Gonjang-ganjing bawang merah dan cabe yang langka belakangan ini ternyata merupakan fenomena tahunan yang telah terjadi sejak 5 tahun silam. “Setiap tahun kita defisit 50.000 ha pada Februari hingga April. Itu setara dengan luas tanam 5.000 ha.”  papar Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Dr. Ir. Hardiyanto, M.Sc pada rapat koordinasi peningkatan produksi bawang merah dan cabe merah pada off season, pekan silam.

Sepanjang November dan Desember 2016 juga terjadi defisit bawang merah sebanyak 21.500 ton atau setara 2.150 ha.  Menurut Hardiyanto, angka-angka tersebut merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) selama 2012—2015. Sedangkan defisit produksi cabe merah terjadi pada Oktober hingga Desember sebesar 8.500 ton atau setara luas tanam 1.700 ha. “Fluktuasi produksi terjadi karena kebanyakan petani menanam tergantung musim,” kata Hardiyanto.

Rapat menyimpulkan upaya penanggulangan jangka pendek kekurangan produksi bawang merah dan cabe merah dapat diatasi melalui peningkatan luas tanam di lahan kering eksisting dan peningkatan provitas di luar sentra utama Brebes.



Sebut saja di Kabupaten Bima, Nganjuk, Bojonegoro, Solok, Garut, Majalengka, Cirebon, Enrekang, dan Luwu untuk peningkatan produksi bawang merah. Sementara Kabupaten Tuban, Batubara, Sukabumi, Temanggung, Karo, Tapanuli Utara, dan Brebes untuk peningkatan produksi cabe merah di luar sentra produksi Garut.

Sedangkan untuk jangka panjang perlu dilakukan pengembangan sentra-sentra produksi baru berdasarkan potensi kesesuaian lahan, aksesibilitas, dan mobilitas yang mudah dijangkau. “Data kesesuaian lahan yang dibuat oleh Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) dapat menjadi acuan untuk menentukan wilayah baru,” kata Kepala BBSDLP, Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, M.Agr. (Laela Rahmi)

Catatan: Babe: Bawang Merah dan Cabe