Info Terkini

Fenomena La Nina atau curah hujan yang turun secara berlebihan akan menghampiri Indonesia. Hal ini berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), dengan prakiraan intensitas curah hujan akan meningkat sampai 40%.
"Kementerian Pertanian mempunyai langkah antisipasi dalam kesiapan menghadapi dampak La Nina ini dengan selalu melakukan pemantauan dan update perkembangan iklim dan cuaca terutama curah hujan ekstrem, merekomendasikan varietas yang toleran rendaman/ varietas yang cocok pada musim hujan," ujar Dr. Elza Surmaini peneliti Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi-Balitbangtan-Kementan RI

Kompas TV - 17 Oktober 2020 pukul 07.40 WIB

https://youtu.be/I9ojgkgP4Dk 

 

Bertempat di AWR Balitbangtan pada 16 Oktober 2020, Kepala BBSDLP, Dr. Husnain, menjadi salah satu pembicara pada Virtual Side Event yang diselenggarakan International Rice Research Institute (IRRI). Pada kesempatan tersebut Dr Husnain memaparkan “Mapping the Future of Agriculture: The Value of Foresighting in Building Resilient Agriculture Programs”. Virtual Side Event yang merupakan bagian dari IRRI 5-Day Virtual Conference tersebut mengusung tema “Covid-19 and Farmer Livelihoods: Where are the opportunities to future-proof our agri-food systems?”

Pembicara lain pada Virtual Side Event tersebut adalah (1) Deputy Director for Programs CGIAR System Organization, (2) Director for Research IRRI, (3) Regional Head for West Africa Alliance for a Green Revolution in Africa, dan (4) Secretary General World Farmers’ Organization. Event tersebut dimoderatori Nafees Meah, Regional Representative for South Asia, IRRI. 

  

Kepala Badan Pusat Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suhariyanto mengatakan, ekspor sektor pertanian mengalami pertumbuhan positif pada September 2020. Secara bulanan ekspor pertanian September tumbuh 20,84%.

“Beberapa komoditas ekspor hasil pertanian yang naik cukup besar dari Agustus ke Septemberyaitu  produk hortikultura seperti sayuran dan buahan tahunan, kopi, lada, dan udang hasil tangkap,” ucap Suhariyanto dalam konferensi pers secara virtual pada Kamis (15/10).

Secara tahunan sektor pertanian sebesar 16,22%. Komoditas ekspor pertanian yang mengalami penurunan secara tahunan yaitu sarang burung, udang hasil tangkap, sayuran, cengkeh dan lada hitam. Suhariyanto mengatakan kenaikan ekspor pertanian yang konsisten tersebut diiringi dengan penurunan share pertambangan.

“Hal ini menyebabkan share pertanian pelan pelan merangkak naik. Kalau share pertanian terhadap total ekspor September 2019, itu baru sebesar 2,5%, pada September 2020 meningkat 2,95%,” ucap Suhariyanto.

Sementara itu ekspor sektor industri pengolahan juga naik 7,37%  secara bulanan.  Kenaikan ekspor secara bulanan terjadi karena kenaikan harga komoditas mtom berasal dari komoditas besi dan baja, minyak kelapa sawit  serta kendaraan motor roda empat dan lebih. Secara tahunan sektor ini  juga tumbuh 6,61%.  “Komoditas yang mengalami kenaikan yaitu besi dan baja, minyak kelapa sawit, barang perhiasan, peralatan listrik dan logam dasar mulia.” ucapnya. Sektor migas mengalami pertumbuhan positif 17,43% meskipun secara tahunan terjadi kontraksi 12,44%. 

Dari semua sektor hanya sektor pertambangan dan lainnya yang mengalami pertumbuhan negatif baik secara bulanan maupun tahunan.  Secara bulanan terjadi kontraksi 4,10%. Sebab penurunan ekspor  komoditas lignit, batubara maupun bijih logam. Secara tahunan juga terjadi kontraksi sebesar 35,97%.

“Memang share dari tambang terus menurun. Karena permintaan untuk batubara menurun dan penyebabnya, harga batu bara mengalami penurunan cukup dalam, harga batubara dibanding tahun lalu masih tumbuh negatif 17%,” ucapnya.

