Info Terkini

Gorontalo, 6 November 2018. Badan Litbang Pertanian melalui Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) telah menyelesaikan pemetaan tanah semidetail di seluruh kabupaten/kota di Provinsi Gorontalo, termasuk peta-peta tematik turunannya. Oleh karena itu, perlu dilakukan bimbingan teknis dan penyerahan peta-peta tersebut kepada pemerintah daerah termasuk ke 6 kabupaten/kota se-Provinsi Gorontalo untuk mendukung pembangunan pertanian di daerah tersebut.

Dr. Muljady D. Mario selaku Kepala Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo mengatakan, “Peta dengan skala 1:50.000 ini sangat akuntabel untuk digunakan dalam perencanaan”. Kegiatan bimbingan teknis ini  dilaksanakan di Ruang Aula Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo dengan peserta  berasal dari Dinas Pertanian kabupaten kota se Provinsi Gorontalo, serta BPTP Gorontalo.

Data sumberdaya lahan langsung diserahkan kepada perwakilan masing-masing Dinas Pertanian Daerah Provinsi Gorontalo, yakni berupa peta tanah, peta kesesuaian lahan, peta rekomendasi pengelolaan lahan  skala 1:50.000 untuk 6 kabupaten/kota di Provinsi Gorontalo.

"Dengan adanya peta ini maka mulai saat ini kita dapat melakukan perencanaan dengan lebih terukur dan dengan dasar yang jelas," demikian disampaikan oleh Kepala Dinas.

Agar informasi dari peta yang diserahkan dapat dipahami dengan baik, para peserta mendapatkan pelatihan cara membaca peta tanah, peta kesesuaian lahan, dan paket rekomendasi pengelolaan lahan yang disampaikan oleh peneliti BBSDLP yang hadir yaitu Dr. Erna Suryani dan Ir. Anny Mulyani, MS.

Selain itu, para peserta mendapatkan informasi terkait Inovasi Pembangunan Embung dan Implementasinya untuk Pertanian yg disampaikan oleh peneliti Balitklimat, Dr. Nono Sutrisno, dan juga pemaparan terkait sistem informasi yang dikembangkan oleh BBSDLP yang disampaikan oleh Hanifah Nurul ‘Arsy, SP. (HNA)

Menteri pertanian Dr. Andi Amran Sulaiman mengistilahkan lahan rawa dengan mars dan bulan, "kita tidak perlu tanami mars atau bulan kita tanami saja rawa Kalimantan yang jelas jelas masih bumi dan sudah terbukti menghasilkan" ujarnya dengan optimis.

Hal itu karena sebelumnya Amran melihat jagung lahan rawa yang menurut Kepala BPS Kota Banjarbaru memiliki produktivitas lebih 20 t/ha berat kering panen. Amran meyakini produksi tersebut masih bisa ditingkatkan hingga 25 bahkan 30 t/ha. Hal itu disampaikan Amran dalam peringatan Pekan Pertanian Rawa Nasional kedua (PPRN II) di Balittra Banjarbaru, Kalimantan Selatan, 17 Oktober 2018.

Pekan Pertanian Rawa Nasional kedua di Banjarbaru dihadiri 1000 peserta terdiri dari petani, pelajar, akademisi, peneliti, pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, para pengambil keputusan, dan masyarakat umum.
Peringatan pekan pertanian rawa nasional diperingati dengan peresmian Taman Sains Pertanian (TSP) Lahan Rawa seluas 39 hektar yang berada di Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa, Banjarbaru.

Peresmian TSP dilaksanakan sebagai bukti kesiapan Kementerian Pertanian khususnya Badan Litbang Pertanian dalam memberikan dukungan inovasi, teknologi optimalisasi, peningkatan produksi dan produktivitas pertanian di lahan rawa.
Amran berharap TSP lahan rawa menjadi percontohan sistem pertanian rawa di Kalimantan bahkan untuk daerah lain di Indonesia yang memiliki lahan rawa belum termanfaatkan secara optimal.

Menurut data Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian luas lahan rawa seluruh Indonesia sekitar 34,1 juta hektar yang tersebar di 300 kab/kota dari Sumatera hingga Papua dengan potensi pemanfaatan pertanian yang cukup besar salah satunya dibuktikan dengan produksi jagung di atas yang mampu mencapai 20-22 ton per hektar.

Drs. H. Abdul Haris Maki, Sekretaris daerah provinsi Kalimantan Selatan, mengatakan luas lahan rawa Kalimantan Selatan sekitar 900 ribu hektar dimana sekitar 700 sampai 800 ribu hektar berpotensi untuk pengembangan pertanian. “Anjir Tambang dan Anjir Serapah merupakan daerah rawa yang menjadi sentra produksi padi, bahkan beberapa lokasi trasnmigrasi di Kalimantan Selatan dibangun di atas rawa dan mampu menjadi kota kota baru yang berkembang pesat hingga saat ini” ujar Haris. Kalimantan Selatan merupakan salah satu lumbung pangan nasional dengan produksi padi mencapai 2,45 juta ton dan dengan dibukanya lahan rawa di Jejangkit maka produksi padi dapat bertambah sekitar 30 ribu ton. Kata Haris.

