Bogor, 11 November 2019. Dalam rangka mendukung One Map Policy, Tim Pemetaan Balai Besar Litbang Sumber Daya Lahan (BBSDLP) yang dipimpin oleh Ir. Sofyan Ritung, M.Sc melakukan survey lahan gambut di tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, dan Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah. Survey dilakukan pada tanggal 31 Oktober 2019 sampai dengan 08 November 2019. Tim terdiri dari enam orang, yaitu Ir. Sofyan Ritung, M. Sc, Dede Sudrajat, Sukartono, Andi Hartadi, Fatriani Lukman, dan Rufaidah Qonita Muslilm. Pemetaan lahan gambut ini dilakukan dalam rangka mengupdate sebaran lahan gambut pada skala 1:50.000 di tiga kabupaten tersebut. Sebelum melakukan survey ke lapangan, tim mempersiapkan peta kerja yang disusun dari peta gambut BBSDLP Tahun 2011 skala 1: 250.000, interpretasi citra, landform, geologi dan lereng, serta data pendukung lainnya.

Sebelum melakukan survey lapangan, tim terlebih dulu berkoordinasi dengan Dinas Pertanian masing-masing kabupaten. Pertama-tama survey dilakukan di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Dari hasil pengecekan lapang, pada lahan gambut telah terjadi perbaikan drainase sejak awal tahun 2000-an yang menyebabkan tanah gambut mengalami subsidence  dan pemadatan serta bercampur dengan tanah mineral. Saat ini lahan tersebut berupa sawah surjan  untuk tanaman jeruk borneo dengan kondisi tanah tampaknya cukup subur.

Di Kabupaten Tabalong dan Barito Timur ditemukan gambut dengan ketebalan dangkal (50-<100 cm) sampai sangat dalam (200-<300 cm). Kematangan gambut pada umumnya hemik (setengah matang), namun pada lapisan atas beberapa ditemukan gambut dengan kematangan saprik (matang). Klasifikasi tanah gambut adalah Organosol Hemik atau Typic Haplohemists dan Sapric Haplohemists. Sebagian lahan gambut yang ditemukan masih berupa semak belukar.

Hasil survey gambut di tiga kabupaten diatas menjadi data dasar untuk mengupdate peta sebaran lahan gambut pada skala 1: 50.000. Dari hasil pengecekan lapang terdapat beberapa lokasi gambut yang sedikit bergeser atau kurang sesuai dengan peta kerja. Hal ini disebabkan pemetaan sebelumnya dilakukan pada skala 1: 250.000. Diharapkan dengan updating dari skala 1:250.000 ke skala 1:50.000 sebaran lahan gambut menjadi lebih detil dan akurat (RQ, SR).