Jambi, 10 April 2018. Informasi geospasial kesesuaian lahan untuk komoditas pertanian dalam bentuk peta tidak disangsikan lagi dapat mempertajam perencanaan dan pengelolaan lahan untuk menggenjot produksi pertanian. Badan Litbang Pertanian telah menghasilkan banyak peta tematik yang kemudian diberikan ke pemerintah kabupaten termasuk ke 11 kabupaten/kota se-Provinsi Jambi. 

“Peta-peta ini adalah salah satu produk unggulan Badan Litbang Pertanian, yang tujuannya untuk mendorong pemerintah daerah dalam memajukan pertanian,” kata Kepala Bidang Program dan Evaluasi Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Mas Teddy Sutriadi.

Pada tahun 2017 Badan Litbang Pertanian melalui Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) telah menyelesaikan pemetaan skala detil untuk seluruh kabupatendan kota di Provinsi Jambi. Di Jambi, kegiatan sosialisasi pata tanah dan peta kesesuaian lahan dilaksanakan di Hotel Shang Ratu dengan Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan Provinsi Jambi.

Data sumberdaya lahan langsung diserahkan kepada perwakilan masing-masing Dinas Pertanian Kabupaten, yakni berupa peta tanah, peta kesesuaian lahan, peta rekomendasi pengelolaan lahan  skala detil (1:50.000), beberapa buku sumberdaya lahan dan buku lahan gambut Indonesia, serta alat perangkat uji tanah (PUTR, PUTS, PUP, dan PUTK) untuk 11 kabupaten/kota di Provinsi Jambi. Perangkat uji ini juga sebagai produk unggulan yang digunakan untuk penentuan rekomendasi pemupukan di lapangan.

R Adi Guna selaku perwakilan Kepala Dinas Pertanian TPHP Provinsi Jambi mengatakan “Sosialisasi peta tanah dan kesesuaian lahan ini sangat bermanfaat dan penting khususnya bagi seluruh UPT dinas pertanian/peternakan di kabupaten dan kota dalam mendukung perencanaan kebijakan dan tupoksi termasuk pelaksanaan Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (PLP2B).”

Dalam mengekstrak informasi dari peta yang ada, para perwakilan Dinas diberikan waktu untuk berdiskusi secara langsung dengan peneliti BBSDLP yang turut hadir yaitu Dr. Erna Suryani dan Ir. Anny Mulyani. Para peneliti juga memberikan pelatihan tata cara membaca peta tanah, peta kesesuaian lahan, dan rekomendasi pengelolaan lahan.

 “Banyaknya informasi yang terkandung dalam peta harus bisa diekstrak semaksimal mungkin oleh peserta, agar dalam pelaksanaannya di lapangan menjadi tepat guna dan bermanfaat bagi pembangunan pertanian di daerah,” ungkap Ir. Anny Mulyani. (AM)