Info Terkini

Karawang, 9 Januari 2019. Mengawali kegiatan 2019, Kementerian Pertanian melalui Badan Litbang Pertanian dan Pemda Kab. Karawang melakukan kegiatan kunjungan lapang dan diskusi terkait demfarm (demo farm) pengembangan pertanian korporasi yang berlokasi di Kecamatan Jayakerta Kab. Karawang.

Kegiatan demfarm yang dimulai sejak 2017 merupakan kegiatan kerjasama antara Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian dan Pemerintah Taiwan. Kegiatan ini direncanakan mengelola lahan milik berbagai kelompok tani setempat seluas 1.000 hektar.

Pada kesempatan kunjungan lapang dan diskusi hadir Duta Besar Taiwan, dan 9 orang delegasi Tim Ahli Taiwan meliputi berbagai bidang keahlian. Dari pihak Indonesia hadir para peneliti Badan Litbang Pertanian dari Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP), Balai Besar Pasca Panen, Balai Besar Penelitian Padi, Balai Besar Mekanisasi Pertanian, Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Balai Penelitian Ternak, Pusat Penelitian Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian (PSEKP). Sedangkan dari Pemda Kabupaten Karawawang hadir Kepala Dinas Kabupaten Karawang, para kepala Bidang dan staf Dinas Pertanian, serta sejumlah staf Biro Kerjasama Luar Negeri Kemtan.

Pada kesempatan pembukaan diskusi Kepala Biro Kerjasama Luar Negeri Kementerian Pertanian, Ir. Mesakh Tarigan menyampaikan ucapan terima kasih kepada Tim Taiwanatas kerjasama yang telah dilakukan dan mengharapkan agar kerja sama antara tersebut menjadi lebih kuat lagi untuk mendukung pengembangan program swasembada pangan di Indonesia.

Ketika melihat situasi dan turun ke lapangan Mesakh merasa puas,  namun ada hal yang perlu dipertimbangkan kembali untuk ke depannya. “Hubungan dengan pemda setempat dan agar strategi yang dijalankan sudah sangat baik, namun dari segi administrasi masih membutuhkan dukungan dari Pemda Karawang,” ungkap Mesakh. Kementan melalui Biro KLN akan mendukung penuh dan lebih fokus merealisasikan kegiatan ini

Pada kesempatan yang sama Kepala Dinas Pertanian, Ir. H. Hanafi mengungkapkan dukungan sepenuhnya pada program ini.

"Kondisi Kabupaten Karawang saat ini menjadi kawasan industri paling luas di Jawa Barat berdampak menurunnya minat SDM yang bekerja pada sektor pertanian. Dengan adanya program ini diharapkan bisa mendorong dan meningkatkan minat masyarakat untuk bekerja di sektor pertanian" ungkap Hanafi.

Selanjutnya Hanafi menambahkan dengan kondisi SDM yang ada maka diperlukan bimbingan teknis atau training dari pihak Taiwan agar dapat meningkatkan kemampuan teknis mereka dalam menerapkan pertanian korporasi modern yang pada akhirnya akan berdampak pada pengembangan pertanian di Kabupaten Karawang.

Tim Ahli Taiwan dari Taipei Economic Trade Office (TETO) yang diwakili Mr. Paong menyampaikan dukungannya terhadap pengembangan demfarm korporasi ini. Selain itu, turut hadir dalam acara kunjungan lapang dan workshop dari Tim Taiwan Council of Agriculture (COA).

Dalam kunjungan lapang ini, Tim Teknis Kementerian Pertanian dan Tim Ahli Taiwan dibagi menjadi 5 kelompok berdasarkan bidang/grup kegiatan yakni 1) Budidaya padi, mekanisasi, dan irigasi, 2) Pertanian Sayuran dan Hortikultura mengunjungi Desa Medang Asem, 3) Budidaya Itik desa Kampung Sawah, 4) Pasca Panen mengunjungi Desa Jayakerta, dan 5) Kelembagaan dan organisasi kelompok tani Farmer Organization mengunjungi Desa Cipta Marga

Pasca kunjungan lapang dilakukan diskusi intensif tentang hasil kunjungan masing-masing kelompok/topik. Pembahasan diskusi meliputi masalah aktual yang ditemukan di lapangan, rencana kegiatan tahun 2019, serta aspek-aspek yang disepakati kedua belah pihak dalam kegiatan  yang akan dilaksanakan pada tahun 2019 yang meliputi perencanaan fisik, kegiatan, anggaran dan sumber pembiayaan.

