaringan kerja, bagi lembaga penelitian seperti BBSDLP merupakan bentuk layanan terhadap masyarakat. Hasil-hasil penelitian dan inovasi teknologi yang dihasilkan BBSDLP dapat secara langsung didiseminasikan kepada para mahasiswa dan dosen perguruan tinggi yang menjalin kerjasama. Sementara itu dari sisi perguruan tinggi, kerjasama yang dituangkan secara formal akan memudahkan mereka memperoleh akses terhadap lembaga riset yang ada di Badan Litbang, Kementerian Pertanian, baik akses terhadap teknologi, maupun terhadap fasilitas dan sarana yang dimiliki oleh lembaga riset.

Rektor Universitas Riau, Prof. Dr. Ir. Aras Mulyadi, DEA sangat mengapresiasi dan menyampaikan pentingnya kerjasama tersebut.

“Saya berharap BBSDLP dapat berbagi pengalaman, karena BBSDLP adalah lembaga riset strategis dalam pembangunan dan pengembangan lahan pertanian di Indonesia.” tukas Aras.

Penandatangan Piagam Kesepahaman Bersama ini disambut hangat oleh lebih dari 160 orang mahasiswa S1, S2, dan S3 UNRI, sekaligus merupakan momentum perayaan milad Fakultas Pertanian UNRI yang ke 27.

Seusai penandatanganan Piagam Kesepahaman di atas, acara dilanjutkan dengan Kuliah Umum dengan tajuk “Sumberdaya Lahan Indonesia” yang disampaikan oleh Prof. Dedi Nursyamsi, M. Agr. (Saefoel Bachri/12/5/2018)

Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan menyatakan tidak pernah menyelenggarakan acara tersebut baik sendiri maupun bekerjasama dengan pihak lain.
Mohon berhati-hati dan waspada untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Bogor (23/04/18). Dalam rangka refokusing kegiatan dan strategi diseminasi, Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) menyelenggarakan rapat koordinasi (rakor) yang dihadiri oleh satuan kerja lingkup BBSDLP, yaitu Balittanah, Balitklimat, Balittra, dan Balingtan.

Refokusing yang dilakukan oleh Kementerian Pertanian ditujukan untuk pengentasan kemiskinan. Program Kementan dalam tiga tahun ini secara signifikan telah menurunkan angka kemiskinan. “Hal ini adalah pencapaian yang luar biasa, oleh karena itu Menteri Pertanian melakukan refokusing di seluruh unit  di kementerian, termasuk badan litbang,” ungkap Kepala BBSDLP, Prof. Dr. Dedi Nursyamsi dalam sambutannya.

Upaya refokusing dilakukan terhadap beberapa hal seperti, belanja modal, kegiatan yang belum dilaksanakan atau belum secara signifikan dilaksanakan, dan beberapa kegiatan yang tidak terlalu berkaitan dengan program utama Kementerian Pertanian. Baik sumber daya manusia, sarana prasarana, dan sumberdaya lainnya diarahkan ke program pengentasan kemiskinan.

“Strategi diseminasi sudah mulai bagus, tetapi baru terbatas beberapa gelintir yang inisiatif, masih bisa dihitung jari. Harus ada testimoni, diupayakan jangan kantor sendiri tetapi dari petani dan user,” kata Prof. Dedi.

Sebagai strategi diseminasi, para peneliti dituntut untuk dapat menyajikan informasi di media online dalam bahasa populer yang menarik dan dilengkapi dengan foto dan video yang menarik. Tulisan harusnya dibuat dalam bentuk tulisan populer yang mudah dimengerti oleh khalayak umum, utamanya dapat dilihat dari judul yang menarik.

Untuk meningkatkan kemampuan penulisan populer, peneliti dan tim diseminasi akan difasilitasi dengan pelatihan penulisan dengan narasumber wartawan Trubus. Pelatihan ini menjadi stategi diseminasi dengan memanfaatkan media online sebagai wadah untuk menyampaikan berbagai inovasi dan hasil penelitian pertanian kepada masyarakat. (NK)

Bogor, 19 April 2018. Badan Litbang Pertanian mengadakan kegiatan Diklat Teknisi Litkayasa yang diadakan pada tanggal 16 – 19 April 2018. Para peserta berjumlah 30 orang yang terdiri dari beberapa unit kerja yaitu diantaranya Balitkabi, Balithi, Balitpalma, BPTP NTT, BPTP Lampung, BPTP Papua, BPTP Sulawesi Tenggara, BPTP Sulawesi Utara, BPTP Sulawesi Tengah, BPTP Sumatera Barat, BPTP Jawa Timur, dan BPTP Banten. Diklat ini merupakan Diklat Gelombang kedua di tahun 2018.

Badan Litbang Pertanian adalah Lembaga Penelitian dan Pengembangan yang berkelas internasional, sehingga para peneliti, penyuluh, teknisi, dan seluruh komponen pendukung Litbang Pertanian harus mampu meningkatkan kualitas diri. Oleh karena itu, melalui Diklat ini pegawai yang akan menduduki jabatan fungsional Teknisi Litkayasa wajib mengikuti Diklat Teknis Litkayasa. Salah satu rangkaian dari kegiatan diklat ini adalah kunjungan di kawasan Kampus Pertanian dan Agrosinema yang disambut dengan baik oleh Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) yang diwakili oleh Dra. Nur Jayanti, M.Sc selaku Kepala TU.

