Panen air atau water harvesting merupakan istilah untuk menyimpan air hujan untuk disimpan di musim kemarau. Dam parit merupakan salah satu teknologi penampungan dan pendistribusian air hujan.

Pada wilayah iklim basah, seperti Sumatera, Jawa, Kalimantan, Papua dan Maluku suplai air cukup tinggi. Iklim basah mempunyai curah hujan lebih dari 2000 mm per tahun. Tergantung daerahnya, wilayah ini mempunyai dua puncak hujan atau satu puncak yang sudah barang tentu mempengaruhi suplai hujan ke wilayahnya.

Air hujan yang jatuh ke permukaan bumi akan masuk dan berkumpul ke parit selanjurnya anak sungai dan sungai.

Dam parit adalah salah satu infrastruktur panen air yang di buat dengan membendung aliran parit sungai kecil serta mendistribusikan air untuk mengairi lahan pertanian disekitarnya.

Kondisi ideal untuk membuat dam parit yaitu: dibangun pada aliran sungai berorde 1 sampai 3 atau yang mengalir sepanjang tahun dengan debit minimal 15 liter/detik, jarak lahan yang akan diairi <10 kilometer dan memiliki ketinggian yang lebih rendah dibandingkan dam paritnya.

Pembuatan dam parit memiliki keuntungan untuk mengurangi aliran, meningkatkan cadangan air tanah sehingga dapat menjaga kestabilan aliran dasar pada musim kemarau, dapat menampung volume air dalam jumlah besar dan mengairi areal yang relatif luas, dan dalam pembuatannya tidak mengurangi lahan produktif karena dam parit dibuat dengan memanfaatkan badan saluran atau sungai.

Dam parit ini memiliki dua keunggulan utama, yaitu: pasokan air akan kontinyu serta biaya operasional menjadi lebih rendah. (*Yy)