Info Terkini

BBSDLP, Bogor (20/08/2019). Kepala Bidang Kerjasama dan Pendayagunaan Hasil Penelitian mewakili Kepala BBSDLP, Dr. Yiyi Sulaeman menerima kunjungan dari Delegasi The University of Melbourne, Australia yang dipimpin oleh Prof. Deli Chen.

Prof. Deli Chen dan 3 orang timnya mengunjungi BBSDLP guna membahas tentang masalah perubahan penggunaan lahan dalam kaitannya dengan emisi dan keperluan pengembangan teknologi yang dapat menurunkan dan mencegah emisi.

"Kami merasa senang dan menyambut baik atas kedatangan Prof. Chen dan tim. Kami yakin pertemuan ini adalah langkah awal untuk mengembangkan riset dan pengembangan terkait sumberdaya lahan pertanian ke depan," ungkap Yiyi.

Disela-sela diskusi tentang permasalahan perubahan penggunaan lahan, dibahas juga mengenai pengelolaan lahan gambut dan lahan rawa.

"Saya tahu bahwa teman-teman Internasional sangat konsen dalam pengembangan lahan basah, termasuk lahan gambut. Pemerintah Indonesia juga dalam pemikirian yang sama, bahkan kami Kementerian Pertanian sedang mengimplementasikan program #SERASi (Selamatkan Rawa, Sejahterakan Petani). Dalam kegiatan tersebut kita mengoptimalkan pemanfaatan lahan rawa yang telah dibuka sebelumnya," tambah Yiyi yang didampingi oleh Kasi Kerjasama, Pak Saefoel Bachri dan Peneliti, Dr. Edi Yatno.

Diskusi berjalan cukup baik dan banyak informasi-informasi baru yang tim delegasi terima. Kedua belah pihak bersepakat untuk fokus mengembangkan lahan rawa terlantar yang saat ini tidak dikelola atau dikelola minimalis oleh para petani dan merubahnya dengan inovasi teknologi  dan capacity building menjadi lahan produktif dan menghasilkan dan pada saat yang bersamaan dapat meningkatkan penambatan karbon dan menekan emisi. (yy)

 

 

Bogor, 19 Agustus 2019.  Tim Pemetaan Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) yang dikoordinir oleh Wahyu Supriatna S.Pd, M.Si melakukan survei dan pemetaan lahan gambut pada bulan Juli 2019 di Kota Palangkaraya dan Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah dalam rangka  updating peta gambut skala 1:50.000.

Kegiatan penelitian dilakukan melalui  deskripsi tanah gambut untuk mengetahu tingkat kematangan dan ketebalan tanah gambut. Untuk mengetahui sifat dan karakteristik tanah gambut lebih lanjut, maka dilakukan pengambilan sampel gambut untuk dianalisis di laboratorium.

Di Kota Palangkaraya, survei dan pemetaan lahan gambut dilakukan di lima kecamatan. Saat ini, sebagian besar lahan gambut masih berupa belukar, sedangkan sebagian lainnya telah dimanfaatkan untuk perkebunan kelapa sawit, baik yang dikelola oleh pihak swasta maupun sawit rakyat. Tanah gambut di daerah ini memiliki ketebalan yang bervariasi, mulai dari dangkal (50-<100 cm), sedang (100-<200 cm), dalam (200-<300 cm), dan dalam (300-<500 cm) hingga sangat dalam sekali (>500 cm). Gambut dangkal dtemukan di sebagian wilayah Kecamatan Pahadut dan Sebangau, sedangkan gambut dalam terdapat di Desa Tangkiling Kecamatan Bukit Batu

