Bertempat di Auditorium Sadikin Sumintawikarta, Menteri Pertanian yang diwakili oleh Kepala Badan Litbang Pertanian menyerahkan royalti tahun 2019 kepada 18 peneliti sebagai inventor produk inovasi Badan Litbang Pertanian dengan jumlah total sebesar Rp 8.461.059.919 (delapan milyar empat ratus enam puluh satu juta lima puluh sembilan ribu sembilan ratus sembilan belas rupiah). Penyerahan royalti dilakukan pada saat acara Launching Inovasi Badan Litbang Pertanian tanggal 22 Agustus 2019. Dari kedelapan belas peneliti tersebut, tiga diantaranya adalah peneliti BBSDLP, yaitu Dr. Mukhlis, MS; Dr. Etty Pratiwi, MS; dan Ir. Joko Purnomo, MSi.

Dr. Mukhlis, MS sebagai inventor Biotara menyatakan bahwa sebagai pupuk hayati lahan rawa, Biotara mengandung mikroba dekomposer Trichoderma sp. khas lahan rawa, dan telah terbukti meningkatkan hasil padi di lahan rawa hingga 20%. Selain itu, dapat meningkatkan efisiensi pemupukan nitrogen dan fosfor hingga 30%.

Sementara itu, Jeranti yang merupakan inovasi dari Ir. Joko Purnomo, MSi, merupakan pupuk NPK (14-10-18) berbentuk tablet yang sangat cocok untuk tanaman hortikultura berpohon seperti jeruk keprok, dan tanaman hortikultura semusim seperti bawang merah dan cabai. Jeranti telah dilisensi oleh PT Pupuk Kujang.

Sedangkan Dr. Etty Pratiwi, MS, inventor Agrimeth, menyatakan bahwa Agrimeth merupakan pupuk hayati berbahan aktif konsorsia lima bakteri yaitu Methylobacterium sp., Azotobacter sp., Bacillus sp., Rhizobium sp., dan Bradyrhizobium sp. Agrimeth dapat meningkatkan efisiensi serapan hara tanaman pangan, terutama padi, dan tanaman hortikultura. Agrimeth telah dilisensi oleh PT Agro Indo Mandiri. (LQ)