“Kita akan buat majalah pertanian. Mohon dibantu isi, ide, dan pengembangannya,” kata Komandan Kodim Donggala-Parimo/1306, Letkol (Kav) I Gede Masa, S.IP kepada Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, M.Agr sesaat setelah keduanya berpelukan di Markas Kodim Donggala-Parimo di Palu, pekan lalu.

Langkah Komandan Kodim Donggala-Parimo itu terobosan untuk meningkatkan kualitas personil TNI yang mendapat tugas bersinergi dengan Kementerian Pertanian untuk meningkatkan ketahanan pangan Bangsa Indonesia. “Dengan membaca majalah pertanian, wawasan dan pengetahuan personil TNI tentang pertanian dapat bertambah,” kata Gede.

Majalah pertanian juga dapat menjadi ruang apresiasi bagi para personil TNI yang berhasil menggerakkan pertanian di wilayah tugasnya. “Para pejuang Upsus (Upaya Khusus) dan Sergab (Serap Gabah) yang berhasil dapat diliput untuk menyuntik semangat rekan-rekannya,” kata Gede. Menurut Gede, majalah tersebut juga akan menghadirkan wawancara tokoh-tokoh—pemerintah, swasta, maupun masyarakat—yang turut berjuang memajukan swasembada pangan di wilayah Sulawesi Tengah.

Semakin hari langkah TNI bersinergi dengan Kementerian Pertanian memang semakin mantap. “Dari tahun pertama dan tahun kedua kita saling mengevaluasi kelemahan, lalu memperbaikinya agar lebih baik,” kata Gede. Menurut Gede, kini berbagai program yang ditugaskan selalu dipastikan lokasi yang tepat dengan titik koordinatnya agar tidak meleset. Sebut saja program cetak sawah dan embung harus benar-benar dipastikan dekat dan terjangkau dengan sumber air.

Bukan hanya Komandan Kodim Donggala-Parimo saja yang semangat bersinergi dengan Kementerian Pertanian. Komandan Kodim Buol-Tolitoli/1305, Letkol (Kav) Anker Widianto, juga menyambut baik upaya Kementerian Pertanian meningkatkan ketahanan pangan di wilayah Buol-Tolitoli melalui program Upsus. “Kita manfaatkan data satelit seoptimal mungkin. Kami siap mencetak data satelit tersebut pada banner yang dipasang di wilayah tugas para Babinsa,” kata Anker.

Menurut Anker, wilayah Buol-Tolitoli tak seperti wilayah di Pulau Jawa yang dengan mudah mengakses internet sehingga memanfaatkan data satelit—yang umumnya membutuhkan kuota data tinggi—melalui  android dan komputer jinjing di Buol-Tolitoli masih sulit. “Banyak wilayah tak mendapat sinyal. Pencetakan di banner menjadi solusi biar aparat TNI dan dinas pertanian dapat mengetahui potensi Luas Tambah Tanam (LTT) setiap bulan di wilayah masing-masing. Aparat TNI juga dapat memverifikasi langsung di lapangan,” kata Anker.

Upaya verifikasi langsung di lapangan, menurut Anker, dapat menjadi bagian dari updating peta sawah eksisting yang dikeluarkan Kementan. “Bila ada kesalahan sekalian dikoreksi agar peta sawah terus terbarukan,” kata Anker.  Sebagai langkah awal, peta lay out eksisting sawah di Kabupaten Buol-Tolitoli akan disiapkan oleh Estiyanto Sri Nugroho, SP dari Balai Besar Penelitian Sumberdaya Lahan Pertanian, Bogor, yang kini ditugaskan di Dinas Pertanian Tolitoli. Berikutnya updating akan dilakukan oleh personil TNI dan Distan Tolitoli serta Distan Buol.

Menurut Dedi, duet personil TNI dengan Kementan dan Distan merupakan prasyarat yang mutlak dipenuhi agar mimpi mewujudkan ketahanan dan kedaulatan pangan di tanah air tercapai. “Kita jangan sampai seperti Uni Soviet yang hancur berantakan gara-gara ketahanan pangannya lemah. Padahal dulunya mereka negara adidaya. Tugas kita bersama mewujudkan kedaulatan pangan,” kata Dedi. (Destika Cahyana)