“Tugas Babinsa jauh lebih berat dari Danrem atau Dandim,” kata Kolonel Inf M. Saleh Mustafa, Komandan Korem 132 Tadulako, di hadapan para Babinsa se-Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, pekan lalu. Babinsa, menurut Saleh, berinteraksi langsung dengan masyarakat bawah sehingga harus menguasai ilmu sosiologi praksis. Bahkan, Babinsa juga harus paham luas sawah, luas tanam, dan luas panen di wilayahnya.

Di masa kini Babinsa benar-benar sosok yang multitalenta dan multidisiplin. “Kemampuan Danrem dan Dandim kalah oleh Babinsa. Danrem dan Dandim paling hanya jalan-jalan ngecek sana, ngecek sini memastikan semuanya berjalan lancar,” kata Saleh.  

Menurut Saleh, Babinsa di Sulawesi Tengah wajib paham sektor pertanian karena pertanian yang memberikan peringkat pertama perekonomian desa. “Bila ingin desa aman, maka pertanian di desa harus maju,” kata Saleh. Musababnya, keamanan hakiki bukan berarti tidak ada pencurian, tidak ada perampokan, dan tidak ada pemberontakan. Keamanan hakiki ialah ketika ada kedamaian di hati tanpa iri hati dan prasangka pada warga desa dan warga negara.

“Kedamaian di hati baru terwujud bila pangan warganya tercukupi. Itu dulu yang pertama,” kata Saleh. Dengan demikian, TNI di wilayah Sulawesi Tengah wajib mendukung semua program Kementerian Pertanian agar lumbung pangan daerah bertumpu pada desa yang berdaulat pangan. Saat ini 3 program utama yang harus dilakukan adalah serap gabah (Sergab); monitoring dan pelaporan luas tambah tanam (LTT) padi, jagung, dan kedelai; dan cetak sawah.

“Dengan kata lain, ketahanan pangan adalah pondasi dasar dari ketahanan bangsa yang menjadi tugas TNI,” kata Saleh. Menurut Saleh, beruntung saat ini Provinsi Sulawesi Tengah berada pada kondisi surplus beras sehingga dapat menjual hasil panen pangan hingga ke provinsi tetangga. Namun demikian, kondisi tersebut jangan membuat terlena karena setiap saat bencana alam atau paceklik dapat terjadi secara tiba-tiba.

“Di sinilah peran Bulog untuk menyimpan cadangan beras. Bila terjadi bencana, paceklik, atau operasi pasar, maka beras Bulog inilah yang dikucurkan ke masyarakat,” kata Saleh. Kini TNI dan Bulog ditargetkan untuk menyerap gabah 100.000 ton sepanjang 2017. Saleh meminta kerelaan pedagang atau petani untuk menjual 15% volume ke Bulog meskipun harga yang ditawarkan Bulog lebih rendah ketimbang harga pasar.

Contohnya tahun lalu harga beras di pasaran mencapai Rp7.500—Rp7.800 per kg, sementara saat panen raya Rp7.400. Namun, Bulog hanya mengambil dengan harga Rp7.200 per kg. “Anggap saja membayar zakat, tetapi zakatnya tetap kita beli,” kata Saleh. Kerelaan tesebut dibutuhkan karena memang sebenarnya pemerintah telah membantu petani melalui subsidi pupuk dan perbaikan jaringan irigasi sehingga sawah dapat terairi. 

Menurut Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, M.Agr, Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, Bogor, tekad TNI untuk turut membantu mewujudkan kedaulatan pangan di Sulawesi Tengah, patut diapresiasi oleh segenap insan pertanian di setiap level hirarki. “Seringkali saya telpon anggota TNI untuk urusan pangan di tengah malam, mereka selalu respon meskipun sudah tertidur lelap. Bila tidak terangkat, mereka yang segera telpon begitu mengetahui ada yang menghubungi,” kata Dedi.

Spirit yang tak terbatas hanya pada jam kerja tersebut, menurut Dedi, harus dicontoh segenap insan pertanian dari tingkat nasional, provinsi, kabupaten, hingga kecamatan. Bila spirit dan tanggung jawab untuk mewujudkan kedaulatan pangan tersebut dijaga terus menerus, maka tekad mewujudkan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia di masa depan bukan mimpi di siang bolong. “Bila Babinsa dan penyuluh sudah berduet, maka lumbung pangan masa depan gampang dikejar,” kata Dedi. (Destika Cahyana)