Merauke, 30 Juli 2018. Seharian berkeliling Merauke bersama tim Komisi IV DPRI, Kepala BBSDLP, Prof. Dr. Dedi Nursyamsi, MAgr menilai dan kagum dengan kekhasan lahan kabupaten Merauke. "Lahan Merauke ini unik dan pada akhirnya menyediakan plasma nutfah yang unik juga", ungkapnya saat mengunjungi Taman Anggrek yang dikelola komunikas lokal di Taman Nasional Wasur.

Seperti diketahui,Tim Komisi IV DPR RI melakukan kunjungan kerja ke wilayah Merauke. Destinasi kunjungan adalah kantor stasiun Karantina, Taman Nasional Wasur, Wilayah Perbatasan Sota, Pelabuhan Ikan, Gudang Bulog, dan Gudang Pupuk.

Prof. Dedi manyatakan bahawa banyak orang beranggapan bahwa lahan rawa Merauke bermasalah dengan pirit, namun itu tidak semuanya hanya sebagian saja. Sehingga, produksi pertanian tidak masalah apalagi dengan pengelolaan lahan yang bagus.

Lahan Merauke memang mempunyai banyak rawa, lahan rawa pasang surut di sekitar pantai hingga di pinggir sungai-sungai besar yang masih dipengaruhi air asin. Lahan rawa pedalaman terutama daerah cekungan yang tergenang air saat musim hujan dan kering saat musim kering. "Menurut kajian lahan-lahan rawa ini merupakan daerah angkatan dan rawa rawa berada di cekungan sehingga ini memudahkan air terdrainase saat musim kemarau", ungkapnya.

Keunikan lahan rawa Merauke ini juga diamini oleh Dr. Yiyi Sulaeman, Peneliti dan juga surveyor lahan BBSDLP, yang juga turut bersama rombongan. Dr. Yiyi menyatakan bahwa keunikan lahan rawa Merauke menyebabkan banyak kajian untuk karakterisasi dan penilaian pemanfaatan lahannya. Kajian detil sudah dimulai tahun 2005 oleh Tim BBSDLP dan BPTP Papua. Kemudian ada kajian detil lain lagi khususnya di daerah yang sekarang menjadi sentra pertanian. Selain itu kajian-kajian dilakukan terutama untuk perencanaan lahan transmigrasi.

"Kajian terbaru ada tahun 2016, diformat dalam bentuk atlas peta. Selain itu informasi telah diuplaod ke dalam WebGIS BBSDLP, www.sisultan.litbang.pertanian.go.id." pungkas Yiyi.