Palu, 19 Okt 2017. Kegiatan Pengembangan Pertanian Lahan Kering Iklim Kering dilaksanakan di Kab. SIGI Sulteng melalui kegiatan KP4S. 

"Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan Ka. Balitbangtan, SAM Bidang Infrastruktur dan Ka. BBBSDLP melihat fakta ada ratusan ribu hektar lahan kering yg belum optimal diusahakan di Prov. Sulteng" demikian dipaparkan Kepala BPTP Sulteng, Dr. Andi Baso Lampengeng.

Di Provinsi Sulawesi Tengah terdapat ratusan ribu hektar lahan kering yang belum dimanfaatkan secara optimal, sementara dijumpai air melimpah di sekitar lahan pertanian yang belum termanfaatkan secara efisien.

“Melihat kondisi tersebut Kepala BBSDLP, Prof. Dr. Dedi Nusyamsi mendorong adanya kegiatan penelitian di lahan kering yang memanfaatkan inovasi pengelolaan lahan kering yang dimiliki Balitbangtan.”, papar Baso.

Dusun Buluponto, Kabupaten Sigi terpilih menjadi contoh pengembangan pertanian lahan kering iklim kering.

Dalam kesempatan pembukaan acara, Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Perdagangan dan Hubungan Internasional, Dr. Mat Syukur, MS. menekankan tiga hal dalam pembukaan latihan ini yakni: kelembagaan yang aktif, manajemen tata kelola air, dan manajemen pascapanen. 

Syukur juga menekankan bahwa lahan kering mesti mendapatkan perhatian yang sama seperti lahan sawah.  Disebutkan pula pengembangan pertanian (di lahan kering) tidak bisa dilakukan oleh Kementan sendiri, diperlukan kerjasama dengan pihak swasta.

Dalam teknik pemanfaatan air efisien, BBSDLP menerapkan sistem irigasi tetes dan sprinkler. Sedangkan dari aspek pengelolaan lahan diterapkan sistem pemupukan berimbang, pemanfaatan biodekomposer, amilioran (biochar), dan penerapan kelembagaan petani.

Dalam kesempatan pelatihan kali ini dititikberatkan pada materi tentang peningkatan kapasitas kelembagaan petani yang disampaikan oleh Peneliti BBP2TP Ir. Rachmat Hendayana, MS.

Secara umum dijabarkan kelembagaan di tingkat petani, syarat sebuah lembaga, dan ciri-ciri keberhasilan sebuah lembaga. Rachmat menuturkan keberhasilan sebuah lembaga tidak hanya pada teknologi semata, namun pada pelaku utama (petani) maupun pelaku antara (PPL). Ciri lain adalah tingkat kekompakan anggota, komunikasi antar anggota, kemandirian kelompok, respon positif terhadap teknolog, dan kemauan bekerjasama. Dari aspek budidaya antara lain meningkatnya produksi, meningkatnay pendapatkan anggota kelompok, distribusi pendapatan, dan pendidikan yang meningkat.

Dari hasil wawancara dengan beberapa orang petani, umumnya petani menyambut baik kegiatan di atas.

Penerapan panca kelola lahan juga dinilai sangat membantu meningkatkan performa vegetatif tanaman. Ketua Poktan Natural Tani Blupounto Jaya, Twinarto menyambut hangat kegiatan tersebut. Aplikasi teknologi Balitbangtan dirasakan akan meningkatkan produktivitas pertanian berbasis organik pada usahataninya (SB/Okt/2017)