Kedua belah pihak menilai capaian kegiatan yang telah dilakukan sudah cukup baik, namun perlu terus ditingkatkan untuk mendapatkan hasil yang lebih optimal sesuai sasaran yang telah ditentukan (AM/SB/YS)

Gorontalo, 6 November 2018. Badan Litbang Pertanian melalui Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) telah menyelesaikan pemetaan tanah semidetail di seluruh kabupaten/kota di Provinsi Gorontalo, termasuk peta-peta tematik turunannya. Oleh karena itu, perlu dilakukan bimbingan teknis dan penyerahan peta-peta tersebut kepada pemerintah daerah termasuk ke 6 kabupaten/kota se-Provinsi Gorontalo untuk mendukung pembangunan pertanian di daerah tersebut.

Dr. Muljady D. Mario selaku Kepala Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo mengatakan, “Peta dengan skala 1:50.000 ini sangat akuntabel untuk digunakan dalam perencanaan”. Kegiatan bimbingan teknis ini  dilaksanakan di Ruang Aula Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo dengan peserta  berasal dari Dinas Pertanian kabupaten kota se Provinsi Gorontalo, serta BPTP Gorontalo.

Data sumberdaya lahan langsung diserahkan kepada perwakilan masing-masing Dinas Pertanian Daerah Provinsi Gorontalo, yakni berupa peta tanah, peta kesesuaian lahan, peta rekomendasi pengelolaan lahan  skala 1:50.000 untuk 6 kabupaten/kota di Provinsi Gorontalo.

"Dengan adanya peta ini maka mulai saat ini kita dapat melakukan perencanaan dengan lebih terukur dan dengan dasar yang jelas," demikian disampaikan oleh Kepala Dinas.

Agar informasi dari peta yang diserahkan dapat dipahami dengan baik, para peserta mendapatkan pelatihan cara membaca peta tanah, peta kesesuaian lahan, dan paket rekomendasi pengelolaan lahan yang disampaikan oleh peneliti BBSDLP yang hadir yaitu Dr. Erna Suryani dan Ir. Anny Mulyani, MS.

Selain itu, para peserta mendapatkan informasi terkait Inovasi Pembangunan Embung dan Implementasinya untuk Pertanian yg disampaikan oleh peneliti Balitklimat, Dr. Nono Sutrisno, dan juga pemaparan terkait sistem informasi yang dikembangkan oleh BBSDLP yang disampaikan oleh Hanifah Nurul ‘Arsy, SP. (HNA)

Menteri pertanian Dr. Andi Amran Sulaiman mengistilahkan lahan rawa dengan mars dan bulan, "kita tidak perlu tanami mars atau bulan kita tanami saja rawa Kalimantan yang jelas jelas masih bumi dan sudah terbukti menghasilkan" ujarnya dengan optimis.

Hal itu karena sebelumnya Amran melihat jagung lahan rawa yang menurut Kepala BPS Kota Banjarbaru memiliki produktivitas lebih 20 t/ha berat kering panen. Amran meyakini produksi tersebut masih bisa ditingkatkan hingga 25 bahkan 30 t/ha. Hal itu disampaikan Amran dalam peringatan Pekan Pertanian Rawa Nasional kedua (PPRN II) di Balittra Banjarbaru, Kalimantan Selatan, 17 Oktober 2018.

Pekan Pertanian Rawa Nasional kedua di Banjarbaru dihadiri 1000 peserta terdiri dari petani, pelajar, akademisi, peneliti, pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, para pengambil keputusan, dan masyarakat umum.
Peringatan pekan pertanian rawa nasional diperingati dengan peresmian Taman Sains Pertanian (TSP) Lahan Rawa seluas 39 hektar yang berada di Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa, Banjarbaru.

