Bogor, 23 Okt 2017. Plagiarisme menjadi isu hangat di kalangan para peneliti dan para penggiat hak cipta. Menurut kamus online Merriam-Webster, "plagiarize” diartikan sebagai mencuri dan mewariskan (ide atau kata-kata yang lain) sebagai milik sendiri dan menggunakannya tanpa menyebutkan sumbernya. Plagiarisme adalah tindakan kecurangan.

Para peneliti memiliki kepentingan terhadap isu plagiarisme, baik terhadap perlindungan karya cipta sendiri untuk tidak diplagiasi, maupun pada aspek kecermatan agar tidak terjebak pada plagiarisme.

Guna memahami plagiarisme, terutama dalam penulisan karya tulis ilmiah (KTI), BBSDLP telah menghadirkan Kepala Pusat Pendidikan Pembinaan dan Pelatihan LIPI, Prof. Dwi Eny Djoko Setyono untuk menyampaikan paparan tentang plagirisme dan bagaimana tidak pencegahannya.

Dalam paparan Dwi Eny menyampaikan tiga pilar kode etik peneliti yang harus diketahui secara benar. Pemahaman terhadap ketiga rambu tersebut akan menghindarkan setiap insan peneliti terhadap perilaku plagiat.

Tiga pilar kode etik tersebut adalah a) Kode Etika Peneliti berisi “Rambu-rambu Etika”, b) Klirens Etik Penelitian dan Publikasi berisi Pengecekan Mandiri Kepatuhan Etika”, dan c) Kode Etika Publikasi Ilmiah, merupakan rambu “Upaya Menjamin Mutu Publikasi Ilmiah”. Masing-masing tertuang dalam Perka LIPI No.5/2013, Perka LIPI No. 8/2013, dan Perka LIPI No. 5/2014.

Dwi Eny menjabarkan pula definisi ‘plagirisme’ yakni perbuatan: a) menggunakan atau mengambil sesuatu (objek) yang bukan miliknya. b) mencuri kata-kata, kalimat, idea/konsep milik orang lain, mengambil/mencuri hak intelektual orang lain, d) Menggunakan hak intelektual orang lain tanpa ijin dan tanpa apresiasi. Adapun objek yang dicuri dapat berupa ide, konsep, gambar, foto dan karya-karya lainnya.

Mengacu pada Megan Lowe (http://www.ulm.edu/~lowe/plagiarism.ppt) ada empat jenis plagiarisme yakni copying plagiarsm, patchwork plagiarism, paraphrasing plagiarism, unintentional plagiarism.

Copying plagiarsm: menyalin karya orang lain dan menempelkan/menaruh nama kita pada karya tersebut. Atau mengcopy kata-kata/ kalimat orang lain sebagai karya sendiri

Patchwork plagiarism: meminjam/mengambil/ meniru kalimat dan/atau paragraph dari sumber asli dan menyisipkannya kedalam karya sebagai karya sendiri.

Paraphrasing plagiarism: Membuat paragraph/ kesimpulan hasil karya orang lain tanpa menyebutkan sumbernya. Atau mengganti/mengubah kata-kata dalam suatu kalimat/paragraf hasil pemikiran/karya orang lain sebagai karya sendiri.

Unintentional plagiarism: Mensitasi secara tidak benar dan/atau mensitasi pada sumber yang salah. Pada kasus ini penulis (author) tidak bermaksud melakukan plagiarism.

Dwi Eny menekankan sikap kehatian-hatian dalam menulis karya ilmiah, terutama bila mengungkapkan data berupa angka numerik, bila angka tersebut berasal dari temuan orang lain, maka harus langsung disebutkan.

Demikian pula dalam hal mensitasi sumber tulisan, saat mensitasi langsung tuliskan sumbernya. “Bila tidak, maka akan menumpuk dan bisa lupa, kita akan bingung atau kehilangan jejak sumber referensi kita.” tandas Dwi Eny.

Ada beberapa hal yang dapat mencegah perilaku plagiarisme, yakni: (a) jujur, (b) usahakan selalu menggunakan hasil karya sendiri, (c) pastikan dan jelaskan bahwa ide/konsep Anda berbeda dari konsep orang lain, (d) perlu kehati-hatian jika menghasilkan karya bersama, (e) menjaga tract record dari sumber (referensi, data, ideas) secara baik, (f) sebutkan author dari karya orisinal yang digunakan, dan (g) lakukan sitasi secara benar.

Dari segi publikasi juga terdapat kode etik yang mesti dipatuhi yakni: netral, adil, dan jujur. Netral diartikan sebagai bebas dari pertentangan kepentingan dalam pengelolaan publikasi; Adil yakni memberikan hak kepengarangan kepada yang berhak sebagai pengarang; dan Jujur yakni bebas dari duplikasi, fabrikasi, falsifikasi, dan plagiarism.

Beberapa kasus plagiarisme diungkapkan pula Dwi Eny. Pelanggaran plagiarisme berujung pada sanksi, mulai dari sanksi sosial, pencabutan karya ilmiah, pencabutan jabatan fungsional peneliti, hingga berakhir pada pemberhentian sebagai PNS.

Pada bagian penutup Dwi Eny menekankan dua sikap untuk menghindari plagiarisme yakni: 1) Kepatuhan pada Kode Etika Publikasi Ilmiah yang akan menghasilkan: Publikasi Ilmiah Bermutu; Kinerja Hasil Riset Ilmiah; Kredibilitas Peneliti. 2) Komitmen pada Kode Etika Publikasi Ilmiah Penting dalam Memajukan Iptek Bangsa.

Sesi diskusi berlangsung hangat, beberapa peneliti memberikan pertanyaan secara interaktif. Pertanyaan tentang karya ilmiah berupa peta/atlas menjadi bagian yang paling banyak diungkap. Terutama menyangkut persoalan naskah, yakni terdapat pengulangan pada kata pengantar, pendahuluan dan metode.

“Karya ilmiah kita sebetulnya adalah peta. Namun yang sering banyak dipersoalkan malahan naskah” ungkap Dr. Sukarman salah satu peneliti seniar BBSDLP.

Menjawab pertanyaan di atas, Dwi Eny menguraikan, bila sudah ada standard pemetaan yang diacu maka sebaiknya standard tersebut dicetak sebagai Petunjuk Teknis yang diacu oleh semua peneliti. Bila peta merupakan karya ilmiah utama, maka peta ditampilkan di bagian depan sedangkan naskah dan penjelasan tentang peta diletakkan di bagian belakang. (SB, 23/20/2017)

Sumber gambar: http://www.plagiarismchecker.net/plagiarism-pictures.php