Pada bulan Maret dan Juli 2019, Peneliti Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian yang dikoordinir oleh Dr. Edi Yatno telah melakukan analisis potensi lahan mendukung lumbung pangan di wilayah perbatasan RI-Timur Leste, tepatnya di 8 kecamatan, yaitu Bikomi Tengah, Bikomi Utara, Miomaffo Barat dan Insana Utara di Kabupaten Timor Tengah Utara; Lakmaknen, Raihat, Tasifeto Barat dan Tasifeto Timur di Kabupaten Belu Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Program pemerintah untuk menjadikan wilayah perbatasan sebagai lumbung pangan harus diapresiasi dan didukung sepenuhnya oleh seluruh instansi terkait. Sasaran utama pengembangan lumbung pangan di wilayah perbatasan adalah untuk: 1) Meningkatkan stabilitas ketahanan pangan dan ekonomi wilayah perbatasan, 2) Menumbuhkan investasi pangan, 3) Meningkatkan ekspor pangan dari wilayah perbatasan, dan 4) Meningkatkan stabilitas sosial, ekonomi, politik, pertahanan dan keamanan wilayah perbatasan.

Peningkatan produksi pertanian terutama tanaman pangan dapat dicapai melalui program intensifikasi dan ekstensifikasi yang sangat terkait dengan kesesuaian dan potensi  sumberdaya lahan. Pembangunan pertanian di wilayah perbatasan negara sangat diperlukan untuk mengejar ketinggalan dari berbagai aspek dari negara tetangga. Pembangunan wilayah tersebut perlu dipacu dan diantisipasi dengan memperluas peranan kawasan sentra produksi sebagai security belt dan membentuk sentra-sentra pengembangan kawasan produksi pertanian pangan (a.l. padi, jagung, kedelai, tebu dan sayuran), tanaman perkebunan (a.l. sawit, kakao, kopi, lada, karet, dan kelapa), dan peternakan, serta agro-industri untuk mendukung pengembangan wilayah-wilayah baru.           

Untuk dapat mewujudkan program tersebut, diperlukan dukungan informasi dasar diantaranya data spasial potensi sumberdaya lahan pada skala operasional (skala  1:25.000 atau 1:10.000). Pada skala 1:25.000 atau 1:10.000 mengandung informasi lebih rinci mengenai sifat-sifat tanah, kelas kesesuaian lahan untuk berbagai komoditas pertanian, kendala atau faktor penghambat biofisik lahan, serta luas dan penyebarannya pada suatu wilayah, sehingga sudah cukup memadai untuk pengembangan pertanian pada tingkat kecamatan/desa atau usahatani. Penyediaan data spasial potensi sumberdaya lahan tersebut hanya dapat dilakukan melalui suatu kegiatan pemetaan, baik secara desk work maupun kegiatan lapangan dengan menggunakan teknologi terkini, seperti citra satelit, DEM/SRTM dan GIS.

Hasil penelitian lapang menunjukkan, di Kecamatan Raihat dan Lamaknen tanah-tanah berkembang dari napal, batugamping, batuliat, dan batusabak serta sebagian kecil batuan basal di wilayah Kecamatan Lamaknen menghasilkan macam tanah Kambisol Ustik, Kambisol Vertik, Grumusol Pelik, Mediteran Ustik dan Litosol. Selain itu terutama di daerah bawah terbentuk tanah Kambisol Gleik, Kambisol Fluvik dan Gleisol Eutrik.

Lahan kering umumnya ditanami jati, jagung dan cabai, sedangkan lahan basah dimanfaatkan untuk sawah. Kondisi iklim yang tergolong kering, memerlukan pembuatan embung untuk membantu ketersediaan air.

Kecamatan Raihat dan Lamaknen memiliki lahan sawah irigasi dengan luas masing-masing 1.295 ha dan 1.042 ha. Informasi yang di dapat di lapangan sawah-sawah ini memiliki indeks pertanaman (IP) 100-200 dengan produksi rata-rata 4 ton/ha. Di Kecamatan Lamaknen demplot sawah yang dilakukan penyuluh pertanian, dosis pupuk dengan tambahan urea 200 kg, TSP 100 kg dan KCl 50 kg menghasilkan produksi padi 6 ton GKP/ha. Hal ini berarti peluang untuk meningkatkan produktivitas padi sawah masih memungkinkan hanya saja masyarakat belum mampu mencukupi kebutuhan pupuk yang dianjurkan. (LQ)