Peresmian TSP dilaksanakan sebagai bukti kesiapan Kementerian Pertanian khususnya Badan Litbang Pertanian dalam memberikan dukungan inovasi, teknologi optimalisasi, peningkatan produksi dan produktivitas pertanian di lahan rawa.
Amran berharap TSP lahan rawa menjadi percontohan sistem pertanian rawa di Kalimantan bahkan untuk daerah lain di Indonesia yang memiliki lahan rawa belum termanfaatkan secara optimal.

Menurut data Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian luas lahan rawa seluruh Indonesia sekitar 34,1 juta hektar yang tersebar di 300 kab/kota dari Sumatera hingga Papua dengan potensi pemanfaatan pertanian yang cukup besar salah satunya dibuktikan dengan produksi jagung di atas yang mampu mencapai 20-22 ton per hektar.

Drs. H. Abdul Haris Maki, Sekretaris daerah provinsi Kalimantan Selatan, mengatakan luas lahan rawa Kalimantan Selatan sekitar 900 ribu hektar dimana sekitar 700 sampai 800 ribu hektar berpotensi untuk pengembangan pertanian. “Anjir Tambang dan Anjir Serapah merupakan daerah rawa yang menjadi sentra produksi padi, bahkan beberapa lokasi trasnmigrasi di Kalimantan Selatan dibangun di atas rawa dan mampu menjadi kota kota baru yang berkembang pesat hingga saat ini” ujar Haris. Kalimantan Selatan merupakan salah satu lumbung pangan nasional dengan produksi padi mencapai 2,45 juta ton dan dengan dibukanya lahan rawa di Jejangkit maka produksi padi dapat bertambah sekitar 30 ribu ton. Kata Haris.

Dalam wawancara, Prof. Dr. Dedi Nursyamsi, Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian mengatakan "Pengembangkan sarana prasarana serta teknologi pengelolaan lahan rawa oleh Kementerian Pertanian khususnya Badan Litbang Pertanian menjadi alasan lahan rawa dapat mendukung produksi pangan nasional saat ini dan di masa mendatang" (LR).

Tasikmalaya (25/9/2018). Bimtek Program #Bekerja dan Pengawalan Distribusi Ayam di Cikatomas, Tasikmalaya.

Bimtek Program #Bekerja dilaksanakan di aula Balai Desa Pakemitan, Kecamatan Cikatomas, dikuti 128 RTM dari desa Pakemitan. Bimtek selain dihadiri para calon penerima manfaat, juga hadir pendamping/pembimbing, petugas Puskeswan, PPL, perwakilan Camat Cikatomas dan aparat desa Pakemitan, Cayur, dan Cikumba. Topik utama Bimtek adalah sistem pemeliharaan ayam kampung yang disampaikan oleh Rusli dari Balai Penelitian Ternak.

Dalam paparannya Rusli menyampaikan info lengkap tentang ayam lokal unggul Balitbangtan (KUB-1) dan ayam Sensi-1 Agrinak, dari ciri-ciri fisik, pemeliharaan sampai dengan 4 minggu, pemberian vaksin, pemeliharaan 4-12 minggu, pemeliharaan 10-24 minggu, dan pemeliharaan ayam dewasa produktif. Diinfokan pula tentang ciri-ciri untuk membedakan kondisi ayam yang sehat dan sakit dan cara pencegahan agar yang dipelihara tidak terkena penyakit.

Peserta Bimtek terlihat antusias mengikuti Bimtek. Untuk mengetahui pemahaman peserta, Pak Apep Saifurahman dari Puskeswan Cikatomas mentest peserta dengan memberikan beberapa pertanyaan tentang cara pemeliharaan dan kandang, yang dapat dijawab peserta dengan baik. Bagi peserta yang masih belum mengerti betul, tidak perlu khawatir karena bimbingan teknis akan diberikan tidak hanya saat pertemuan. Tenaga pendamping, PPL, dan dari Puskeswan siap sedia memberikan bimbingan.

