Bogor. Pemantauan lahan pertanian secara spasial semakin penting khususnya untuk prediksi waktu dan tempat panen serta kejadian gangguan pertanaman seperti kebanjiran. Teknologi Drone dari udara dikombinasikan dengan Open Camera dari darat menghasilkan informasi yang bermanfaat untuk menjawab keperluan tersebut. Tim BBSDLP telah menggunakan kedua teknik itu untuk pemantauan waktu dan lokasi panen di 6 kabupaten.

Drone, kata itu sudah tidak asing lagi saat ini. Drone adalah pesawat nirawak (unmanned aerial vehicle) yang mampu mengendalikan dirinya sendiri atau dikendalikan oleh pilot dari jarak jauh/secara remote. Secara fisik drone menyerupai pesawat terbang, mirip helikopter atau berdesain multirotor. Drone dibedakan atas drone mainan, drone konsumer, drone professional, drone militer, drone industrial, drone penelitian,dan drone internet. Untuk pemantauan lahan pertanian, drone konsumer tipe multirotor telah diujicobakan di beberapa daerah.

Identifikasi lahan sawah siap panen dan sebaranya sangat diperlukan untuk perencanaan stok padi ataupun perencanaan jadwal panen, yang merupakan informasi dasar bagi kebijakan-kebijakan lainnya. Teknik pengumpulan data yang biasa dilakukan adalah petugas mengunjungi lokasi kemudian memotret areal lahan yang siap dipanen menggunakan open camera.  Open camera adalah aplikasi kamera berbasis android yang dapat diinstall dalam smartphone. Open camera ini bisa disetting posisi geografisnya. Tujuannya adalah untuk memberikan informasi kepada pengambil kebijakan tentang kondisi lahan yang akan dipanen.

Menggunakan open camera, pengambil kebijakan dapat mengetahui posisi geografis areal calon, kondisi pertumbuhan, elevasi, dan tanggal serta jam pengambilan. Dengan posisi koordinat ini, foto dapat dimasukkan ke dalam perangkat aplikasi sistem informasi geografis untuk analisis lebih lanjut.

Meskipun foto-foto open camera bagus dalam menyediakan possisi dan kondisi pertanaman jarak dekat, namun hasil tidak dapat memberikan gambaran yang lebih baik tentang sebaran lahan. Sebuah drone diperlukan dan pemotretan dilakukan dari udara pada ketinggian maksimum 200 meter di atas permukaan lahan.

Akhir-akhir ini Tim BBSDLP dipercaya untuk melakukan identifikasi areal lahan sawah yang siap panen. Dimana, kapan, seberapa luas adalah 3 pertanyaan yang wajib dijawab. Informasi lainnya adalah varietas yang ditanam, produktivitas dan harga tertinggi dan harga yang terendah di lokasi panen. Tim BBSDLP mengoperasikan drone dan open camera. Drone tidak hanya untuk memotret areal namun juga melakukan pengambilan video sehingga diperoleh pemahaman yang detil dan terkini tentang kondisi lahannya. Tim telah melakukan pemotretan dengan kedua piranti ini di Kabupaten Kerawang, Subang, Purwakarta, Pandeglang, Serang, dan Garut.

Penerapan kedua teknik dan alat ini untuk pemotretan dan pengambilan video juga dikembangkan untuk pemantauan kejadian bencana seperti banjir di lahan pertanian. Tim BBSDLP juga mencoba teknik ini untuk memantau sebaran genangan banjir sementara yang menggenangi lahan persawahan.

Penggunaan drone di udara dan open camera di daratan merupakan kombinasi yang serasi untuk pemantauan kondisi lahan khususnya identifikasi areal lahan siap panen untuk pembuatan peta jadwal panen maupun untuk identifikasi areal yang mengalami gangguan banjir. Pengalaman tim BBSDLP menerapkan teknologi ini di beberapa lokasi dengan agroekosistem yang berbeda memberikan masukan akan potensi kedua alat ini untuk identifikasi cepat dan real time. Penelitian lanjutan diperlukan khsusunya untuk penggunaan kamera multispektral dan penggunaan lainnya. (yy)