Dalam kunjungan ini, para peserta diberikan informasi mengenai Badan Litbang Pertanian dan BBSDLP melalui tayangan video profil, serta informasi mengenai SISULTAN, Sistem Informasi Sumberdaya Lahan Pertanian yang dipresentasikan oleh Kepala Seksi Kerja Sama Penelitian, Saefoel Bachri, S.Kom, MMSI. “SISULTAN adalah Sistem informasi berbasis WebGIS yang menyajikan informasi berupa peta-peta sumberdaya lahan pertanian yang dibuat dan dipetakan oleh BBSDLP. Kita bisa dengan mudah mengakses peta hanya dengan membuka situs ini. Bagi Bapak dan Ibu yang ingin mencari informasi mengenai sumberdaya lahan pertanian di daerah masing-masing juga dapat memilih lokasi mana yang akan dicari.”, paparnya. Tidak hanya itu, Saefoel juga menjelaskan bagaimana cara mengakses SISULTAN dengan sangat rinci.

Setelah diadakannya rangkaian kunjungan ini, para peserta Diklat Teknisi Litkayasa Balitbangtan diharapkan mendapat informasi dan pengalaman yang bermanfaat sehingga dapat berkontribusi secara maksimal pada kegiatan penelitian perekayasaan Badan Litbang Pertanian. (HNA)

Klik di sini untuk melihat liputan selengkapnya.

Bogor, 16 April 2018. Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) mengadakan kegiatan Rapat Koordinasi Pengembangan Lahan Kering dan Rawa menuju Lumbung Pangan Dunia 2045 yang dihadiri oleh Menteri Pertanian, Dr. Ir. Andi Amran Sulaiman, MP, Kepala Badan Litbang Pertanian, Dr. Ir. M. Syakir, MS, Kepala BBSDLP, Prof. Dr. Dedi Nursyamsi, M.Agr, profesor riset, pejabat struktral, beserta peneliti lingkup Balitbangtan.

Kementerian Pertanian (Kementan) tengah menyiapkan pemanfaatan lahan kering dan lahan rawa yang tidak produktif untuk perluasan lahan pertanian. Ketersediaan lahan dan dukungan inovasi teknologi akan meningkatkan produksi pertanian untuk mewujudkan Indonesia sebagai Lumbung Pangan Dunia. BBSDLP beserta unit-unit kerja lingkup Balai Litbang Pertanian memiliki peran yang sangat penting dalam menyukseskan pembangunan pertanian, khususnya dalam inovasi sektor pertanian yang berorientasi pada pertanian moderen.

Pemenuhan kebutuhan pangan untuk mewujudkan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia menjelang tahun 2045 harus ditempuh dengan rencana jangka pendek dan jangka panjang. Rencana jangka pendek dilakukan dengan intensifikasi yaitu peningkatan produksi yang diperoleh dari adanya inovasi teknologi pemupukan dan budidaya serta peningkatan indeks pertanaman dengan penyediaan sumber air, sehingga lahan dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin. Sedangkan untuk rencana jangka panjang adalah dengan melakukan perluasan areal baru atau ekstensifikasi lahan pertanian.

Kepala BBSDLP, Prof. Dr. Dedi Nursyamsi, M.Agr, memaparkan potensi ketersediaan lahan di Indonesia yang diklasifikasikan menjadi lahan kering dan lahan basah. Berdasarkan hasil identifikasi, total lahan rawa pasang surut yang berpotensi menjadi lahan pertanian adalah 3,5 jt hektar, sedangkan lahan rawa lebak sebesar 15 jt hektar, dan untuk lahan kering yang berpotensi untuk menjadi lahan produktif adalah 24 jt hektar. Lahan-lahan tersebut tersebar di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan dan Lampung.

Menteri Pertanian ingin menegaskan dan mengarahkan lebih lanjut bahwa pengembangan lahan baru untuk memenuhi kebutuhan pangan dan lumbung pangan dunia harus diidentifikasi. Sehingga berdasarkan data yang sudah dipaparkan Kepala BBSDLP, pada rapat koordinasi ini Menteri Pertanian mengarahkan untuk melakukan optimalisasi 20 jt hektar lahan kering dan lahan rawa sebagai solusi permanen mendukung terwujudnya ketahanan pangan nasional di Indonesia. Lahan tersebut diyakini memiliki potensi strategis untuk dikembangkan menjadi lahan pertanian produktif sebagai sumber pertumbuhan baru produksi pertanian, “kita meletakan pondasi dari sekarang, kita siapkan untuk generasi kita ke depan. Ini bisa memberi makan 500 juta penduduk Indonesia bahkan sampai satu miliar penduduk masih aman,” paparnya.

Tidak hanya itu, strategi ini juga dianggap mampu mendukung program pengentasan kemiskinan yang menjadi program prioritas pemerintahan Presiden Jokowi. Untuk itu Amran menugaskan kepada para peneliti di Badan Litbang Pertanian agar dalam waktu satu minggu ini membuat peta jalan optimalisasi lahan kering dan rawa sebagai acuan bersama dalam pengelolaan lahan tersebut di Indonesia.

Upaya mengoptimalkan potensi lahan kering dan rawa memerlukan inovasi teknologi yang spesifik, dengan memanfaatkan keunggulan komparatif suatu wilayah dan manajemen air yang tepat. Jika semua potensi yang ada berhasil dioptimalkan, Amran optimis, akan mampu meningkatkan produktivitas pertanian untuk mewujudkan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia 2045. (HNA)

Klik di sini untuk melihat liputan selengkapnya.