Peserta seolah-olah tak sabar untuk segera memperoleh bantuan ayam tersebut dan memelihara serta mengembangkannya. Nurjayanti, mewakili Pj Program #Bekerja Kabupaten Tasikmalaya/Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian ketika menanyakan kesiapan peserta dijawab dengan penuh semangat bahwa mereka sangat siap dan yakin akan bisa memelihara dan mengembangkan ayam-ayam bantuan dari Kementan tersebut. Pak Umar, seorang buruh tani yang telah berusia 80 tahun tak mau ketinggalan, bahkan terlihat rajin mencatat dan memperhatikan dengan seksama setiap penjelasan dari narasumber. “Saya sangat siap dan bersyukur dengan bantuan ayam ini dan nanti memelihara ayamnya akan dibantu anak saya” jelasnya ketika ditanya tentang kesiapannya.

Kegiatan Bimtek ditindaklanjuti dengan distribusi ayam pada esok hari, 26 September 2018. Bantuan ayam akan diserahkan untuk RTM di desa Pakemitan, Cayur, dan Cilumba, kecamatan Cikatomas, Tasikmalaya (Nj/Smn).

 

BBSDLP, Medan. 27/9/2018. Karya riset BBSDLP kembali dikenal di civitas akademika Universitas Sumatera Utara. Itu dicapai setelah acara kuliah umum SISULTAN didepan para mahasiswa dan dosesn Fakultas Pertanian USU. Dr. Yiyi Sulaeman, sebagai pemateri BBSDLP memaparkam tentang SISULTAN. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Program Doktor Ilmu Pertanian, Program Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

Ketua Program Studi, Prof. Ir. Edison Purba, PhD, dalam sambutannya menyampaikan terima kasih atas kehadiran pemateri dan memyampaikan rasa gembira karena tema kuliah umum ini yang sangat baru di lingkungan kampus. Kuliah umum ini akan memberikan wawasan baru dalam pengembangan sistem dan juga perencanaan dan pengelolaan sumberdaya lahan pertanian.

Dalam paparannya, Dr. Yiyi Sulaeman yang juga Kepala Bidang KSPHP BBSDLP, membagi materi yang meliputi arti penting sistem informasi. Sistem informasi disusun oleh 4 komponen utama dan merupakan bagian dari sistem riset. Aplikasi sistem informasi berupaya mempercepat waktu, mengelola data dan mengantarkan informasi kepada masyarakat. "SISULTAN ini adalah sistem informasi yang mengantarkan informasi ke masyarakat sehingga masyarakat dapat dengan cepat dan mudah mengetahui tanah dan lahannya", kata Yiyi.

Setelah membahas arti penting sistem informasi, Yiyi memaparkan tentang perkembangan pemetaan tanah nasional berupa cakupan wilayah dan detil informasinya, pemaketan informasi peta, pengelolaan data peta hingga penurunan peta-peta baru dari peta tanah yang ada.

Pembahasan SISULTAN adalah materi utama dimana para peserta diajak untuk membuka aplikasi dan eksplorasi data yang ada di dalamnya. "Para pengguna boleh menampilkan peta-peta dalam aplikasi dengan menggunakan fasilitas servis yang tersedia di menu utama. Silahkan coba dan manfaatkan oleh Bapak dan Ibu," ungkap Yiyi.

Dipandu oleh Prof. Tengku Sabrina, sebagai moderator, acara diskusi cukup menarik. Pertanyaan yang dilontarkan mengapresiasi dan menyambut gembira aplikasi SISULTAN ini. Pertanyaan teknis pun bermunculan dan semuanya dan didiskusikan secara lebih baik dan ilmiah.

SISULTAN adalah kependekan dari Sistem Informasi Sumberdaya Lahan Pertanian. Ini adalah aplikasi webGIS yang dikembangkan oleh BBSDLP untuk memudahkan pencarian informasi peta-peta tanah nasional. (AM)