Peran mikroorganisme tanah akan menjadi solusi masa depan pertanian dan kesehatan dunia. Mikroorganisme adalah salah satu kunci untuk menghasilkan tanah yang sehat. Tanah sehat akan menghasilkan tanaman sehat. "Ujungnya akan menghasilkan pangan sehat sehingga menghasilkan manusia yang sehat," kata Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP), Dr. Husnain, pada Webinar Pupuk Hayati, Kamis (4/6) pagi tadi.

Menurut Husnain, masa depan kesehatan manusia ada pada mikroorganisme tanah berupa pengembangan pupuk hayati. Pada sesendok tanah yang produktif terkandung 100-juta hingga 100-milyar sel bakteri. Itu belum termasuk fungi dan nematoda. Mikroorganisme yang bermanfaat tersebut kita kembangkan untuk membangun pertanian yang sehat," kata Husnain.

Indonesia sebagai negara tropis memiliki keragaman mikroorganisme yang tinggi di dunia sehingga menjadi kekuatan bangsa kita. "Dari beragam mikroorganisme itu diseleksi dan dikembangkan jenis yang unggul berupa pupuk hayati untuk mengatasi berbagai problem pertanian tropis," kata Husnain.

Balai Penelitian Tanah (Balittanah), menurut Husnain, telah mengembangkan pupuk hayati yang dapat mengatasi problem pertanian di lahan salin seperti yang dikembangkan oleh Dr. Edi Husein yang menjadi pembicara pertama. Lahan salin merupakan lahan yang mengandung kadar garam tinggi sehingga meracuni tanaman seperti padi. Umumnya lahan salin terdapat di sekitar pantai.

Balai yang berada di bawah koordinasi BBSDLP itu juga telah mengembangkan pupuk hayati yang dapat meningkatkan produksi pangan di lahan kering masam dan non masam seperti disampaikan Dr. Surono.

Bahkan Balittanah juga telah mengembangkan pupuk hayati untuk lahan sawah yang sangat mudah diaplikasikan pada benih padi, seperti yang dikembangkan Dr. Etty Pratiwi.

"Prinsipnya mikroorganisme itu sangat spesifik sehingga aplikasi pada berbagai jenis lahan juga spesifik," kata Husnain.

Webinar diikuti oleh 780 peserta dari 1000 pendaftar dengan komposisi 80% ASN dari berbagai kementerian pusat dan pemerintah daerah di 34 provinsi dari Sabang sampai Merauke. Sekitar 6% diikuti oleh mahasiswa dan 2% dosen dari kampus negeri dan swasta. Sisanya 12% berprofesi sebagai profesional, pegawai swasta, dan petani.

Menurut Kepala Badan Litbang Pertanian, Dr. Fadjry Djufry, M.Si, pemerintah mendukung riset pupuk hayati di tanah air dari hulu hingga hilir. Setiap produk pupuk hayati unggul dari peneliti diupayakan dapat digunakan oleh petani sebagai pengguna. "Balitbangtan melakukan kerjasama untuk memformulasi produk hayati dengan swasta maupun kelompok tani, serta menguji kesesuaian multilokasi agar mempunyai respon yang optimal," imbuh Fadjry. (DC)

 

Berikut video Webinar Pupuk Hayati: