Lahan gambut sebagai bagian dari ekosistem rawa memiliki multifungsi antara lain fungsi ekonomi, pengatur hidrologi, lingkungan, dan biodiversity. Dari sisi ekonomi, lahan gambut adalah sumber pendapatan petani; dari aspek hidrologi, lahan gambut merupakan penyangga hidrologi kawasan untuk menghindari banjir dan kekeringan; dari segi lingkungan, lahan gambut menyimpan cadangan karbon sangat besar yang potensial mengalami emisi.  Sementara  dari  sisi  pelestarian keanekaragaman hayati (biodiversity), lahan gambut merupakan habitat asli berbagai jenis tanaman langka seperti ramin, jelutung rawa dan satwa.

Hingga periode 2017-2018, pemetaan lahan gambut skala 1:50.000 telah dilaksanakan oleh BBSDLP di 72 kabupaten/kota dari 130 kabupaten/kota yang teridentifikasi memiliki gambut, meliputi Papua, Sulawesi dan sebagian Sumatera. Pada tahun 2019, pemetaan lahan gambut skala 1:50.000 dilanjutkan di 58 kabupaten/kota lainnya, yang tersebar di Kalimantan dan sebagian Sumatera.

Peneliti BBSDLP yang dikoordinir oleh Dr. Edi Yatno pada bulan Juli-Agustus melakukan indentifikasi lahan gambut pada tingkat semidetail skala 1:50.000 di Kabupaten Humbang Hasundutan, Provinsi Sumatera Utara.

“Lahan gambut di Indonesia umumnya tersebar di dataran rendah. Namun hasil idenfikasi dan karakaterisasi tanah gambut menunjukkan bahwa lahan gambut di Indonesia juga tersebar cukup luas di dataran tinggi dengan ketinggian tempat lebih dari 1.000 m di atas permukaan laut (dpl),” ungkap Edi.

Lahan gambut di Kabupaten Humbang Hasundutan terletak pada ketinggian sekitar 1.400 m dpl. Lahan gambut di Kabupaten Humbang Hasundutan menyebar sekitar 2.988 ha. Lahan-lahan gambut tersebut tersebar di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Doloksanggul (1.578 ha atau 52,81%), Pollung (931 ha atau 31,16%), dan Lintong Nihuta (479 ha atau 16,03%).

Edi juga mengukapkan bahwa, selain di Humbang Hasundutan lahan gambut dataran tinggi juga terdapat di Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, Kabupaten Dogiyai, Deiyai, dan Paniai Provinsi Papua, dan Kabupaten Humbang Hasundutan Provinsi Sumatera Utara.

Lahan-lahan gambut di Kabupaten Humbang Hasundutan umumnya memiliki kedalaman sedang (100-<200 cm) dengan simbol D2 dan dalam (200-<300 cm) dengan simbol D3. Lahan gambut dengan kedalaman sedang (100-<200 cm) seluas 2.118 ha, sedangkan lahan gambut dengan kedalaman dalam (200-<300 cm) seluas 870 ha. Lahan-lahan gambut tersebut umumnya masih berupa semak dan rumput rawa serta belum banyak dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian.

Sebagian besar masyarakat setempat memanfaatkan lahan gambut tersebut untuk diambil kayunya untuk pembuatan arang. Pemanfaatan lahan gambut yang telah bercampur dengan bahan hasil aktivitas vulkanik untuk usahatani tanaman pangan terdapat di Desa Matiti II Kecamatan Doloksanggul.

Tanah gambut di Kabupaten Humbang Hasundutan diklasifikasikan menurut Kunci Taksonomi Tanah sebagai Fluvaquentic Haplosaprists, Terric Haplosaprists, dan Typic Haplosaprists atau padanannya menurut Klasifikasi Tanah Nasional sebagai Organosol Saprik. Tanah ini dicirikan oleh tingkat kematangan tanah saprik (matang) di sebagian besar penampang tanahnya. Drainase tanah sangat terhambat. Warna tanah coklat sangat gelap (7,5YR 2,5/2) di lapisan atas, dan coklat sangat gelap (7,5YR 2,5/3) hingga hitam (7,5YR 2/1) di lapisan bawah. Konsistensi tanah tidak lekat dan tidak plastis.

Di beberapa lokasi, tanah gambut tersebut telah mengalami pengkayaan bahan mineral dari abu volkan sehingga lebih subur dan dimanfaatkan terutama untuk lahan sawah dan sayuran. Reaksi tanah umumnya masam (pH 5,0), kandungan C organik dan KTK tanah sangat tinggi.