Bogor. (17/10). Industri pertanian pada dasarnya adalah bioindustri karena daun tanaman sebagai pabrik alami berperan penting dalam fotosintesis. Lahan rawa selain kaya akan air juga melimpah energi surya, dengan pengelolaan yang efisien mampu mendukung tanaman berproduksi tinggi. Sebaran spasial dan prilaku lahan rawa belum terfahami secara mendalam, namun itu terbantahkan manakala Balitbangtan memulai pemetaan tipologi lahan skala 1:50.000 berbasis kabupaten sejak tahun 2013 (di Sumatera), 2014 (Kalimantan), 2015 (Papua), 2016 (Papua Barat), dan Sulawesi (2017).

Diskusi kelompok terfokus telah dilaksanakan di Balitbangtan BBSDLP tanggal 16 -17 Oktober 2017 untuk mempertajam kehandalan peta. Pada hari kedua, diskusi fokus membahas peta tipologi lahan rawa. Pakar pemetaan rawa nasional dan ahli pengelolaan rawa turut mencurahkan pemikirannya guna penajaman antara lain: Prof. Dr. Budi Indra Setiawan dari IPB yabg juga sebagai Tenaga Ahli Menteri Pertanian Bidang infrastruktur, Prof. Salampak Dohong dari Universitas Palangkaraya, Prof. Dr. Budi Mulyanto dari IPB yang juga Ketua Himpunan Ilmu Tanah Indonesia, Dr. M. Bambang Prayitno dari Universitas Sriwijaya, Dr. Baba Barus dari IPB, I Nyoman Suryadipura dari Wetland Internasional Indonesia, Prof. Dr. M. Noor dan Prof. Dr. Masganti dari Balitbangtan, serta beberapa pakar lainnya. Kepala BPTP Balitbangtan Sulawesi Tengah dan Peneliti dari BPTP Balitbangtan Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Papua Barat turut hadir dan memberikan saran perbaikan.

Peta tipologi lahan rawa penting sebagai dasar untuk pencetakan lahan pertanian baru dan untuk formulasi teknologi pengelolaan lahan guna intensifikasi pertanian di lahan rawa eksisting. "Pemerintah kita berupaya meningkatkan produksi dengan intensifikasi dan ekstensifikasi. Peta tipologi lahan rawa adalah dasar untuk ekstensifikasi" jelas Prof. Dr. Dedi Nursyamsi, Kepala BBSDLP dalam arahannya. "Masalah air di lahan rawa mudah diatasi dan kita punya teknologinya. Ada teknologi sheet-pipe system yang diperkenalkan Jepang. Kementerian Pertanian bekerjasama dengan JICA untuk pengembangan teknologi tersebut. Informasi substratum pada peta tipologi lahan rawa dapat mengarahkan dimana teknologi itu diaplikasikan, "tegas Prof. Dr. Budi Indra, TAM bidang Infrastruktur.

Dalam paparannya, Dr. Yiyi Sulaeman, Kabid KSPHP yang juga sebagai pengembang metodologi pemetaan tipologi lahan rawa skala 1:50.000 menegaskan: "kita memerlukan peta tipologi lahan rawa skala 1:50.000 sebagai media untuk transfer teknologi pengelolaan lahan rawa. Kita sudah banyak teknologi yang siap discaling up. Kemana suatu teknologi tepat diterapkan dan bisa berhasil diarahkan dan ditentukan oleh peta tipologi lahan rawa ini.  Suatu teknologi bisa gagal diterapkan karena memang kita keliru memilih target lokasi. Jadi gagal bukan karena teknologinya tidak mumpuni, tetapi karena tidak kompatibel lokasinya.."Bahwa lahan rawa sangat spesifik tipologi dan prilakunya diamini oleh semua nara sumber. "Saya melihat rawa di Papua Barat itu berbeda jauh karakteristik dan prilakunya dengan rawa di Kalimantan Selatan.." ungkap Prof. Dr. M. Noor yang berkesempatan ground checking untuk verifikasi peta tipologi lahan rawa di Papua Barat.

"Per 2012, kita hanya punya acuan peta rawa skala 1:500.000 yang disusun Puslittanak tahun 1991. Informasi rawa juga ada pada skala 1:1.000.000 yang dirilis Puslittanak tahun 2000,dan iItu sangat kasar. Kita kombinasikan kemajuan teknologi informasi dan data tanah warisan yang dibantu citra satelit resolusi tinggi dan dipadukan dengan data mining dan pemodelan. Dengan itu kita akselerasi pemetaan.."jelas Yiyi saat ditanya cara pembuatan peta. "Dengan arahan peta ini kita bisa membuat peta skala 1:10.000 dan 1:5.000 untuk operasional lapangan dan skala desa.." tambahnya.

Teknologi pemetaan tipologi lahan rawa juga disoroti oleh pembicara dari kalangan akademisi. Maklum saja, karena teknik pemetaan yang biasa memerlukan waktu puluhan tahun dan biaya tidak sedikit agar peta tipologi lahan skala 1:50.000 ini selesai. Dengan pemahaman sebaran tipologi lahan rawa, aplikasi teknologi alsintan, tata air, varietas, dan pengelolaan lahan bisa menjadi lebih efektif dan efisien. Kehadiran Peta tipologi lahan rawa dapat mengakselerasi mewujudkan lahan rawa sebagai lumbung pangan nasional.*(Yy)