Info Terkini

Bogor (12/02/2018). Penggunaan jurnal elektronik untuk Terbitan Berkala Ilmiah (TBI) merupakan syarat utama dalam akreditasi. Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) mengelola dua terbitan berkala ilmiah, yakni Jurnal Tanah dan Iklim (JTI) dan Jurnal Sumberdaya Lahan (JSDL). Dalam rangka mempersiapkan akreditasi, BBSDLP mengikuti workshop pengelolaan jurnal elektronik yang diselenggarakan oleh Badan Litbang Pertanian.

Workshop yang dihadiri oleh perwakilan dari 18 TBI yang ada di lingkup Badan Litbang Pertanian ini diselenggarakan di Bogor pada tanggal 12-14 Februari 2018. Dalam kegiatan workshop ini dihadirkan narasumber dari LIPI dan tim penilai akreditasi, peserta bersama-sama mempersiapkan aplikasi secara matang dan melakukan sharing pengalaman dan knowledge.

Prof. Supriadi sebagai anggota tim penilai menyampaikan bahwa penggunaan OJS (Online Journal System) merupakan bobot penilaian utama dalam akreditasi TBI. “Meningkatkan peran dan komitmen menjadi hal utama, perhatian dan komitmen pimpinan dalam pengelolaan jurnal juga sangat penting, pemahaman antara pimpinan dengan dewan redaksi harus sejalan,” ungkapnya.

Dalam workshop ini disampaikan jadwal akreditasi untuk masing-masing TBI, untuk JTI proses akreditasi dilaksanakan pada tahun 2018 sedangkan JSDL pada tahun 2019. Proses akreditasi dilakukan penilaian terhadap 4 nomor terbitan jurnal yang seluruhnya harus telah menggunakan OJS secara keseluruhan. Terdapat 15 fitur yang akan dinilai oleh tim akreditasi, yang kemudian menjadi hal utama yang harus diperhatikan oleh pengelola jurnal.

Hasil review dari narasumber menyatakan bahwa perlu adanya peningkatan kualitas dari karya tulis ilmiah dan perlu ditingkatkan kemampuan majemen dari dewan redaksi. Penggunaan pustaka otomatis seperti Mendeley dan Grammarely juga menjadi penting dan menambah poin penilaian. Peningkatan peran mitrabestari yang berkualifikasi internasional dan kerjasama dengan lembaga atau organisasi profesi selain menambah poin penilaian juga tentunya akan meningkatkan kualitas karya tulis.

Penggunaan jurnal elektronik sebagai impact recognation, yakni diharapkan agar tidak hanya sebagai halte untuk karya-karya peneliti, penyuluh, dan litkayasa di lingkup Litbang ataupun kementerian tetapi juga dapat bermanfaat bagi masyarakat luas. BBSDLP sepenuhnya mendukung kegiatan pengelolaan jurnal elektronik yang memuat hasil-hasil penelitian yang berkaitan dengan aspek lahan/tanah, air, iklim, dan lingkungan. (NK)

Jurnal Elektronik BBSDLP dapat diakses disini :

Jurnal Tanah dan Iklim

Jurnal Sumberdaya Lahan

Badan Litbang Pertanian telah menghasilkan berbagai produk inovasi yang telah dilisensi. Untuk kepentingan produksi maka dikerjasamakan dengan pihak swasta. Hingga Desember 2017 terdapat 225 lisensi yang dikerjasamakan, 148 lisensi berstatus aktif dan sisanya memerlukan perpanjangan.

Untuk menjaga mutu, ketersediaan, keberlangsungan produk, dan ketersediaan bahan baku, maka setiap mitra kejasama sekaligus sebagai produsen memerlukan pendampingan dan pengawasan. Pengawasan dan verifikasi yang dilakukan meliputi proses produksi, jumlah dan target produksi, pengguna, pengembangan produk, teknik promosi, dan bahan baku produk.