Dalam wawancara, Prof. Dr. Dedi Nursyamsi, Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian mengatakan "Pengembangkan sarana prasarana serta teknologi pengelolaan lahan rawa oleh Kementerian Pertanian khususnya Badan Litbang Pertanian menjadi alasan lahan rawa dapat mendukung produksi pangan nasional saat ini dan di masa mendatang" (LR).

Tasikmalaya (25/9/2018). Bimtek Program #Bekerja dan Pengawalan Distribusi Ayam di Cikatomas, Tasikmalaya.

Bimtek Program #Bekerja dilaksanakan di aula Balai Desa Pakemitan, Kecamatan Cikatomas, dikuti 128 RTM dari desa Pakemitan. Bimtek selain dihadiri para calon penerima manfaat, juga hadir pendamping/pembimbing, petugas Puskeswan, PPL, perwakilan Camat Cikatomas dan aparat desa Pakemitan, Cayur, dan Cikumba. Topik utama Bimtek adalah sistem pemeliharaan ayam kampung yang disampaikan oleh Rusli dari Balai Penelitian Ternak.

Dalam paparannya Rusli menyampaikan info lengkap tentang ayam lokal unggul Balitbangtan (KUB-1) dan ayam Sensi-1 Agrinak, dari ciri-ciri fisik, pemeliharaan sampai dengan 4 minggu, pemberian vaksin, pemeliharaan 4-12 minggu, pemeliharaan 10-24 minggu, dan pemeliharaan ayam dewasa produktif. Diinfokan pula tentang ciri-ciri untuk membedakan kondisi ayam yang sehat dan sakit dan cara pencegahan agar yang dipelihara tidak terkena penyakit.

Peserta Bimtek terlihat antusias mengikuti Bimtek. Untuk mengetahui pemahaman peserta, Pak Apep Saifurahman dari Puskeswan Cikatomas mentest peserta dengan memberikan beberapa pertanyaan tentang cara pemeliharaan dan kandang, yang dapat dijawab peserta dengan baik. Bagi peserta yang masih belum mengerti betul, tidak perlu khawatir karena bimbingan teknis akan diberikan tidak hanya saat pertemuan. Tenaga pendamping, PPL, dan dari Puskeswan siap sedia memberikan bimbingan.

Peserta seolah-olah tak sabar untuk segera memperoleh bantuan ayam tersebut dan memelihara serta mengembangkannya. Nurjayanti, mewakili Pj Program #Bekerja Kabupaten Tasikmalaya/Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian ketika menanyakan kesiapan peserta dijawab dengan penuh semangat bahwa mereka sangat siap dan yakin akan bisa memelihara dan mengembangkan ayam-ayam bantuan dari Kementan tersebut. Pak Umar, seorang buruh tani yang telah berusia 80 tahun tak mau ketinggalan, bahkan terlihat rajin mencatat dan memperhatikan dengan seksama setiap penjelasan dari narasumber. “Saya sangat siap dan bersyukur dengan bantuan ayam ini dan nanti memelihara ayamnya akan dibantu anak saya” jelasnya ketika ditanya tentang kesiapannya.

Kegiatan Bimtek ditindaklanjuti dengan distribusi ayam pada esok hari, 26 September 2018. Bantuan ayam akan diserahkan untuk RTM di desa Pakemitan, Cayur, dan Cilumba, kecamatan Cikatomas, Tasikmalaya (Nj/Smn).

 

BBSDLP, Medan. 27/9/2018. Karya riset BBSDLP kembali dikenal di civitas akademika Universitas Sumatera Utara. Itu dicapai setelah acara kuliah umum SISULTAN didepan para mahasiswa dan dosesn Fakultas Pertanian USU. Dr. Yiyi Sulaeman, sebagai pemateri BBSDLP memaparkam tentang SISULTAN. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Program Doktor Ilmu Pertanian, Program Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

Ketua Program Studi, Prof. Ir. Edison Purba, PhD, dalam sambutannya menyampaikan terima kasih atas kehadiran pemateri dan memyampaikan rasa gembira karena tema kuliah umum ini yang sangat baru di lingkungan kampus. Kuliah umum ini akan memberikan wawasan baru dalam pengembangan sistem dan juga perencanaan dan pengelolaan sumberdaya lahan pertanian.

