Info Terkini

Pengunaan bahan agrokimia seperti pupuk kimia dan pestisida harus terus dikurangi agar lahan pertanian kita terhindar dari pencemaran. Demikian diungkapkan Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian Prof. Dedi Nursyamsi di acara Workshop dan Seminar Internasional di Surakarta kemarin dengan tema "Innovation of Environmental Friendly Agricultural Technology, Supporting Sustainable Food Self-Sufficiency.

Lebih lanjut Dedi mengatakan bahwa penyebarluasan hasil inovasi teknologi pertanian ramah lingkungan dapat dilakukan melalui paket agrowisata (wisata pertanian). "Cara ini diyakini efektif karena selain menyenangkan juga masyarakat bisa melihat langsung praktek pertanian ramah lingkungan di lapangan", ujar Dedi.

Hal itulah yang menjadi pertimbangan Badan Litbang Pertanian mengadakan fieldtrip ke PT. Indo Acidatama Tbk dan Agrowisata Amanah di Karanganyar, Jawa Tengah sebagai rangkaian kegiatan workshop dan seminar international tersebut. Keduanya dikenal sebagai objek agrowisata pertanian ramah lingkungan di Surakarta.

Dr. Asep Nugraha, Kepala Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) mengatakan bahwa fieldtrip ini perlu dilakukan guna menambah pengetahuan masyarakat  tentang pupuk hayati mulai proses pembuatan hingga aplikasinya di lapangan. "Pupuk hayati merupakan inovasi teknologi pertanian ramah lingkungan yang sangat penting", ujar Asep menambahkan.

PT. Indo Acidatama Tbk adalah perusahaan yang bergerak di bidang industri Agro Kimia dengan mengusung konsep ramah lingkungan. Salah satu produk yang dihasilkan berupa pupuk hayati untuk mendukung pertumbuhan tanaman, ternak, dan ikan.

Sugiharto, pembuat pupuk hayati PT. Indo Acidatama Tbk mengatakan bahwa pupuk hayati selain mampu meningkatkan kesuburan dan kesehatan tanah, juga agen hayati yang terkandung di dalamnya mampu mengendapkan residu logam berat tanah sehingga yang terserap oleh tanaman lebih sedikit. "Konsep ini dikenal sebagai bioremediasi", kata Sugiharto.

Objek wisata lainnya adalah Agrowisata Amanah. Objek ini merupakan integrasi pengelolaan tanaman, ternak dan perikanan ramah lingkungan. Eti pemilik objek wisata ini mengatakan bahwa Agrowisata Amanah menerapkan konsep zero waste.

Prinsip dalam konsep ini yaitu memanfaatkan semua limbah yang dihasilkan menjadi pupuk cair dan pakan ikan. “Pupuk cair dan pakan ikan tersebut kita manfaatkan kembali untuk budidaya tanaman dan ikan. Sisa makanan dikumpulkan menjadi satu kemudian kami proses menjadi pakan ikan, sedangkan pupuk cair kami hasilkan dengan mengumpulkan sisa minuman pengunjung, lalu ditambahkan mikroorganisme, difermentasi hingga siap diaplikasikan untuk tanaman ” ujar Eti. (LR/HNA/Balitbangtan)

 

Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong petani menggunakan pestisida nabati untuk menciptakan sistem pertanian ramah lingkungan. Penggunaan pestisida nabati diharapkan dapat meningkatkan produksi pertanian yang lebih ramah lingkungan dan efek negatifnya sangat kecil.

"Pestisida nabati ini merupakan pengganti pestisida sintetis. Secara kebijakan memang belum diimplementasikan, tetapi produk sudah ada," kata Kepala Balai Penelitian Lingkungan Pertanian Kementan RI Asep Nugraha Ardiwinata di sela seminar mengenai Inovasi Teknologi Pertanian Ramah Lingkungan Wujudkan Swasembada Pangan Berkelanjutan di Hotel Alila Solo, Selasa (18/9).

Selama ini, yang menjadi permasalahan sektor pertanian di Indonesia merupakan permasalahan warisan. Menurut dia, sekitar tahun 1960, untuk mengembangkan sektor pertanian, tanah di Jawa banyak terpapar oleh pestisida beracun dan sifatnya persisten.

Efek negatifnya terasa hingga saat ini, di mana tanah akhirnya menjadi kurang subur. Oleh karena itu, seiring dengan berkurangnya dampak negatif tersebut, pihaknya saat ini mengembangkan penggunaan pupuk nabati. "Dengan alternatif pestisida nabati diharapkan pertanian menjadi lebih ramah lingkungan dan efek negatifnya sangat kecil," katanya.

Beberapa bahan yang digunakan untuk membuat pestisida nabati tersebut, di antaranya urin sapi, limbah pertanian seperti bonggol jagung dan sekam padi. Selain itu, dikatakannya, ada beberapa jenis tanaman yang digunakan di antaranya mimba dan berbagai macam rempah seperti jahe dan kunyit.

Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Lahan Pertanian Kementan RI Dedi Nursyamsi mengatakan saat ini Indonesia sudah dapat dikatakan swasembada pangan. "Selama ini kita lebih ke arah kuantitas, dengan prinsip keberlanjutan suka tidak suka kita harus mempertimbangan kualitas. Pasar global ingin produk pertanian berkualitas, aman, bersih, bebas dari residu pestisida. Salah satunya adalah dengan cara menerapkan sistem pertanian ramah lingkungan," katanya.

Ia berharap melalui kegiatan tersebut makin banyak orang yang paham apa itu pestisida nabati dan bagaimana penggunaannya. Dengan demikian, dikatakannya, penggunaan pestisida yang berlebihan dapat dikurangi.

BBSDLP, Harbin, China (12/9/2018). Kesadaran akan pentingnya pelestarian tanah hitam melalui upaya konservasi dan penerapan teknik kelola tanah berkelanjutan mendorong negara-negara anggota PBB, melalui Global Soil Partnership FAO, mengembangkan jejaring yang disebut International Network of Black Soils (INBS) dengan misi "Protect Black Soil, Invest Future". INBS berkeinginan melestarikan tanah hitam ini. Tanah hitam sebagai anugrah yang berharga untuk ketahanan pangan dan nutrisi di tengah kondisi perubahan iklim.

Workshop pertama INBS dilaksanakan di Harbin, China tanggal 12 September 2018 kemarin dihadiri oleh 18 negara, yaitu Argentina, Brazil, Bulgaria, China, Kanada, Indonesia, Irak, Kazakhstan, Moldova, Mozambik, Mongolia, Ukraina, Slovakia, Turki, Rusia, Amerika Serikat, Uruguay, dan Uni Eropa.

Delegasi dari Indonesia pada pertemuan pertama INBS ini adalah Dr. Yiyi Sulaeman, MSc. Yiyi adalah Kepala Bidang Kerjasama dan Pendayagunaan Hasil Penelitian BBSDLP, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Selain juga sebagai peneliti tanah, Yiyi adalah acting National Focal Poin Indonesia untuk GSP.

Workshop ini dipimpin oleh Prof Han, sebagai Chair INBS, dan Dr. Ronald Vargas membahas definisi tanah hitam, tujuan INBS serta rencana kerja INBS. Hasil dari workshop ini dituangkan dalam komunike Deklarasi Harbin.

Deklarasi Harbin pada pokoknya adalah mendorong pengelolaan tanah hitam secara lebih baik lagi agar lestari dan berproduksi tinggi, memonitor status tanah hitam secara global, mendokumentasikan cara kelola yang baik, mendorong peningkatan kesadaran publik tentang pentingnya tanah hitam, saling menukar pengetahuan dan peningkatan kemampuan pengelolaan tanah hitam, dan memperat kolaborasi antar anggota INBS.

"INBS ini adalah suatu kemitraan dan bagian dari Kemitraan Tanah Global. Kita, Indonesia, juga memiliki tanah hitam cukup luas sekitar 5 % dari total tanah nasional, dan berarti penting bagi petani kita. Deklarasi Harbin menguatkan tekad para anggota INBS untuk bisa mengelola tanah hitam secara lebih baik lagi. Pun, kita di Indonesia, mari bersama-sama memanfaatkan tanah hitam untuk aneka usaha pertanian sambil bersama-sama menjaganya dari ancaman kerusakan seperi erosi tanah dan pengurusan hara." pungkas Yiyi. (sb).

Yogyakarta, 5-7 September 2018. Laporan keuangan merupakan salah satu indikator yang menentukan dalam penilaian kinerja pemerintah. Pada TA 2017, Kementerian Pertanian mendapat penilaian laporan keuangan Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Penilaian tersebut diperoleh berkat dukungan satker-satker lingkup Kementan dan harus terus dipertahankan.

Dalam rangka penyusunan laporan keuangan Triwulan III, Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) menyelenggarakan Konsolidasi dan Sikronisasi data keuangan, yang diikuti 38 orang pengelola keuangan (petugas SAI, pengelola BMN, Bendahara, dan PUMK). Kegiatan bertujuan untuk meningkatkan pemahaman, pengetahuan tentang peraturan keuangan dan meningkatkan kerjasama antar pengelola keuangan.

Sasaran utama kegiatan adalah penyempurnaan CALK (catatan atas laporan keuangan) yang selama ini masih dinilai belum maksimal karena data yang disampaikan tidak dilengkapi dengan penjelasan maupun justifikasi. Belum sepenuhnya memenuhi kaidah keuangan seperti : mudah dipahami, prevent misleading information, informasi relevant dan reliable, dan pengungkapan menyeluruh  (full disclosure).

Kegiatan Konsolidasi dan sinkronisasi data keuangan dibuka oleh Kepala BBSDLP, yang diwakili oleh  Dra. Siti Nurjayanti, MSc. Kepala Bagian Tata Usaha BBSDLP.   Nurjayanti mengingatkan bahwa "Laporan keuangan sudah ada aturan bakunya, pengelola keuangan harus mematuhi. Yang diperlukan adalah kecermatan dan penjelasan selengkap-lengkapnya dalam membuat laporan" imbuhnya. Laporan keuangan harus "bunyi". Lebih jauh disampaikan bahwa "pengelola keuangan harus bekerja dengan cermat, disiplin, responsive, dan punya sense of urgency".

