Jakarta, 3 Juli 2018 - Kementerian Pertanian mendukung segala upaya mengurangi sampah plastik di Indonesia, hal ini untuk menyelamatkan lahan pertanian Indonesia dari kontaminan yang sulit diurai tersebut. Sampah plastik yang mencemari tanah secara langsung akan mengurangi produtivitas, apalagi diperkirakan butuh 100 hingga 500 tahun agar plstik bisa terurai secara alami.

Kantong plastik itu sulit terdegradasi, bahkan bisa dikatakan tidak terdegradasi. Dan itu tentu saja merusak lingkungan. Tanah dan lahan pertanian yang tercemar atau banyak sampa plastik, miroba yang ada di dalam tanah tidak akan mampu menghasilkan unsur hara, dan karenanya siklus organik terhenti,” kata Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) Kementerian Pertanian, Prof. Dr. Dedi Nursyamsi, MAgr menanggapi peringatan Hari Bebas Kantong Plastik Sedunia yang jatuh hari ini, Selasa (3/7).

Dedi menegaskan sampah plastik adalah kontaminan dalam tanah yang mengganggu pengolahan tanah dan akhirnya pertumbuhan tanaman. Plastik-plastik di lahan pertanian mengganggu pengolahan tanah dan mengganggu sifat fisika, porositas dan sistem draenase tanah yang dapat menyebabkan tanah tidak sehat.

“Tanah yang banyak plastik di dalamnya adalah tanah bongkor yang tidak lagi bisa dimanfaatkan untuk lahan pertanian. Jika ingin dimanfaatkan, plastik-plastik harus dipungut dan dihilangkan diganti dengan bahan organik atau kompos untuk memulihkan sifat fisik dan kimia tanah,” tambah Dedi.

Kementerian Pertanian mengharapkan ada peningkatan kesadaran lingkungan masyarakat dalam penggunaan plastik, selain juga mendorong kebijakan pemerintah yang sudah dikeluarkan, terutama penerapan kantong plastik berbayar mulai diterapkan di Indonesia pada 21 Februari 2016 bertepatan dengan Hari Peduli Sampah Nasional (HSPN) lalu bisa diterapkan secara masif.

Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan hasil dari 100 toko anggota Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) dalam waktu satu tahun bisa mencapai 10,95 juta lembar sampah kantong plastik. Setara dengan dengan luasan 65,7 hektar atau sekitar 60 kali luas lapangan sepak bola.

Bank Dunia memperkirakan setiap orang Indonesia rata-rata menghasilkan sampah plastik antara 0,8 hingga 1 kg setiap tahunnya. Dengan penduduk lebih dari 250 juta jiwa, jumlah tersebut menempatkan Indonesia sebagai penyumbang sampah plastik ke laut terbesar ke dua setelah tiongkok.

Untuk mengurangi kontaminasi sampah plastik di sumberdaya air Indonesia, pemerintah telah berkomitmen untuk mengalokasikan dana USD 1 milyar setiap tahun seperti dinyatakan dalam World Ocean Summit di Nusa Dua, Bali pada 2017 lalu.

 

Biro Humas dan Informasi Publik

Kementerian Pertanian