Ada yang berbeda pada hamparan sawah di 13 kabupaten di Provinsi Sulawesi Tengah pada awal Juni 2017 ini. Kini di setiap titik kecamatan terdapat posko dengan spanduk atau baliho bertuliskan: ‘Posko Percepatan Luas Tambah Tanam (LTT) Koramil A/Kec. A.’ Di belakang posko terlihat hamparan sawah yang baru ditanam, masa vegetative, generative, atau siap panen.

“Itu tenda-tenda posko bersama TNI,” kata Staf Ahli Menteri Pertanian, Dr. Ir. Mat Syukur, MS menjelaskan menjamurnya posko-posko TNI di setiap kecamatan yang menjadi dampingan Koramil setempat. Menurut Syukur, posko tersebut didirikan agar masyarakat memahami di lapangan sedang terjadi akselerasi luas tambah tanam yang dilakukan Pemerintah Kabinet Kerja Joko Widodo dengan pelaksana petani yang didampingi Kementerian & Dinas Pertanian serta TNI.

Kini di musim tanam April—September 2017 Dinas Pertanian Provinsi Sulawesi Tengah mentargetkan setiap hari terjadi penanaman minimal 1.000 ha per hari. “Ini untuk memastikan Sulawesi Tengah mampu mencapai target LTT tahun ini,” kata Syukur pada Pertemuan Teknis dalam Rangka Pencapaian Sasaran Luas Tambah Tanam (LTT) di Palu, Sulteng, kemarin (13/6).

Menurut Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, M.Agr di posko-posko khusus tersebut juga ditempatkan satgas air dan juga pelayanan konsultasi OPT bagi petani. “Intinya kita ingin memastikan negara benar-benar hadir mendampingi petani mencukupi kebutuhan pangan di wilayahnya masing-masing,” kata Dedi.

Petani, terutama di wilayah yang rawan, memang membutuhkan peran para petugas di lapangan untuk membantu memecahkan persoalan di lahan. Sebut saja para petani di wilayah Tolitoli dan Buol yang baru-baru ini baru saja terkena musibah banjir. Sebut saja di Tolitoli banjir merendam sawah di 4 kecamatan sementara di Buol merendam sawah di 2 kecamatan.

Untuk merespon hal tersebut kini Badan Ketahanan Pangan tengah menyediakan anggaran cadangan dalam bentuk beras bagi petani yang sawahnya terbukti terkena dampak banjir.

Pada pertemuan teknis tersebut juga Mat Syukur mengapresiasi kinerja TNI yang serius melakukan penyerapan gabah dari lahan, pemukiman, maupun penggilingan. “Dari data yang masuk serapan gabah telah mencapai 30% dari target,” kata Syukur. Jumlah itu setara 13.028 ton dari target 42.160 ton. (Destika Cahyana)