Bogor-Dalam rangka memperingati hari tanah sedunia, Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) bersama Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (HITI) akan melaksanakan seminar nasional, talkshow dan peresmian Museum Tanah yang akan menjadi satu – satunya museum tanah di Indonesia.

Acara akan digelar pada tanggal 5 – 7 Desember 2017 bertempat di  Gedung Agrosinema BBSDLP dan Gedung Museum Tanah di Jalan Juanda. Hari Tanah Sedunia tahun ini mengusung tema “Caring for the Planet Starts from the Ground”.  Tema tersebut di cetuskan oleh Badan PBB yang bergerak di bidang Pangan dan Pertanian Dunia atau FAO.

Untuk memperingati acara tersebut HITI mengadakan seminar nasional “Refleksi Akhir Tahun Kebijakan Pengelolaan Lahan Basah di Indoneisa”. Dalam acara tersebut yang akan bertindak sebagai Keynote Speech adalah Prof. Dr. Dedi Nursyamsi, M.Agr.

Berdasarkan data BBSDLP Lahan basah merupakan sumberdaya strategis dengan luas 27 juta hektar, atau 14% dari luas total lahan Indonesia. Lahan basah juga merupakan lahan yang potensial untuk kegiatan pembangunan, terutama pembangunan pertanian.

Dengan potensinya yang besar, pembangunan pada lahan basah menjadi cukup intensif  dan banyak dijadikan dasar untuk proses pengambilan kebijakan.

Lahan basah sebagai  modal pembangunan pertanian tentu menjadi sangat strategis bagi keberlanjutan penyediaan bahan pangan, kayu, serat – seratan, minyak dan lainnya sebagai bahan baku industri dan bahan baku obat – obatan, dan sudah barang tentu merupakan bidang yang masih sangat besar dalam menyerap jumlah tenaga kerja di Indonesia.

Menurut Prof. Dr. Budi Mulyanto selaku ketua HITI, seminar ini dilaksanakan untuk membuat ruang refleksi dari berbagai kegiatan yang sudah dilaksanakan terkait lahan basah, yang termasuk gambut baik dalam sudut pandang keilmuan, praksis dan kebijakan.(lr)