Terkait dengan produk inovasi, pada kesempatan berbeda  Kepala Badan Litbang Pertanian, Dr. M. Syakir  Syakir menyampaikan Balitbangtan banyak memiliki produk teknologi unggulan, namun agar produk tersebut dapat dikenal luas masyarakat perlu pihak lain untuk memproduksi secara masal. “Kerjasama lisensi bertujuan agar teknologi tersebut dapat dibuat secara cepat dan masal. Karenanya perlu evaluasi terhadap perjanjian lisensi secara reguler untuk menjaga kualitas dan volume” tandas Syakir.

Verifikasi dan  evaluasi dilakukan terhadap produk Biobus, BioAgrometh, dan Bioagrodeko berlangsung pada 7 Februari 2018 bertempat di Pabrik PT. BIONUSA, Purwakarta. Bertindak sebagai verifikator adalah Miyike Triana, SP, Morina Pasaribu, SP (BPATP), Saefoel Bachri, S. Kom, MMSI (BBSDLP), Ijang (Balittanah),  dan ketiga inventor produk yakni Dr. Surono (Biobus), Dr. Etty Pratiwi (BioAgrimeth), dan Dr. Selly Salma (BioAgrodeko).  

Ketiga produk tersebut merupakan produk unggulan Badan Litbang Pertanian yang telah terbukti dapat meningkatkan produksi.

Biobus adalah pupuk hayati secara khusus berfungsi meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas tanaman kedelai, dengan manfaat: menambat N2 udara, meningkatkan ketersediaan hara P-tanah, meningkatkan ketahanan tanaman (anti patogen), serta mamacu pertumbuhan, pembungaan, dan pemasakan. Sedangkan BioAgrimeth adalah pupuk hayati yang berfungsi meningkatkan pertumbuhan dan produktifitas tanaman (padi dan kedelai), hortikultura (cabe dan sayuran), serta tanaman perkebunan (tebu).

BioAgrodeko adalah biodekomposer yang berfungsi mempercepat pelapukan (dekomposisi) biomassa tanaman. Penggunaan produk ini pada blotong (limbah pabrik gula) sangat efektif menghambat pertumbuhan mikroba patogen dan mengurangi bau busuk. Produk ini sangat mudah penggunaannya dilakukan oleh petani.

Ketiga inventor produk di atas menekankan perlunya menjaga kualitas, kelangsungan dan ketersediaan produk. Biobus sebagai salah satu produk unggulan pada tahun 2017 telah diproduksi sebanyak 217.679 sachet, sedangkan BioAgrimeth dan BioAgrodeko akan mulai diproduksi tahun 2018 dengan target masing-masing sebesar 200.000 sachet dan 40.000 kg.

Meskipun masih diproduksi dalam skala relatif kecil, namun menurut Selly kanal pengembangan dan promosi produk saat ini sangat terbuka antara lain melalui Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) yang berada di 33 provinsi sebagai show window produk. Karenanya Selly menekankan perlunya kerjasama pihak produsen dengan para peneliti dan penyuluh yang ada BPTP untuk lebih memperkenalkan produk tersebut. Sementara itu Etty Pratiwi dan Surono menekankan perlunya menjaga pasokan bahan baku produk untuk menjaga kelangsungan produk, terutama saat permintaan tinggi.

Dari aspek promosi, pemanfaatan media online dan media media sosial seperti Facebook, Twitter, Youtube, dan Instagram bisa mendorong produk menjadi lebih dikenal masyarakat (SB/Feb/2018).

Bogor. Pemantauan lahan pertanian secara spasial semakin penting khususnya untuk prediksi waktu dan tempat panen serta kejadian gangguan pertanaman seperti kebanjiran. Teknologi Drone dari udara dikombinasikan dengan Open Camera dari darat menghasilkan informasi yang bermanfaat untuk menjawab keperluan tersebut. Tim BBSDLP telah menggunakan kedua teknik itu untuk pemantauan waktu dan lokasi panen di 6 kabupaten.

Drone, kata itu sudah tidak asing lagi saat ini. Drone adalah pesawat nirawak (unmanned aerial vehicle) yang mampu mengendalikan dirinya sendiri atau dikendalikan oleh pilot dari jarak jauh/secara remote. Secara fisik drone menyerupai pesawat terbang, mirip helikopter atau berdesain multirotor. Drone dibedakan atas drone mainan, drone konsumer, drone professional, drone militer, drone industrial, drone penelitian,dan drone internet. Untuk pemantauan lahan pertanian, drone konsumer tipe multirotor telah diujicobakan di beberapa daerah.

