Badan Litbang Pertanian melalui Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) kembali melaksanakan kegiatan bimbingan teknis (Bimtek) dalam mendukung program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani atau disingkat #SERASI di Desa Jejangkit Muara, Kecamatan Jejangkit, Kabupaten Barito Kuala, Provinsi Kalimantan Selatan, Senin (15/07/2019).

Bimtek ini dihadiri oleh 30 peserta, yang terdiri dari petani, penyuluh, detaser, dan petugas POPT.   

Drs. Widhya Adhy, Kepala Seksi Pendayagunaan Hasil Penelitian yang mewakili BBBSDLP dalam sambutannya mengatakan bahwa pelaksanaan bimtek ini merupakan kewajiban bagi kami dalam mensukseskan program #Serasi. Harapannya semua para peserta dapat menggali informasi sebanyak-banyaknya dari bimtek ini.

Sementara itu, Ir. Rina Dirgahayu Ningsih, M.Si yang mewakili Kepala BPTP Kalsel, menyampaikan terima kasih telah mengadakan bimtek disini dan ini merupakan kegiatan bimtek pertama kali yang pelaksanaannya langsung di lapangan. “Harapannya ini bukan pertama dan terakhir, tapi pertama dan selanjutnya,” ungkapnya.

Ir. Edi Rahmaedi, Kepala BPP Jejangkit disela-sela sambutannya juga mengukapkan rasa terima kasih telah mengadakan bimtek ini. “Kami menyambut dengan gembira kegiatan ini, karena ini merupakan kesempatan yang sangat bagus bagi kami mendapatkan ilmu langsung dari ahlinya, yang belum tentu didapatkan oleh kecamatan lain di Barito Kuala. Untuk para peserta diharapkan dapat menyimak dengan baik materi yang akan disampaikan sehingga dapat membangun pertanian yang lebih baik di kecamatan Jejangkit ini,” tegasnya.

Materi bimtek terdiri atas atas teori dan praktek dengan narasumber dari BB Padi, yakni tentang tanam pindah dan tanam benih langsung (Tabela) yang disampaikan oleh Ir. Agus Guswara Sudaryat, MM serta pengendalian hama penyakit oleh Dr. Rahmini.

Agus menyampaikan bahwa kunci keberhasilan dalam budidaya tanaman padi adalah sinergisnya antar teknologi dalam budidaya, yakni pengelolaan tanah yang benar, penggunaan varietas unggul, pemupukan yang berimbang, waktu pemupukan yang tepat, pengelolaan air, serta pengendalian hama dan penyakit secara terpadu.

“Varietas unggul yang digunakan semestinya yang sudah adaptif dengan kondisi setempat dan dengan rasa nasi yang disukai masyarakat sekitar, seperti VUB jenis INPARA (Inbrida Padi Rawa). Tanam padii dilakukan pada umur semaian muda (< 25 HSS), agar anakannya menjadi lebih banyak. Pemberian pupuk akan lebih tepat bila sesuai dengan kebutuhan tanaman dan ketersediaan hara dalam tanah. Ketersediaan hara dalam tanah dapat dianalisa di lapangan menggunakan PUTR (Perangkat Uji tanah lahan Rawa), dan akan diperoleh dosis pupuk yang dianjurkan. Pemberian pupuk sesuai kebutuhan tanaman adalah sesuai dengan fase pertumbuhan tanaman. Akan sangat bagus bila pemberian pupuk dilakukan 3x, dosis pupuk di bagi 3, pemberian I pada 7-10 HST, pemberian II pada 25-30 HST dan pemberian III pada 40-45 HST,” tegasnya.

Hama dan penyakit yang sering menyerang tanaman padi yaitu: tikus, penggerek batang dan wereng cokelat, tungro, blast, serta hawar daun bakteri. Serangan hama dan penyakit tidak dapat dihindarkan, namun bukan berarti tidak dapat dicegah, salah satunya dengan menggunakan “Light Trap” (lampu perangkap serangga yang tertarik cahaya dengan mercury 120 W), bubu perangkap atau LTBS (Linear Trap Barrier System) dan tanaman perangkap,”jelas Rahmini saat penyampaian materi tentang hama dan penyakit.

Light Trap ini dapat mengurangi serangan hama wereng, penggerek batang dan kepinding tanah. Lampu perangkap dipasang pada ketinggian 150-250 cm dari permukaan tanah. Hasil tangkapan dapat mencapai ratusan ribu ekor per malam. Hasil tangkapan ini harus diamati, yakni: 1) bila ditemukan lebih dari 50 ekor wereng coklat/malam, maka harus segera diadakan pengendalian; 2) bila ditemukan kurang dari 50 ekor wereng coklat/malam, segera dilakukan pengamatan di pertanaman, 3) bila didapat 3 ekor wereng coklat/rumpun pada tanaman padi berumur <40 hst atau didapat 5 ekor wereng coklat/rumpun pada tanaman padi berumur >40 hst maka harus segera diadakan pengendalian; dan 4) bila ditemukan ngengat penggerek, maka harus segera dilakukan pengendalian pada 4 hari setelah ngengat tertangkap.

LTBS berupa bentangan pagar plastik setinggi 60-70 cm sepanjang yang diperlukan dan mudah untuk dipindah pasangkan. Bubu perangkap LTBS dipasang setiap maksimal 20 m berselang-seling agar mampu menangkap tikus dari sawah. LTBS dirancang berdasarkan pergerakan harian tikus sawah yang selalu berpola pergi-pulang antara tempat bersarang dan tempat makan. LTBS dipasang diantara sawah dan habitat tikus, seperti di tepi pemukiman, tanggul irigasi dan tanggul jalan.

Setelah penyampaian materi, peserta bimtek melaksanakan praktek langsung cara tanam pindah dan tanam benih langsung serta pemasangan perangkap tikus sistem LTBS.