Catatan BPS menunjukkan secara keseluruhan nilai ekspor mencapai US$ 14,01 miliar. Dengan pertumbuhan bulanan sebesar 6,97% dan secara tahunan menunjukan pertumbuhan negatif  0,51%. Bila dilihat dari struktur, ekspor nonmigas menyumbang 94,98 dari total ekspor September 2020. Ekspor non migas terdiri dari sektor pertanian sebesar 2,95%, sektor industri sebesar 82,54% dan sektor tambang sebesar 9,49%. Sedangkan ekspor migas memberi sumbangsih 5,02% terhadap keseluruhan ekspor.

 

 Editor : Gora Kunjana (This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.)

sumber: investor.id




 
Kalteng- Balitbangtan, melalui Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP), menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Food Estate yang berlokasi di Desa Belanti Siam, Kabupaten Pulang Pisau, Kalteng (11/10/2020). Bimtek yang dihadiri oleh 100 petani yang berasal dari 12 kelompok tani dari Kecamatan Pandi Mulih tersebut dibuka secara resmi oleh Dr. Asmarhansyah, selaku Kepala Bidang Kerjasama dan Pendayagunaan Hasil Penelitian.
Bimtek diawali dengan paparan materi mengenai Tipologi dan Karakteristik Lahan Rawa Pasang Surut, yang disampaikan oleh Dr. I Gusti Made Subiksa dari Balai Penelitian Tanah. Dalam paparanya, Subiksa menjelaskan mengenai tipologi dan karakteristik lahan rawa pasang surut, kriteria, klasifikasi, kedalaman pirit, dampak oksidasi pirit, teknik pengelola tanah dan air, pemilihan benih, serta teknik pemupukan untuk lahan rawa.
 
Materi kedua disampaikan oleh Dr. Etty Pratiwi, peneliti dari Balai Penelitian Tanah. Materi yang dipaparkan adalah Pemanfaaan Seed Treatment Agrimeth di lahan rawa. Agrimeth merupakan pupuk hayati yang berisi mikroba tanah, yang berfungsi meningkatkan serapan hara bagi tanaman. Pupuk hayati sangat diperlukan karena dalam pupuk hayati terdapat mikroba yang mampu menambat nitrogen (N ), melarutkan fosfor (P) dan kalium (K) serta fitohormon yang tidak dimiliki oleh pupuk anorganik. Lebih lanjut, Pratiwi juga menjelaskan secara rinci cara pengaplikasian Agrimeth pada benih padi.
 
Para petani yang mengikuti bimtek ini sangat antusias. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya peserta yang mengajukan pertanyaan dan berkonsultasi kepada narasumber. "Kami berharap kegiatan seperti ini dapat dilaksanakan secara berkelanjutan, sehingga kami bisa lebih paham dengan apa saja yang harus dilakukan dengan lahan kami, dan membuat hasil panel kami jadi lebih baik" ungkap Kartoyo, salah satu anggota dari kelompok tani Sri Makmur.
 
"Melalui Bimtek ini, diharapkan petani dapat memahami tipologi dan karakteristik lahan rawa, yang meliputi tipologi lahan, luapan, kedalaman pirit, kualitas air, dan teknik pengelolaan lahan dan air, dan penggunaan Seed Treatment Agrimeth." ujar Asmarhansyah.( LQ/AH)
 

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP)-Balitbangtan sebagai Balai Penelitian yang berkapasitas dan berkepentingan besar  untuk pengelolaan sumber daya lahan pertanian, berinisiatif untuk menyusun Profil Pertanian Cerdas Iklim – Indonesia. Kegiatan ini dikerjasamakan dengan Allianz Bioversity CIAT (ABC), sebuah lembaga penelitian pertanian international yang  bekerja untuk meningkatkan pertanian untuk negara-negara di Asia termasuk Indonesia.

Bertempat di Badan Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur, dilaksananakan workshop Profil Pertanian Cerdas Iklim ( Climate Smart Agriculture /CSA) pada 21 – 24 September 2020. Peserta workshop terdiri dari 46 orang yang dibagi menjadi 2 topik bahasan yakni Farming System (Sistem Usaha Tani) dan Value Chain Analysis (Analisis Rantai Nilai).

