Info Terkini

Bogor (16/07/18). Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) kembali menerima kunjungan Peserta Latihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Para CPNS yang berjumlah 60 orang tersebut berasal dari non Kementerian Pertanian, yakni: BATAN, PPATK, KPPA, dan Polhukam, yang didampingi oleh Lalu Ismail, SP. M.Si dan Nanang Djaenudin, S.Sos.

Peserta disambut oleh Kepala BBSDLP yang diwakili oleh Kepala Bidang KSPHP, Dr. Yiyi Sulaeman, M.Sc. “Semoga setelah dilaksanakannya kunjungan ini, bapak dan ibu mendapatkan tambahan ilmu dan informasi terkait dengan sumberdaya lahan pertanian di Indonesia juga yang berkaitan dengan informasi pelayanan publik yang akan dipaparkan kemudian, sekali lagi saya sampaikan selamat datang di Kantor BBSDLP,” ungkap Dr. Yiyi.

Acara kemudian dilanjutkan dengan penayangan video profil BBSDLP. Peserta dikenalkan dengan sejarah terbentuknya BBSDLP serta inovasi di bidang pertanian yang telah dihasilkan hingga kini. Pemaparan mengenai pelayanan publik di Kementerian Pertanian disampaikan oleh Kasie PHP, Drs. Widhya Adhy. Kemudian peserta juga diperkenalkan dengan salah satu produk unggulan BBSDLP yaitu SISULTAN (Sistem Informasi Sumberdaya Lahan Pertanian) oleh Kasie KSP, Saefoel Bachri, S.Kom, MMSI.

Selain itu, peserta juga berkesempatan untuk mengunjungi Laboratorium IGAS dan diperkenalkan mengenai alur kerja pemetaan dan pengolahan data spasial menggunakan Sistem Informasi Geografis hingga menghasilkan berbagai atlas peta sumberdaya lahan yang mendukung pengembangan pertanian di Indonesia. (NK)

 

Bogor (6/07/18). Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) kembali menerima kunjungan mahasiswa dari University of Sydney, Australia. Agenda rutin tahunan ini merupakan salah satu program yang didukung oleh Pemerintah Australia dalam rangka mengenalkan pertanian Indonesia pada mahasiwa. Sebanyak 20 orang mahasiswa yang ikut hadir berlatar belakang keilmuan yang beragam, tidak hanya pertanian tetapi juga lingkungan dan manajemen.

Dalam sambutannya Kepala Bidang Program dan Evaluasi Ir. Mas Teddy Sutriadi, MSi menyampaikan apresiasinya atas kedatangan para mahasiswa ke Kantor BBSDLP. "Semoga banyak ilmu yang dapat diambil oleh mahasiswa, selain itu juga diharapkan adanya transfer pengetahuan dari kedua belah pihak yang dapat bermanfaat untuk kemajuan pertanian di Indonesia khususnya," ungkap Teddy.

Penjelasan mengenai kondisi tanah di Indonesia dilakukan oleh Peneliti BBSDLP, Dr. Markus Anda, MSc Dalam paparannya disampaikan mengenai perkembangan pemetaan tanah di Indonesia serta arahan pemanfaatannya untuk pertanian di Indonesia. Selain itu dilaksanakan juga field trip ke perkebunan kelapa sawit milik PTPN VIII di Cigudeg, Kabupaten Bogor. Para mahasiswa dikenalkan dengan profil tanah di kawasan perkebunan serta proses pengolahan kelapa sawit pasca panen.

“Kami sangat berterima kasih kepada BBSDLP yg sudah memfasilitasi dalam kunjungan ini. Banyak sekali ilmu dan pengalaman yang didapatkan, dan semoga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembelajaran untuk kami, " ungkap Dr. Kim-Yen Phan-Thien, dosen Food Science, Sydney Institute of Agriculture. (NK/VV)

 Untuk melihat video terkait klik di sini

Jakarta, 3 Juli 2018 - Kementerian Pertanian mendukung segala upaya mengurangi sampah plastik di Indonesia, hal ini untuk menyelamatkan lahan pertanian Indonesia dari kontaminan yang sulit diurai tersebut. Sampah plastik yang mencemari tanah secara langsung akan mengurangi produtivitas, apalagi diperkirakan butuh 100 hingga 500 tahun agar plstik bisa terurai secara alami.