Tiga topik utama yang dibahas dalam Konsolidasi dan sinkronisasi data keuangan meliputi pembuatan CALK, rekonsiliasi data BMN, dan penghapusan BMN. Pembahasan juga mencakup aplikasi-aplikasi keuangan yang terkait.

Hasto Satrio Prafitriaji, narasumber dari Kantor Pengelolaan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) menyampaikan tentang  sinkronisasi data Barang Milik Negara (BMN) dan penghapusan BMN. Data BMN harus direkonsiliasi sesuai prosedur Kementerian Keuangan (cara, waktu, dokumen, ADK, aplikasi, dll). BMN merupakan kekayaan negara sehingga harus dikelola dengan baik. Hasto menekankan   "jika ada perubahan data BMN, harus direkon ulang dengan KPKN". Selain itu "satker wajib melakukan rekonsiliasi BMN setiap 6 bulan sekali dengan menyertakan penyusutan" tambahnya.

Untuk perbaikan laporan keuangan lingkup BBSDLP, Aris Dwi Saputra SE, Kasubbag Keuangan  menyampaikan materi tentang cara membuat laporan keuangan  yang benar dan lengkap. Dalam hal tertib administrasi keuangan dan mencegah temuan berulang, Drs. Mujiono, PPK BBSDLP mengingatkan tentang pelaksanaan kegiatan sesuai peraturan Menteri Keuangan, tertib dalam membuat pembukuan, dan kompilasi laporan kegiatan. Untuk meningkatkan kerjasama tim SDM keuangan, Risma Kusumanendra dari Cistal Indonesia Manajemen,  menyampaikan teknik-teknik membangun keharmonisan tim dengan 'positive mindset'.

Para peserta berpartisipasi aktif dan merasakan adanya  'upgrading' pengetahuan dengan adanya kegiatan ini dan bertekad untuk berkontribusi maksimal dalam mempertahankan status laporan keuangan selalu WTP. (NJ/Aris)

Bogor, 07/09/2018. Kunjungan 12 Dosen dan 4 Mahasiswa Jurusan Ilmu Tanah Universitas “Bela Negara” Pembangunan Veteran Yogyakarta (UPN“v”YK) ke BBSDLP dalam rangka mempererat tali silaturahmi. Acara tersebut dibuka oleh Kepala Bidang Kerjasama dan Pendayagunaan Hasil Penelitian (Dr. Yiyi Sulaeman, MSc), dalam sambutannnya Dr. Yiyi menyampaikan ucapan selamat datang dan apresiasinya karena pertama kalinya BBDSLP kedatangan Dosen dalam jumlah yang lebih banyak dibandingkan mahasiswanya. Selain itu Dr. Yiyi menyampaikan kunjungan ini selaras dengan tujuan BBSDLP untuk merangkul unversitas di Indonesia bersama dalam membangun pertanian negeri.

Koordinator Prodi Ilmu Tanah, Dr. Ir. Susila Herlambang MP menyampaikan tujuan UPN”v”YK berkunjung ke BBSDLP adalah pengharapannya UPN”v”YK dapat berkejasama dengan BBSDLP. “UPN”v”YK bersedia menjadi perpanjangan tangan dari Penelitian yang dilakukan oleh Peneliti-peneliti yang ada di BBSDLP” ungkapnya, seraya menambahkan keinginan dalam akhir pertemuan ditandatanginya Perjanjian Kerja Sama (PKS) atau MoU antara UPN”v”YK dengan BBSDLP. Selain itu Dr. Sulisa memperkenalkan staff dosen Jurusan Ilmu Tanah yang terdiri dari  5 Doktor dan 7 Master yang ahli terkait dalam bidang pertanian.

Dalam pertemuan ini BBSDLP menyampaikan hasil-hasil penelitian yang disampaikan oleh Peneliti Senior. Berikut ini merupakan paparan dari peneliti senior Dr. Ir. Markus Anda MSc (Perkembangan Pemetaan Tanah Nasional Skala 1:50.000), Dr. Ir. Sukarman MS (Pemetaan kesesuian Lahan dan Paket RPL (Rekomendasi Pengelolaan Lahan)), Dr. Ir. Wahyunto MSc (Perkembangan Pemetaan lahan Gambut dan updating Lahan gambut Gambut), Dr. I. Wayan Suastika, M.Si (Teknologi  Pengelolaan Lahan berbasis Argoekologi), Ir. Kurmen Sudarman MP (Teknologi Panen Air dan Irigasi Hemat air berbasis DAS untuk Peningkatan IP dan Produksi Pangan), dan Saefoel Bachri Skom. MMSi.

Sebagai tindak lanjut, dalam penutupannya Dr. Yiyi menyampaikan UPN“v”YK dapat menggundang peneliti BBSDLP untuk membagi ilmu, BBSDLP pun terbuka menampung mahasiswa untuk magang, dan kedua belah pihak untuk menyusun draft nota kesepahaman bersama untuk ditandatangani kedua pimpinan instansi. (NM)