Bogor, 10 April 2018. Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) melaksanakan Workshop Proximal Soil Sensors yang dibuka oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) dengan narasumber Dr. Edward Jones, The University of Sydney, Australia. Workshop ini merupakan tindak lanjut kerjasama penelitian antara Balitbangtan dengan The University of Sydney dengan output akan menghasilkan sebuah prototype digital soil tester menggunakan sensor.

Pemupukan merupakan faktor produksi penting dalam pembangunan pertanian. Perkembangan teknologi informasi yang cepat harus dimanfaatkan untuk membuat alat deteksi hara yang presisi sekaligus dapat memberikan rekomenasi pemupukan. Demikian Kepala Badan Litbang Pertanian Dr A. M. Syakir menyatakan pada pembukaan Workshop on Proximal Soil Sensing for Fertilizers Recommendation tadi siang di Ruang Rapat Mess BBSDLP.

Tujuan dari kerjasama ini adalah menghasilkan sebuah prototype soil tester menggunakan sensor proximal yang dapat memberikan rekomendasi pemupukan. Saat ini kita fokus ke komoditas padi, jagung, dan kedelai. Demikian Kepala BBSDLP Prof Dedi Nursyamsi menegaskan.

Dr. Edward Jones pakar sensor dari The University of Sydney mengatakan bahwa sensor tanah proximal merupakan alat deteksi hara tanah yang memiliki akurasi sebanding dengan hasil analisis laboratorium. Selanjutnya alat ini bisa dihubungkan dengan aplikasi rekomendasi pemupukan sehingga dapat memberikan rekomendasi pemupukan secara cepat, tepat, dan murah.

Perangkat uji tanah cepat sangat dibutuhkan saat ini dan menjadi tantangan Badan Litbang Pertanian untuk mewujudkannya. Analisis tanah di laboratorium membutuhkan biaya mahal, waktu antri lama, dan menggunakan bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. Dengan demikian maka perangkat uji tanah yang menggunakan sensor tanah proximal ini merupakan terobosan teknologi yang dapat menghemat biaya dan waktu serta aman bagi pemakainya. Demikian Kepala Balai Penelitian Tanah Dr Husnain menjelaskan.

Jones menambahkan bahwa teknologi canggih ini menggunakan sensor Near Infrared. Hasil penelitian The University of Sydney menunjukkan bahwa penggunaan sensor tanah proximal dengan gelombang elektromagnetik Visible Near Infra-Red Spectroscopy (VisNIR) pada panjang gelombang 500-2500 nanometer memiliki korelasi sangat baik dengan parameter sifat tanah, yaitu: pH, KTK, C-organik, total N, P dan K serta tekstur tanah. Sehingga teknologi ini dapat menganalisis tanah secara langsung ex situ di lapangan ataupun juga di laboratorium.

Hingga saat ini belum ada alat yang mampu mendeteksi unsur hara dalam tanah sebagaimana hara yang diserap tanaman. Namun setelah ditemukannya sensor cerdas seperti Vis NIR yang memiliki ketepatan tinggi maka alat ini dapat menjadi solusi untuk memberikan rekomendasi pemuoukan dengan cepat tepat dan murah. Selain itu alat ini juga bisa mempercepat updating data peta tanah dan berbagai kebutuhan informasi terkait tanah dan lahan.

Prototype proximal soil sensor ini akan segera di release bulan Mei 2018 dan saat ini dalam tahap kalibrasi dengan bervariasinya jenis tanah di Indonesia. Nantikan kehadiran Digital Soil Tester dengan Smart Sensor ditengah-tengah kita semua demi kejayaan pertanian Indonesia.