Dalam paparannya, Dr. Yiyi Sulaeman yang juga Kepala Bidang KSPHP BBSDLP, membagi materi yang meliputi arti penting sistem informasi. Sistem informasi disusun oleh 4 komponen utama dan merupakan bagian dari sistem riset. Aplikasi sistem informasi berupaya mempercepat waktu, mengelola data dan mengantarkan informasi kepada masyarakat. "SISULTAN ini adalah sistem informasi yang mengantarkan informasi ke masyarakat sehingga masyarakat dapat dengan cepat dan mudah mengetahui tanah dan lahannya", kata Yiyi.

Setelah membahas arti penting sistem informasi, Yiyi memaparkan tentang perkembangan pemetaan tanah nasional berupa cakupan wilayah dan detil informasinya, pemaketan informasi peta, pengelolaan data peta hingga penurunan peta-peta baru dari peta tanah yang ada.

Pembahasan SISULTAN adalah materi utama dimana para peserta diajak untuk membuka aplikasi dan eksplorasi data yang ada di dalamnya. "Para pengguna boleh menampilkan peta-peta dalam aplikasi dengan menggunakan fasilitas servis yang tersedia di menu utama. Silahkan coba dan manfaatkan oleh Bapak dan Ibu," ungkap Yiyi.

Dipandu oleh Prof. Tengku Sabrina, sebagai moderator, acara diskusi cukup menarik. Pertanyaan yang dilontarkan mengapresiasi dan menyambut gembira aplikasi SISULTAN ini. Pertanyaan teknis pun bermunculan dan semuanya dan didiskusikan secara lebih baik dan ilmiah.

SISULTAN adalah kependekan dari Sistem Informasi Sumberdaya Lahan Pertanian. Ini adalah aplikasi webGIS yang dikembangkan oleh BBSDLP untuk memudahkan pencarian informasi peta-peta tanah nasional. (AM)

Pengunaan bahan agrokimia seperti pupuk kimia dan pestisida harus terus dikurangi agar lahan pertanian kita terhindar dari pencemaran. Demikian diungkapkan Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian Prof. Dedi Nursyamsi di acara Workshop dan Seminar Internasional di Surakarta kemarin dengan tema "Innovation of Environmental Friendly Agricultural Technology, Supporting Sustainable Food Self-Sufficiency.

Lebih lanjut Dedi mengatakan bahwa penyebarluasan hasil inovasi teknologi pertanian ramah lingkungan dapat dilakukan melalui paket agrowisata (wisata pertanian). "Cara ini diyakini efektif karena selain menyenangkan juga masyarakat bisa melihat langsung praktek pertanian ramah lingkungan di lapangan", ujar Dedi.

Hal itulah yang menjadi pertimbangan Badan Litbang Pertanian mengadakan fieldtrip ke PT. Indo Acidatama Tbk dan Agrowisata Amanah di Karanganyar, Jawa Tengah sebagai rangkaian kegiatan workshop dan seminar international tersebut. Keduanya dikenal sebagai objek agrowisata pertanian ramah lingkungan di Surakarta.

Dr. Asep Nugraha, Kepala Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) mengatakan bahwa fieldtrip ini perlu dilakukan guna menambah pengetahuan masyarakat  tentang pupuk hayati mulai proses pembuatan hingga aplikasinya di lapangan. "Pupuk hayati merupakan inovasi teknologi pertanian ramah lingkungan yang sangat penting", ujar Asep menambahkan.

PT. Indo Acidatama Tbk adalah perusahaan yang bergerak di bidang industri Agro Kimia dengan mengusung konsep ramah lingkungan. Salah satu produk yang dihasilkan berupa pupuk hayati untuk mendukung pertumbuhan tanaman, ternak, dan ikan.

Sugiharto, pembuat pupuk hayati PT. Indo Acidatama Tbk mengatakan bahwa pupuk hayati selain mampu meningkatkan kesuburan dan kesehatan tanah, juga agen hayati yang terkandung di dalamnya mampu mengendapkan residu logam berat tanah sehingga yang terserap oleh tanaman lebih sedikit. "Konsep ini dikenal sebagai bioremediasi", kata Sugiharto.

Objek wisata lainnya adalah Agrowisata Amanah. Objek ini merupakan integrasi pengelolaan tanaman, ternak dan perikanan ramah lingkungan. Eti pemilik objek wisata ini mengatakan bahwa Agrowisata Amanah menerapkan konsep zero waste.

Prinsip dalam konsep ini yaitu memanfaatkan semua limbah yang dihasilkan menjadi pupuk cair dan pakan ikan. “Pupuk cair dan pakan ikan tersebut kita manfaatkan kembali untuk budidaya tanaman dan ikan. Sisa makanan dikumpulkan menjadi satu kemudian kami proses menjadi pakan ikan, sedangkan pupuk cair kami hasilkan dengan mengumpulkan sisa minuman pengunjung, lalu ditambahkan mikroorganisme, difermentasi hingga siap diaplikasikan untuk tanaman ” ujar Eti. (LR/HNA/Balitbangtan)