Menteri Negara BUMN, Dr. Rini Suwandi, meminta Perhutani mengembangkan 10 komoditas pertanian strategis di areal penguasaan Perhutani di Banten, Jabar, Jateng, dan Jatim. Rini juga menugaskan lembaga keuangan perbankan mengucurkan kredit untuk sektor pertanian dengan skema khusus. Hal tersebut terungkap pada rapat bersama Rini dengan Badan Litbang Pertanian, Perhutani, dan kalangan perbankan di Kantor BNI Pusat, Jum’at (28/4), pekan lalu sore.

“Saya sudah minta Balitbang Pertanian untuk memetakan kesesuaian lahan kawasan perhutani agar komoditas yang ditanam tidak keliru,” kata Rini kepada para petinggi Perhutani. Komoditas tersebut antara lain padi,  jagung, kedelai, cabai, bawang merah, kakao, dan kopi. Menurut Rini sebagai model maka areal Perhutani yang akan ditanami di Cibaliung, Banten; Garut Selatan, Jabar; dan Pemalang, Jateng.

Rini juga telah berkoordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan agar misskoordinasi penguasaan dan status lahan yang sebelumnya kerap terjadi dan menjadi kendala pengembangan areal pertanian baru dapat dihindari. “Kita segera buat tim kecil agar koordinasi KLH, Kementan, Perhutani, dan Perbankan terus berlanjut sampai tahap eksekusi,” kata Rini. Langkah Perhutani menanam komoditas pertanian tersebut untuk mendukung kebijakan Presiden Joko Widodo mewujudkan kedaulatan pangan pada level negara.

Badan Litbang Pertanian menyambut baik tawaran tersebut dan akan segera mengirimkan anggota tim dari tingkat pusat dan level provinsi. Menurut Dr. M. Syakir, tim pada level provinsi yaitu BPTP Balitbangtan juga siap mendampingi proses pengembangan sektor pertanian di areal Perhutani dan menyiapkan benih unggul. “Saat ini yang sudah kami lakukan pemberian ribuan benih cabai kepada semua pihak yang mau tanam cabai,” kata Syakir.

Pada kesempatan itu Balitbangtan juga menyerahkan  Atlas Peta Kesesuaian Lahan, Peta Arahan Komoditas, dan Rekomendasi Pengelolaan Lahan komoditas strategis pertanian untuk 236 kabupaten/kota di Indonesia. “Dengan peta ini titik-titik koordinat yang sesuai untuk beberapa komoditas pertanian sudah diketahui. Ini sebagai dasar kita untuk memilih komoditas yang paling menguntungkan tetapi juga tidak merusak lingkungan,” kata Rini.

Musababnya, menurut Rini, seringkali peta-peta skala kasar sebelumnya merekomendasi tanaman pada areal tertentu, tetapi saat dicek ke lokasi berada di daerah berlereng curam sehingga berbahaya untuk lingkungan. Menanggapi hal tersebut, menurut Syakir, peta kesesuaian lahan yang diserahkan Balitbang Pertanian telah mengeluarkan areal berlereng curam karena tidak sesuai untuk pengembangan pertanian. (Destika Cahyana)