Peta Lahan Gambut Skala 1:250.000 (BBSDLP 2011) menunjukkan bahwa, gambut di Kabupaten Kapuas dijumpai di enam wilayah kecamatan, yaitu Bataguh, Kapaus Barat, Kapuas Murung, Dadahup, Mentangai dan Timpah. Pengamatan lapangan menunjukkan bahwa gambut di  daerah ini sudah banyak yang mengalami penurunan ketebalan (subsidence), khususnya di Bataguh, Kapuas Murung dan Dadahup. Menurut Peta Lahan Gambut Skala 1:250.000 (BBSDLP, 2011), gambut di tiga kecamatan tersebut memiliki ketebalan antara 100-200 cm, sekarang hanya tersisa 10-45 cm saja. Menurut Sistem Klasifikasi, tanah tersebut bukan termasuk tanah gambut. bahkan di Kecamatan Kapuas Murung dan Dadahup gambut sudah tidak ditemukan lagi. Hilangnya gambut tersebut disebabkan beberapa faktor diantarannya pengolahan lahan yang terlalu intensif dan kebakaran. 

Dalam pelaksanaan survei, Tim BBSDLP berkoordinasi dengan Dinas Tanaman Pangan dan Perkebunan setempat.

BBSDLP, Bogor 16 Agustus 2019. Komunitas Enjoy bogor yang diwakili oleh reza dan sela,mengunjungi BBSDLP sebagai salah satu rekomendasi untuk mengikuti perlombaan paket wisata tematik desa wisata.

Mereka disambut oleh staf Kerjasama dan Pendayagunan Hasil Penelitian (KSPHP), Emo Tama, kemuadian diajak berkeliling menuju Agrosinema, Laboratorium Geospasial dan Basisdata, serta Laboratorium kimia.

Komunitas Enjoy Bogor merupakan Komunitas pencinta kota Bogor, dimana mereka aktif mempromosikan Bogor sebagai salah satu kota tujuan wisata.  “BBSDLP Kami anggap menarik karena memiliki Agrosinema, dan Lab Geospasial dan basis data, dimana merupakan satu-satunya yang membuat peta lahan pertanian di indonesia” kata Reza.

Dengan potensi yang dimiliki BBSDLP ini, diharapkan akan semakin membuat kota Bogor menjadi lebih menarik bagi para wisatawan, dan akan masuk dalam nominasi perlomaan yang diselenggarakan Oleh Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (PPMD), Kementrian Desa PDTT.

Program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani #SERASI adalah upaya Kementerian pertanian untuk mewujudkan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia dengan cara mengoptimalkan pemanfaatan lahan rawa melalui peningkatan provitas dan IP padi sehingga kesejahteraan petani juga meningkat. Sumatera Selatan merupakan salah satu provinsi yang menjadi target program #SERASI dengan luas lahan rawa sebesar 250.000 ha. Lahan rawa tersebut terdiri atas lahan rawa pasang surut dan rawa lebak yang tersebar di 3 kabupaten, diantaranya Banyuasin (150.000 ha), Ogan Komering Ilir (65.000 ha), dan Musi Banyuasin (35.000 ha).

Badan Litbang Pertanian turut mendukung program ini dengan mengirimkan tim pendamping untuk mengawal program #SERASI di Provinsi Sumatera Selatan. Sebanyak 23 orang tim pendamping disebar di masing-masing kecamatan di 3 kabupaten yang terlibat dalam program ini.

Langkah pertama dalam pelaksanaan program #SERASI ini adalah penentuan Calon Petani Calon Lokasi (CPCL). Hari Rabu (17/07/2017) Tim pendamping program #SERASI di Kecamatan Sirah Pulau Padang, Kabupaten Ogan Komering Ilir melakukan pengecekan CPCL di Desa Belanti didampingi oleh pengurus kelompok tani (Poktan) dan penyuluh pertanian lapang (PPL). Pengecekan CPCL ini dilakukan untuk memastikan lokasi yang diusulkan untuk program #SERASI benar-benar ada, yakni berupa lahan rawa serta petani yang memiliki lahan tersebut siap untuk mendukung program ini.

Perjalanan menuju lokasi dilakukan dengan menggunakan ketek (perahu kecil) selama 30 menit menyusuri Sungai Ulak Au dan anak sungai di pinggir lahan rawa lebak. Kendaraan air seperti ketek ini merupakan satu-satunya akses menuju lahan rawa lebak, calon lokasi program #SERASI.

