Badan Litbang Pertanian telah menghasilkan berbagai produk inovasi yang telah dilisensi. Untuk kepentingan produksi maka dikerjasamakan dengan pihak swasta. Hingga Desember 2017 terdapat 225 lisensi yang dikerjasamakan, 148 lisensi berstatus aktif dan sisanya memerlukan perpanjangan.

Untuk menjaga mutu, ketersediaan, keberlangsungan produk, dan ketersediaan bahan baku, maka setiap mitra kejasama sekaligus sebagai produsen memerlukan pendampingan dan pengawasan. Pengawasan dan verifikasi yang dilakukan meliputi proses produksi, jumlah dan target produksi, pengguna, pengembangan produk, teknik promosi, dan bahan baku produk.

Terkait dengan produk inovasi, pada kesempatan berbeda  Kepala Badan Litbang Pertanian, Dr. M. Syakir  Syakir menyampaikan Balitbangtan banyak memiliki produk teknologi unggulan, namun agar produk tersebut dapat dikenal luas masyarakat perlu pihak lain untuk memproduksi secara masal. “Kerjasama lisensi bertujuan agar teknologi tersebut dapat dibuat secara cepat dan masal. Karenanya perlu evaluasi terhadap perjanjian lisensi secara reguler untuk menjaga kualitas dan volume” tandas Syakir.

Verifikasi dan  evaluasi dilakukan terhadap produk Biobus, BioAgrometh, dan Bioagrodeko berlangsung pada 7 Februari 2018 bertempat di Pabrik PT. BIONUSA, Purwakarta. Bertindak sebagai verifikator adalah Miyike Triana, SP, Morina Pasaribu, SP (BPATP), Saefoel Bachri, S. Kom, MMSI (BBSDLP), Ijang (Balittanah),  dan ketiga inventor produk yakni Dr. Surono (Biobus), Dr. Etty Pratiwi (BioAgrimeth), dan Dr. Selly Salma (BioAgrodeko).  

Ketiga produk tersebut merupakan produk unggulan Badan Litbang Pertanian yang telah terbukti dapat meningkatkan produksi.

Biobus adalah pupuk hayati secara khusus berfungsi meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas tanaman kedelai, dengan manfaat: menambat N2 udara, meningkatkan ketersediaan hara P-tanah, meningkatkan ketahanan tanaman (anti patogen), serta mamacu pertumbuhan, pembungaan, dan pemasakan. Sedangkan BioAgrimeth adalah pupuk hayati yang berfungsi meningkatkan pertumbuhan dan produktifitas tanaman (padi dan kedelai), hortikultura (cabe dan sayuran), serta tanaman perkebunan (tebu).

BioAgrodeko adalah biodekomposer yang berfungsi mempercepat pelapukan (dekomposisi) biomassa tanaman. Penggunaan produk ini pada blotong (limbah pabrik gula) sangat efektif menghambat pertumbuhan mikroba patogen dan mengurangi bau busuk. Produk ini sangat mudah penggunaannya dilakukan oleh petani.

Ketiga inventor produk di atas menekankan perlunya menjaga kualitas, kelangsungan dan ketersediaan produk. Biobus sebagai salah satu produk unggulan pada tahun 2017 telah diproduksi sebanyak 217.679 sachet, sedangkan BioAgrimeth dan BioAgrodeko akan mulai diproduksi tahun 2018 dengan target masing-masing sebesar 200.000 sachet dan 40.000 kg.

Meskipun masih diproduksi dalam skala relatif kecil, namun menurut Selly kanal pengembangan dan promosi produk saat ini sangat terbuka antara lain melalui Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) yang berada di 33 provinsi sebagai show window produk. Karenanya Selly menekankan perlunya kerjasama pihak produsen dengan para peneliti dan penyuluh yang ada BPTP untuk lebih memperkenalkan produk tersebut. Sementara itu Etty Pratiwi dan Surono menekankan perlunya menjaga pasokan bahan baku produk untuk menjaga kelangsungan produk, terutama saat permintaan tinggi.

Dari aspek promosi, pemanfaatan media online dan media media sosial seperti Facebook, Twitter, Youtube, dan Instagram bisa mendorong produk menjadi lebih dikenal masyarakat (SB/Feb/2018).