Identifikasi lahan sawah siap panen dan sebaranya sangat diperlukan untuk perencanaan stok padi ataupun perencanaan jadwal panen, yang merupakan informasi dasar bagi kebijakan-kebijakan lainnya. Teknik pengumpulan data yang biasa dilakukan adalah petugas mengunjungi lokasi kemudian memotret areal lahan yang siap dipanen menggunakan open camera.  Open camera adalah aplikasi kamera berbasis android yang dapat diinstall dalam smartphone. Open camera ini bisa disetting posisi geografisnya. Tujuannya adalah untuk memberikan informasi kepada pengambil kebijakan tentang kondisi lahan yang akan dipanen.

Menggunakan open camera, pengambil kebijakan dapat mengetahui posisi geografis areal calon, kondisi pertumbuhan, elevasi, dan tanggal serta jam pengambilan. Dengan posisi koordinat ini, foto dapat dimasukkan ke dalam perangkat aplikasi sistem informasi geografis untuk analisis lebih lanjut.

Meskipun foto-foto open camera bagus dalam menyediakan possisi dan kondisi pertanaman jarak dekat, namun hasil tidak dapat memberikan gambaran yang lebih baik tentang sebaran lahan. Sebuah drone diperlukan dan pemotretan dilakukan dari udara pada ketinggian maksimum 200 meter di atas permukaan lahan.

Akhir-akhir ini Tim BBSDLP dipercaya untuk melakukan identifikasi areal lahan sawah yang siap panen. Dimana, kapan, seberapa luas adalah 3 pertanyaan yang wajib dijawab. Informasi lainnya adalah varietas yang ditanam, produktivitas dan harga tertinggi dan harga yang terendah di lokasi panen. Tim BBSDLP mengoperasikan drone dan open camera. Drone tidak hanya untuk memotret areal namun juga melakukan pengambilan video sehingga diperoleh pemahaman yang detil dan terkini tentang kondisi lahannya. Tim telah melakukan pemotretan dengan kedua piranti ini di Kabupaten Kerawang, Subang, Purwakarta, Pandeglang, Serang, dan Garut.

Penerapan kedua teknik dan alat ini untuk pemotretan dan pengambilan video juga dikembangkan untuk pemantauan kejadian bencana seperti banjir di lahan pertanian. Tim BBSDLP juga mencoba teknik ini untuk memantau sebaran genangan banjir sementara yang menggenangi lahan persawahan.

Penggunaan drone di udara dan open camera di daratan merupakan kombinasi yang serasi untuk pemantauan kondisi lahan khususnya identifikasi areal lahan siap panen untuk pembuatan peta jadwal panen maupun untuk identifikasi areal yang mengalami gangguan banjir. Pengalaman tim BBSDLP menerapkan teknologi ini di beberapa lokasi dengan agroekosistem yang berbeda memberikan masukan akan potensi kedua alat ini untuk identifikasi cepat dan real time. Penelitian lanjutan diperlukan khsusunya untuk penggunaan kamera multispektral dan penggunaan lainnya. (yy)

BOGOR - Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) mendapat kunjungan rutin dari Universitas Garut pada hari Senin, 29 Januari 2018. Bertempat di Ruang Agrosinema diterima oleh Kabag TU BBSDLP (Ir. Nurjayanti, M.Sc.) yang juga merupakan perwakilan dari Ka BBSDLP.

Kabag TU meyampaikan dengan diadakannya kunjungan ini diharapkan dapat membawa pengalaman, pemahaman, dan pengetahuan yang baru terkait kesuburan tanah.

“Bekali ilmu yang bermanfaat seperti dalam empat pilar pendidikan: Learning  to Know (belajar mengetahui), Learning to be (belajar menjadi sesuatu), Learning to Do (belajar melakukan sesuatu), Learning to Live Together (belajar hidup bersama)”, sambut  Wakil Dekan I Fakultas Pertanian Universitas Garut Ir. Atak Tauhid, M.P yang didampingi oleh beberapa dosen universitas.

