BBSDLP, Harbin, China (12/9/2018). Kesadaran akan pentingnya pelestarian tanah hitam melalui upaya konservasi dan penerapan teknik kelola tanah berkelanjutan mendorong negara-negara anggota PBB, melalui Global Soil Partnership FAO, mengembangkan jejaring yang disebut International Network of Black Soils (INBS) dengan misi "Protect Black Soil, Invest Future". INBS berkeinginan melestarikan tanah hitam ini. Tanah hitam sebagai anugrah yang berharga untuk ketahanan pangan dan nutrisi di tengah kondisi perubahan iklim.

Workshop pertama INBS dilaksanakan di Harbin, China tanggal 12 September 2018 kemarin dihadiri oleh 18 negara, yaitu Argentina, Brazil, Bulgaria, China, Kanada, Indonesia, Irak, Kazakhstan, Moldova, Mozambik, Mongolia, Ukraina, Slovakia, Turki, Rusia, Amerika Serikat, Uruguay, dan Uni Eropa.

Delegasi dari Indonesia pada pertemuan pertama INBS ini adalah Dr. Yiyi Sulaeman, MSc. Yiyi adalah Kepala Bidang Kerjasama dan Pendayagunaan Hasil Penelitian BBSDLP, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Selain juga sebagai peneliti tanah, Yiyi adalah acting National Focal Poin Indonesia untuk GSP.

Workshop ini dipimpin oleh Prof Han, sebagai Chair INBS, dan Dr. Ronald Vargas membahas definisi tanah hitam, tujuan INBS serta rencana kerja INBS. Hasil dari workshop ini dituangkan dalam komunike Deklarasi Harbin.

Deklarasi Harbin pada pokoknya adalah mendorong pengelolaan tanah hitam secara lebih baik lagi agar lestari dan berproduksi tinggi, memonitor status tanah hitam secara global, mendokumentasikan cara kelola yang baik, mendorong peningkatan kesadaran publik tentang pentingnya tanah hitam, saling menukar pengetahuan dan peningkatan kemampuan pengelolaan tanah hitam, dan memperat kolaborasi antar anggota INBS.

"INBS ini adalah suatu kemitraan dan bagian dari Kemitraan Tanah Global. Kita, Indonesia, juga memiliki tanah hitam cukup luas sekitar 5 % dari total tanah nasional, dan berarti penting bagi petani kita. Deklarasi Harbin menguatkan tekad para anggota INBS untuk bisa mengelola tanah hitam secara lebih baik lagi. Pun, kita di Indonesia, mari bersama-sama memanfaatkan tanah hitam untuk aneka usaha pertanian sambil bersama-sama menjaganya dari ancaman kerusakan seperi erosi tanah dan pengurusan hara." pungkas Yiyi. (sb).