Jakarta, 4 Februari 2020. Kementerian Pertanian menggelar perhelatan bertajuk “Soft Launching Agriculture War Room (AWR)”. Acara ini digarap dengan sangat sungguh-sungguh, tidak kurang 3 orang menteri hadir pada acara tersebut yakni Menteri Pertanian (Syahrul Yasin Limpo), Menteri ATR/BPN (Sofyan Abdul Jalil), dan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Luhut Binsar Panjaitan) serta Kepala Biro Pusat Statistik (Haryanto). Para petinggi lingkup Kementan serta berbagai Dekan Fakultas Pertanian dari seluruh Perguruan Tinggi di Indonesia hadir pada acara tersebut.

Acara soft launching tersebut sekaligus merilis data Luas Baku Sawah (LBS) 2019, Data Produksi Padi Nasional 2019, dan launching Agriculture War Room (AWR) Kementerian Pertanian.

AWR berfungsi sebagai pusat data dan sistem kontrol pembangunan pertanian nasional berbasis teknologi informasi. Sistem ini juga berfungsi sebagai pusat komando (command center) yang sekaligus upaya pendekatan satu data.

"Langkah awal ini berkaitan langsung dengan isi perut 267 juta orang. Dengan AWR kami ingin pertanian ke depan lebih maju, lebih mandiri dan modern untuk hasil yang memuaskan," tutur Syahrul Yasin Limpo (SYL) dalam sambutannya.

SYL mengungkap teknologi yang digunakan akan menjadi alat ukur dalam melakukan pengawasan sekaligus pemetaan lahan nasional. Di masa mendatang tidak ada lagi perbedaan data statistik, karena semua sudah terpantau dengan akurat tuturnya.

Lebih jauh SYL mengatakan, sistem AWR sudah dirancang secara multiguna, terutama dalam memantau kondisi pertanian di tingkat Kecamatan dan Desa. Terlebih petani juga tidak perlu membeli alat drone untuk melaporkan sawahnya kepada Kementerian pusat.

 Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan sangat mengapresiasi dan merasa bangga sekali dengan upaya Kementan dalam memajukan pertanian Indonesia. Luhut bahkan secara antusias bertanya dan bekomentar tentang beberapa data yang disajikan dalam dashboard AWR.

 "Saya sangat bangga sekali, apapun yang kita kerjakan saat ini mainnya data. Kalau ini ditata dengan baik kedepannya kita tidak akan ribut lagi soal impor beras atau lainnya. Jadi saya kira apa yang dibuat Mentan Syahrul ini harus dipertahankan dan bahkan bisa lebih maju lagi karena teknologi sejatinya terus berkembang," pungkas Luhut. (SB, Februari 2020)

 Jakarta, 4 Februari 2020. Kementerian Pertanian menggelar acara “Soft Launching Agriculture War Room (AWR)”. Acara ini dihadiri 3 orang menteri sekaligus yakni Menteri Pertanian (Syahrul Yasin Limpo), Menteri ATR/BPN (Sofyan Abdul Jalil), dan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Luhut Binsar Panjaitan) serta Kepala Biro Pusat Statistik (Haryanto). Selain para petinggi lingkup Kementan, hadir pula para Dekan Fakultas Pertanian dari seluruh Perguruan Tinggi di Indonesia.

Acara soft launching tersebut sekaligus merilis data Luas Baku Sawah (LBS) 2019, Luas Panen dan Produksi Padi Nasional 2019 (BPS), dan launching Agriculture War Room (AWR) Kementerian Pertanian. Luas lahan baku sawah 2019 dirilis dengan angka seluas  7.463.952 ha.

Sementara itu Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo dalam sambutannya mengungkapkan, teknologi yang digunakan akan menjadi alat ukur dalam melakukan pengawasan sekaligus pemetaan lahan nasional. Di masa mendatang tidak ada lagi perbedaan data statistik, karena semua sudah terpantau dengan akurat tutur Syahrul.

Syahrul mengatakan, sistem AWR sudah dirancang secara multiguna, terutama dalam memantau kondisi pertanian di tingkat Kecamatan dan Desa yang digagas melalui Konstratani (Komando Strategis Pembangunan Pertanian). Terlebih petani juga tidak perlu membeli alat drone untuk melaporkan sawahnya kepada Kementerian pusat.

AWR berfungsi sebagai pusat data dan sistem kontrol pembangunan pertanian nasional berbasis teknologi informasi. Sistem ini juga berfungsi sebagai pusat komando (command center) yang sekaligus upaya pendekatan satu data.

AWR menyajikan berbagai data dan informasi yang ditampilkan dalam sebuah dashboard. Melalui dashboard tersebut dapat ditampilkan seluruh informasi yang terkait dengan pertanain.

 

Pada saat soft launching AWR, dashboard dijelaskan secara rinci oleh Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Dr. Husnain. Disaksikan seluruh hadirin Husnain menjelaskan fungsi dashboard dan apa saja yang terdapat di dalamnya.

“Dashboard berisi informasi tentang sumberdaya Iklim, kalender tanam, monitoring pertumbuhan tanaman, informasi harga, produksi dan monitoring tanaman secara live melalui CCTV,” papar Husnain.

Selanjutnya kepada hadirin disajikan infomasi meliputi: peta monitoring pertumbuhan tanaman padi (standing crop) yang saat ini telah menggunakan citra satelit Sentinel 2, peta luas lahan baku sawah (LBS) 2019, peta sebaran lahan gambut, peta lahan longsor, peta potensi ketersediaan air untuk pertanian, peta zona agroklimat (ZAE) dan peta lahan kering tanaman semusim.

“Kita bisa menampilkan informasi fase tumbuh tanaman sampai pada level kecamatan dengan luas masing-masing fase tumbuh. Kami juga menyajikan peta luas dan sebaran lahan baku sawah yang dirilis tahun 2019 dengan luas 7,46 Juta hektar,” tandas Husnain.

Penjelasan Husnain mendapat sambutan hangat terutama saat menampilkan peta dan data pada level kecamatan. Menteri Koordintor Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan bahkan merespon dan bertanya tentang penjelasan Husnain mengenai lahan gambut Indonesia.

Pada kesempatan sambutannya, Menteri Luhut sangat mengapresiasi dan merasa bangga sekali dengan upaya Kementan dalam memajukan pertanian Indonesia. Luhut bahkan secara antusias bertanya dan bekomentar tentang beberapa data yang disajikan dalam dashboard AWR.   (SB, Februari 2020)