Rombongan mahasiswa yang berstatus semester 3 jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian berjumlah 97 orang. Dalam kegiatan ini, mahasiswa diberi materi oleh Ir. Joko Purnomo, M.Si (Peneliti Balittanah, Bidang Kimia dan Kesuburan Tanah) mengenai Pupuk Berimbang yang kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi. Selanjutnya rombongan melakukan kunjungan ke Laboratorium Tanah, Fisika, dan Mikrobiologi.

“Belajar jadi lebih menarik dan real karena disini pusat penelitiannya. Setelah mendapatkan materi, jadi lebih mengetahui bahwa kesuburan tanah itu sangat penting terutama dari segi pemupukan”, ungkap Apung Dian Haryani, Mahasiswi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Garut yang berharap bisa membantu petani di Kabupaten Garut agar lebih baik lagi. (AM)

Bogor, 24 Januari 2018. Pemanfaatan lahan gambut di Indonesia berkembang semakin pesat, baik untuk fungsi budidaya maupun fungsi lindung. Namun, bencana kebakaran lahan gambut yang terjadi beberapa tahun terakhir sangat menyita perhatian dunia dan memerlukan solusi yang tepat dalam mengatasinya. Dalam rangka percepatan pemulihan kawasan gambut tersebut, secara khusus maka dibentuklah Badan Restorasi Gambut (BRG) berdasarkan Perpres 1/2016.

“BRG sebagai institusi baru tentu saja belum bisa bekerja sendiri, sehingga perlu adanya kerjasama dengan institusi lain khususnya BBSDLP dalam menjalankan fungsinya melakukan inventarisasi dan pemetaan lahan gambut,” ungkap Noviar.

Guna menghindari kesimpangsiuran data, terutama lokasi lahan gambut, BRG kemudian melakukan pertemuan untuk membangun kerjasama dengan BBSDLP. Rencana kerjasama BBSDLP dengan BRG ini terfokus pada kegiatan supervisi, terkait BBSDLP sebagai wali data lahan gambut di Indonesia perlu melakukan pengawalan dalam proses inventarisasi yang dilakukan oleh institusi lain.

Dalam paparan Noviar menyampaikan pelaksanaan inventarisasi Ekosistem Gambut dilakukan untuk memperoleh peningkatan ketelitian dan intensitas atau tingkat kedalaman data/informasi peta Ekosistem Gambut dengan menggunakan peta ruma bumi, peta interpretasi penginderaan jauh resolusi tinggi, dan hasil survei lapangan. Pada prinsipnya survei dilakukan dengan pengecekan terhadap 13 karakteristik yang disediakan untuk memperoleh data ekosistem gambut.

Target restorasi gambut hingga tahun 2020 adalah seluas 2.492.523 ha yang mencakup 104 Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG). Sedangkan pada tahun 2018 sasaran kegiatan rencana restorasi mencakup 24 KHG yang tersebar di 5 Provinsi yaitu Riau, Jambi, Sumsel, Kalbar, dan Kalteng.

Sesi diskusi berlangsung menarik dimana seluruh peneliti yang hadir memberikan pertanyaan dan saran secara interaktif kepada pihak BRG. Pertanyaan umumnya mengarah pada keselarasan teknik survei dan cek lapangan serta kesepakatan mengenai pendelenasian KHG dari masing-masing instansi.

“Hasil dari pertemuan ini sementinya merupakan juknis yang berisi metodologi yang benar-benar sudah fixed, ke-13 parameter harus dilengkapi baik dari aspek tanah maupun lingkungan, kemudian teknis supervisi yang dilakukan oleh BBSDLP sebaiknya adalah teknik pemetaan di lapangan maupun teknis pembuatan petanya,” ungkap Dr. Erna Suryani salah satu peneliti BBSDLP.

Rencana tindak lanjut dari pertemuan ini adalah penyelesaian Kerangka Acuan Kerja (KAK) inventarisasi dan supervisi pemetaan lahan gambut oleh Tim BBSDLP, yang diharapkan dapat digunakan langsung pada tahun 2018, sehingga inventarisasi dan restorasi gambut dapat berjalan selaras dan sesuai dengan taget waktu penyelesaian. (NK)