Desa Belanti adalah salah satu desa yang diusulkan untuk mengikuti program serasi pada tahap II. Sebelumnya pada tahap I di Kecamatan Sirah Pulau Padang, Kab. OKI telah diusulkan 8 desa untuk mengikuti program ini dengan lahan rawa seluas 1.893 ha. Lahan rawa yang diusulkan di Desa Belanti terdiri dari lahan rawa lebak tengahan dan rawa lebak dalam seluas 1.033 ha. Saat ini, sebagian kecil lahan tersebut sudah mulai menanam padi. Sementara sebagian besar lainnya belum tanam karena air belum juga surut. Kurangnya infrastruktur seperti saluran dan pintu air di desa ini menyebabkan petani tidak dapat mengendalikan air untuk menanam padi. Saat ini, petani di lokasi tersebut hanya dapat menanam padi 1x setahun, bahkan ada petani yang belum bisa menanam padi sejak setahun lalu.

Melalui program #SERASI ini, petani melalui Poktan dan arahan PPL mengusulkan pembuatan sodetan dan pintu air. Sodetan dan pintu air yang akan dibuat bertujuan untuk membuang air di lahan sawah pada musim hujan sekaligus menjaga air tetap di lahan pada musim kemarau.

Besar harapan petani kepada Kementerian Pertanian melalui program #SERASI ini. Hal ini disampaikan oleh Bapak Herdini, Ketua Poktan Lebung Pinang 2, Desa Belanti, "Kami sangat berharap terhadap program (#SERASI) ini agar betul-betul terlaksana. Kami disini cuma ingin menanam, karena lebih dari 90% penduduk di desa ini adalah petani. Saat lahan sawah kami banjir, kami tidak bisa menanam. Dengan adanya pintu air dan sodetan nanti, kami yakin air akan segera surut dan Kami bisa menanam lagi".

Seperti nama program ini (Selamatkan rawa sejahterakan petani), pemerintah berharap melalui program ini kesejahteraan petani meningkat. Kementerian pertanian melalui kerjasama dengan dinas pertanian kabupaten terus berupaya agar program ini terlaksana dengan baik dan berhasil. (RQ)

Toko Tani Indonesia Centre, Bogor 9 Agustus 2019. Kementerian Pertanian melalui Badan Ketahanan Pangan menyelenggarakan Operasi Pasar untuk mengendalikan harga cabai di Kota Bogor. Acara ini dibuka oleh Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) , Dr. Ir. Agung Hendriadi, M.Eng dan dihadiri oleh Wakil Walikota Bogor, Dedie A. Rachim, Sekretaris Badan Ketahan Pangan, Kepala Puslitbangbun, Kepala Pusat Keanekaraman Konsumsi dan Keamanan Pangan, dan pejabat Dinas Pertanian Kota Bogor. Kepala BKP menuturkan bahwa saat ini keseluruhannya ada 1.000 Toko Tani Indonesia yang diharapkan dapat mengendalikan harga pangan. Kegiatan operasi pasar yang dilakukan sekarang adalah untuk mengendalikan harga cabai sudah mencapai harga Rp 60.000-70.000 per kilonya di pasar, sedangkan di toko tani Rp 35.000-40.000 per kilo. Dalam kegiatan ini juga dilakukan pembagian 1.000 bibit cabai kepada masyarakat yang hadir. Pembukaan Operasi Pasar dilakukan dengan melakukan pelepasan 4 unit kendaraan Pangan Murah yang dilakukan oleh Kepala BKP dan Wakil Wali Kota Bogor. Keempat kendaraan tersebut akan menuju empat kecamatan di Bogor, yaitu Bogor Tengah, Bogor Barat, Bogor Selatan, dan Bogor Utara. Wakil Walikota menyatakan bahwa inflasi tertinggi di Bogor salah satunya disebabkan oleh harga cabai merah yang tinggi, selain cabai keriting dan bawang putih.