Kantong plastik itu sulit terdegradasi, bahkan bisa dikatakan tidak terdegradasi. Dan itu tentu saja merusak lingkungan. Tanah dan lahan pertanian yang tercemar atau banyak sampa plastik, miroba yang ada di dalam tanah tidak akan mampu menghasilkan unsur hara, dan karenanya siklus organik terhenti,” kata Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) Kementerian Pertanian, Prof. Dr. Dedi Nursyamsi, MAgr menanggapi peringatan Hari Bebas Kantong Plastik Sedunia yang jatuh hari ini, Selasa (3/7).

Dedi menegaskan sampah plastik adalah kontaminan dalam tanah yang mengganggu pengolahan tanah dan akhirnya pertumbuhan tanaman. Plastik-plastik di lahan pertanian mengganggu pengolahan tanah dan mengganggu sifat fisika, porositas dan sistem draenase tanah yang dapat menyebabkan tanah tidak sehat.

“Tanah yang banyak plastik di dalamnya adalah tanah bongkor yang tidak lagi bisa dimanfaatkan untuk lahan pertanian. Jika ingin dimanfaatkan, plastik-plastik harus dipungut dan dihilangkan diganti dengan bahan organik atau kompos untuk memulihkan sifat fisik dan kimia tanah,” tambah Dedi.

Kementerian Pertanian mengharapkan ada peningkatan kesadaran lingkungan masyarakat dalam penggunaan plastik, selain juga mendorong kebijakan pemerintah yang sudah dikeluarkan, terutama penerapan kantong plastik berbayar mulai diterapkan di Indonesia pada 21 Februari 2016 bertepatan dengan Hari Peduli Sampah Nasional (HSPN) lalu bisa diterapkan secara masif.

Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan hasil dari 100 toko anggota Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) dalam waktu satu tahun bisa mencapai 10,95 juta lembar sampah kantong plastik. Setara dengan dengan luasan 65,7 hektar atau sekitar 60 kali luas lapangan sepak bola.

Bank Dunia memperkirakan setiap orang Indonesia rata-rata menghasilkan sampah plastik antara 0,8 hingga 1 kg setiap tahunnya. Dengan penduduk lebih dari 250 juta jiwa, jumlah tersebut menempatkan Indonesia sebagai penyumbang sampah plastik ke laut terbesar ke dua setelah tiongkok.

Untuk mengurangi kontaminasi sampah plastik di sumberdaya air Indonesia, pemerintah telah berkomitmen untuk mengalokasikan dana USD 1 milyar setiap tahun seperti dinyatakan dalam World Ocean Summit di Nusa Dua, Bali pada 2017 lalu.

 

Biro Humas dan Informasi Publik

Kementerian Pertanian

 

Pati (2/7/18).' Lahan sehat, bangsa kuat'. Demikian tema yang dipilih oleh Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) yang melaksakan pekan Aksi Peduli Lingkungan Pertanian. Balingtan, sebagai salah satu unit pelaksa teknis penelitian dari Badan Litbang Pertanian, mempunyai tugas dan fungsi mengembangkan teknologi untuk penanganan masalah lingkungan pertanian. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia dan Hari Bumi tahun ini.

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Kabupaten Pati, Bapak Saiful Arifin menyampaikan pemikiriannya bagaimana limbah-limbah pertanian bisa dimanfaatkan untuk menciptakan nilai tambah. "Kami senantiasa menunggu hasil riset dari Litbang ini untuk diterapkan oleh rakyat kami di Kabupaten Pati ini" ungkap Saiful.

Sementara itu, Prof. Dedi Nursyamsi, Kepala BBSDLP yang mewakili Kepala Badan Litbang Pertanian menyampaikan bahwa bangsa yang kuat ditentukan oleh lahan yang sehat. "Saya mengajak kita semua untuk mengelola lahan kita dengan baik dan merubah limbah pertanian menjadi produk produk yang bernilai tambah. Badan Litbang Pertanian melalui Balingtan menggelar teknologi tersebut pada acara ini", ajak Dedi.

