Land reform merupakan bagian dari reformasi agraria dalam arti yang sempit, di mana terjadi distribusi hak pengelolaan lahan dari negara kepada petani dalam rangka mendukung ketahanan pangan dan mengembangkan ekonomi kerakyatan. Namun demikian, dewasa ini land reform dihadapkan pada fenomena alih fungsi lahan (konversi lahan) yang bersifat masif. Hal tersebut terutama terjadi pada lahan sawah di seluruh Indonesia.

Pengembangan infrastruktur umum seperti jalan tol, bandara, kawasan industri, dan perkantoran di Pulau Jawa dan beberapa kota besar di Indonesia umumnya berasal dari lahan sawah produktif. Selain itu alih fungsi juga terjadi dari lahan sawah menjadi tanaman perkebunan seperti kelapa sawit di beberapa provinsi.

Sejalan dengan salah satu fungsi Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian ( Balitbangtan), khususnya Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP), yaitu melaksanakan penelitian teknologi penginderaan jauh dan inventarisasi sumberdaya lahan pertanian, maka dibentuklah tim identifikasi alih fungsi lahan sawah yang dimotori oleh Ir. Anny Mulyani, MS. Kajian alih fungsi lahan ini merupakan bagian dari Kegiatan Penelitian Pemutahiran Data Lahan Sawah Mendukung Kebijakan Satu Data.

Ditemui seusai rapat pembentukan tim identifikasi, Anny Mulyani mengharapkan timnya dapat menghasilkan sebuah peta alih fungsi lahan sawah Indonesia dengan skala 1:50.000.

“Dengan adanya peta alih fungsi lahan sawah ini kita bisa melihat di mana saja lokasi yang dulunya sawah dan yang saat ini sudah beralih fungsi” ungkap Anny, yang juga merupakan Kepala Unit Pengembangan Basis Data dan AWR BBSDLP.

Selain kajian alih fungsi lahan, kegiatan ini mencakup juga pendetilan jenis sawah (sawah irigasi, tadah hujan, pasang surut, dan lebak) serta status hara P dan K pada tanah sawah di seluruh Indonesia.

Meskipun terdapat penambahan luas lahan sawah pada beberapa provinsi dikarenakan program pencetakan sawah baru, namun tim identifikasi menemukan fakta bahwa telah terjadi pengurangan luas lahan baku sawah selama kurun waktu enam tahun terakhir. Jika ditelisik lebih dalam, terjadi selisih luas baku dari 8,1 juta ha di tahun 2013 menjadi 7,4 juta ha pada tahun 2019. Sehingga laju konversi lahan sawah yang terjadi diperkirakan sekitar 116.000 ha/tahun.

Tim identifikasi alih fungsi lahan sawah tetap produktif meski melaksanakan pekerjaan kedinasan di rumah (work from home) dalam situasi pandemic covid-19 ini. Meskipun begitu, tim alih fungsi sangat optimis dapat dengan segera menyempurnakan data sehingga menghasilkan sebuah peta yang bermanfaat bagi pembangunan pertanian. (ERW/DPH/LQ)