Saat ini produktivitas rata-rata padi di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) baru mencapai sekitar 5.3 t/ha atau sekitar rata-rata nasional. Parimo sebagai sentra produksi beras di Propinsi Sulteng harus terus meningkatkan produksi gabahnya antara lain melalui peningkatan produktivitas. Demikian diungkapkan Kepala Dinas Pertanian, Hortikultura, dan Perkebunan Nelson Metubun SP di Aula Kantor Dinas saat acara rapat koordinasi Upsus Pajala kemaren sore 6 Juni 2018. Rakor ini dihadiri oleh para Kabid, Kasie, staf Dinas, dan Kepala Uptd Pertanian seluruh kecamatan sekabupaten Parimo.

Lebih lanjut Nelson mengatakan bahwa lebih 80% petani di Parimo masih menggunakan cara tabela (tanam benih langsung) dengan seeder dan hambela (hambur benih langsung) dengan blower, sisanya menggunakan cara tanam pindah (tapin). Cara tanam menggunakan jarwo transplanter diyakini meningkatkan produktivitas secara signifikan sehingga berpotensi besar meningkatkan produksi padi ujar Nelson menambahkan.

Hal ini diamini oleh Kepala UPTD Pertanian Kecamatan Sausu Made Suartana yang mengatakan bahwa petani Sausu mulai melirik jarwo transplanter. Bila petani melihat suatu teknologi bisa meningkatkan produksi padi maka mereka dengan sendirinya akan meniru, tidak perlu disuruh-suruh lagi kata Made menandaskan.

Kepala UPTD Kecamatan Torue Wayan Muliarsa SP juga mengatakan hal yang sama. "Dulu saya diketawain petani saat memperkenalkan jarwo transplanter, kini mereka ngejar-ngejar saya minta jarwo transplanter" ujar Muliarsa sambil ketawa. Mereka sekarang yakin bahwa hasilnya pasti meningkat setelah saya melakukan pengujian yang hasilnya membuktikan bahwa jarwo transplanter meningkatkan hasil GKG dari 6 menjadi 7 t/ha atau hasil meningkat sekitar 17% kata Muliarsa menambahkan.

Wayan Puja, Ketua Gapoktan Mekartani Kec. Torue yang memiliki sawah 3 ha mengatakan bahwa hasil beras meningkat 5 ku/ha atau gabah 1 t/ha dengan jarwo transplanter. Uang dari peningkatan hasil ini sekitar Rp 4.5 juta/ha cukup untuk menutupi biaya olah tanah dan tanam kata Puja menambahkan. Sekarang petani belajar sendiri untuk mengoperasionalkan jarwo transplanter bantuan Kementan. Petani gratis menggunakannya dan hanya mengeluarkan uang bensin dan pemeliharaan ujar Puja menambahkan.

Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan sekaligus penanggungjawab Upsus Pajala Kab. Parimo Prof. Dedi Nursyamsi mengatakan bahwa potensi untuk meningkatkan produksi padi di Parimo sangat besar. Peningkatan produktivitas padi dengan jarwo transplanter bisa mencapai 15-20%. Bila semua petani menggunakan jarwo transplanter maka produksi padi Parimo ajan meningkat sekitar 15% kata Dedi menambahkan.

Selanjutnya Dedi mengatakan bahwa Parimo juga bisa meningkatkan produksi padi melalui pengembangan areal tanam baru (PATB) ke lahan kering. Ada sekitar 500 ribu ha lahan kering yang bisa ditanami padi ladang. Lahan tersebut meliputi tegalan, ladang, perkebunan, padang rumput dan lain-lain ujar Dedi menambahkan.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Nurhidayah SP mengatakan bahwa tahun ini Parimo melaksanakan kegiatan PATB untuk komoditas jagung dan kedelai. Kami masih menunggu kiriman benih jagung dan kedelai dari propinsi karena petani sudah siap tanam kata Nurhidayah menambahkan.