Ketersediaan lahan rawa yang luas menjadi potensi sekaligus solusi untuk menjawab kebutuhan pangan yang semakin meroket. Meskipun begitu, pengembangan lahan rawa untuk sektor pertanian menghadapi tantangan berat seperti kemasaman tanah, kesuburan tanah yang rendah, dan tata kelola air yang masih tergantung musim. Program SERASI merupakan salah satu program yang dinisiasi Kementerian Pertanian untuk menjawab tantangan tersebut. Provinsi Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan dipilih sebagai lokasi pemusatan SERASI pada tahun 2019. Kedua provinsi mendapatkan bantuan untuk mengembangkan lahan rawa masing-masing seluas 250.000 ha.

Untuk mendukung program #SERASI tersebut, tim peneliti BBSDLP yang dipimpin oleh Dr. Markus Anda, M.Sc telah melakukan penelitian lapangan untuk mengidentifikasi mineral lahan rawa. Penelitian yang bertajuk "Mineral liat lahan rawa mendukung rekomendasi pemupukan" dilaksanakan pada bulan Oktober dan November 2019 di Kalimantan Selatan dan Sumatera Selatan. Penelitian lapangan terdiri dari deskripsi morfologi melalui pembuatan profil tanah. Profil tanah digali dengan ukuran 2 x 2 x 2 meter menggunakan eskavator maupun digali secara manual. Tim peneliti BBSDLP mengambil sampel tanah untuk diteliti komposisi mineralnya. Sampel air tanah, air saluran drainase, dan air dari sungai besar yang ada di sekitar profil juga turut dibawa untuk dianalisa di laboratorium.

Identifikasi mineral lahan rawa penting untuk melihat komposisi mineral pasir dan liat. Komposisi mineral pasir memainkan peran kunci sebagai sumber cadangan hara dalam tanah, sementara mineral liat menentukan kemampuan tanah untuk mempertahankan berbagai kation dan anion tersedia yang dibutuhkan tanaman. Informasi ini nantinya dapat menjadi dasar teknologi pemupukan di lahan rawa.

Selain melakukan penelitian lapangan, tim peneliti BBSDLP juga mewawancarai petani mengenai riwayat budidaya padi dan pemupukan pada lokasi setempat. Dari hasil wawancara diketahui bahwa petani masih banyak yang tidak menggunakan pupuk terutama P dan K. Hal ini tentu menjadi pembatas bagi pertumbuhan padi di lahan lebak masam yang miskin hara P dan K. Di sisi lain, petani lebih banyak menambahkan urea pada sawah mereka. Praktik  ini memicu rebah pada padi dan bulir menjadi kosong. Hal ini disinyalir terjadi karena ketidakseimbangan hara dalam tanah. (PAB)