Dalam kesempatan pembukaannya Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Dr. Catur Hermanto mengatakan bahwa pada dasarnya kegiatan tersebut bertujuan merekam dan memotret aktifitas pertanian yang dilakukan oleh para petani yang berkenaan dengan penerapan pertanian cerdas iklim.

“Petani menjadi bagian yang sangat penting dalam kegiatan ini, karenanya informasi yang disampaikan petani hendaknya dapat direkam dengan baik. Selain itu peran para pelaku usaha, pemroses produk pertanian, pedagang saprotan, lembaga keuangan juga sangat penting dalam penerapan CSA,” ungkap Catur.

Gagasan menyusun Profil CSA di Indonesis adalah memberikan gambaran singkat dan menyeluruh tentang status kegiatan CSA dan lingkungannya di negara tertentu.

Profil CSA juga menggambarkan konteks pertanian dan tantangannya di setiap negara. Juga memberikan gambaran tentang masalah utama, tantangan, kendala, peluang, dan faktor pendukung untuk meningkatkan adopsi praktik pertanian cerdas iklim di sepanjang rantai nilai tertentu.

Proses pengumpulan informasi dalam kontex nasional sudah dilaksanakan melalui studi literature dan sumber-sumber terpercaya seperti statistic serta wawancara dan diskusi dengan  nara sumber terkait (dan sekarang dalam tahap penulisan laporan). Kegiatan di tingkat provinsi akan dilaksanakan dengan / untuk provinsi Jawa Timur, NTT dan Sumatera Utara.  Pada hari yang baik ini kita berada di kantor BPTP Jawa Timur akan melakukan lokakarya Profil Pertanian Cerdas Iklim tingkat provinsi yang pertama yakni Jawa Timur. Lokakarya tingkat provinsi ini (seperti sudah saya sebutkan) akan terdiri dari dua lokakarya; (1) Lokakarya sistim pertanian utama provinsi Jawa Timur (dijadwalkan 21-22 september, mulai hari ini); (2) Lokakarya Analisa Rantai Nilai (yang mengangkut komoditas utama Jawa Timur), dijadwalkan tanggal 23-24.

“Konsep CSA mencerminkan keinginan kita untuk meningkatkan integrasi pembangunan pertanian dan ketanggapan iklim. Ini bertujuan untuk mencapai ketahanan pangan dan tujuan pembangunan yang lebih luas di bawah iklim yang berubah dan permintaan pangan yang meningkat.” Ujar Saefoel Bachrie, selaku Kepala Seksi Kerjasama, BBSDLP.

Inisiatif CSA secara berkelanjutan meningkatkan produktivitas, meningkatkan ketahanan, dan mengurangi / menghilangkan gas rumah kaca (GRK), diperlukan perencanaan untuk mengatasi trade=off  (situasi dimana kita harus mengambil keputusan) dan sinergi antara tiga pilar ini: produktivitas, adaptasi, dan mitigasi [FAO, 2012].

Prioritas berbagai negara dan pemangku kepentingan dicerminkan untuk mencapai sistem pangan yang lebih efisien, efektif, dan adil yang mengatasi tantangan lingkungan, sosial, dan ekonomi di seluruh lanskap produktif.

Sebagai tujuan menyeluruh, Profil CSA Indonesia (CP) diharapkan dapat memajukan CSA dalam agenda publik, meningkatkan kesadaran akan pentingnya mendanai investasi yang secara bersamaan mendorong produktivitas, adaptasi, dan mitigasi. Karenanya, CP menyoroti kemungkinan langkah pertama bagi pemerintah Indonesia untuk bergerak menuju investasi yang lebih luas di CSA. Oleh karena itu, CP CSA meletakkan dasar untuk prioritas intervensi dan proses perencanaan untuk meningkatkan CSA. Berdasarkan permintaan dan kebutuhan, penentuan prioritas dan proses. (SB/LQ)

Copyright © 2017 Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian. All Rights Reserved.
Jl. Tentara Pelajar No. 12, Kampus Penelitian Pertanian Cimanggu - Bogor 16114
Telpon: 0251-8323011, 8323012 Fax: 0251-8311256 Email: sekretariatbbsdlp@yahoo.com atau bbsdlp@litbang.pertanian.go.id