Dalam laporannya, Dr. Asep Nugraha, Kepala Balingtan sebagai Ketua Panitia menyatakan bahwa acara Aksi Peduli Lingkungan Pertanian ini dilaksanakan mulai tanggal 1 hingga 7 Juli 2018. Aksi ini menyuguhkan 5 aksi yaitu bimbingan teknis teknologi balingtan, gelar teknologi, bazar, inovasi teknologi pertanian ramah lingkungan, dan lomba mewarnai. (yy)

 

Info terkait klik

Saat ini produktivitas rata-rata padi di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) baru mencapai sekitar 5.3 t/ha atau sekitar rata-rata nasional. Parimo sebagai sentra produksi beras di Propinsi Sulteng harus terus meningkatkan produksi gabahnya antara lain melalui peningkatan produktivitas. Demikian diungkapkan Kepala Dinas Pertanian, Hortikultura, dan Perkebunan Nelson Metubun SP di Aula Kantor Dinas saat acara rapat koordinasi Upsus Pajala kemaren sore 6 Juni 2018. Rakor ini dihadiri oleh para Kabid, Kasie, staf Dinas, dan Kepala Uptd Pertanian seluruh kecamatan sekabupaten Parimo.

Lebih lanjut Nelson mengatakan bahwa lebih 80% petani di Parimo masih menggunakan cara tabela (tanam benih langsung) dengan seeder dan hambela (hambur benih langsung) dengan blower, sisanya menggunakan cara tanam pindah (tapin). Cara tanam menggunakan jarwo transplanter diyakini meningkatkan produktivitas secara signifikan sehingga berpotensi besar meningkatkan produksi padi ujar Nelson menambahkan.

Hal ini diamini oleh Kepala UPTD Pertanian Kecamatan Sausu Made Suartana yang mengatakan bahwa petani Sausu mulai melirik jarwo transplanter. Bila petani melihat suatu teknologi bisa meningkatkan produksi padi maka mereka dengan sendirinya akan meniru, tidak perlu disuruh-suruh lagi kata Made menandaskan.

Kepala UPTD Kecamatan Torue Wayan Muliarsa SP juga mengatakan hal yang sama. "Dulu saya diketawain petani saat memperkenalkan jarwo transplanter, kini mereka ngejar-ngejar saya minta jarwo transplanter" ujar Muliarsa sambil ketawa. Mereka sekarang yakin bahwa hasilnya pasti meningkat setelah saya melakukan pengujian yang hasilnya membuktikan bahwa jarwo transplanter meningkatkan hasil GKG dari 6 menjadi 7 t/ha atau hasil meningkat sekitar 17% kata Muliarsa menambahkan.

Wayan Puja, Ketua Gapoktan Mekartani Kec. Torue yang memiliki sawah 3 ha mengatakan bahwa hasil beras meningkat 5 ku/ha atau gabah 1 t/ha dengan jarwo transplanter. Uang dari peningkatan hasil ini sekitar Rp 4.5 juta/ha cukup untuk menutupi biaya olah tanah dan tanam kata Puja menambahkan. Sekarang petani belajar sendiri untuk mengoperasionalkan jarwo transplanter bantuan Kementan. Petani gratis menggunakannya dan hanya mengeluarkan uang bensin dan pemeliharaan ujar Puja menambahkan.

Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan sekaligus penanggungjawab Upsus Pajala Kab. Parimo Prof. Dedi Nursyamsi mengatakan bahwa potensi untuk meningkatkan produksi padi di Parimo sangat besar. Peningkatan produktivitas padi dengan jarwo transplanter bisa mencapai 15-20%. Bila semua petani menggunakan jarwo transplanter maka produksi padi Parimo ajan meningkat sekitar 15% kata Dedi menambahkan.

Selanjutnya Dedi mengatakan bahwa Parimo juga bisa meningkatkan produksi padi melalui pengembangan areal tanam baru (PATB) ke lahan kering. Ada sekitar 500 ribu ha lahan kering yang bisa ditanami padi ladang. Lahan tersebut meliputi tegalan, ladang, perkebunan, padang rumput dan lain-lain ujar Dedi menambahkan.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Nurhidayah SP mengatakan bahwa tahun ini Parimo melaksanakan kegiatan PATB untuk komoditas jagung dan kedelai. Kami masih menunggu kiriman benih jagung dan kedelai dari propinsi karena petani sudah siap tanam kata Nurhidayah menambahkan.