Info Terkini

Jakarta, 2 Oktober 2019. Balitbangtan kembali mempromosikan teknologi unggulannya. Kali ini di acara Festival Iklim 2019 yang merupakan kegiatan yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Acara ini memamerkan produk unggulan inovasi , produk ramah lingkungan dan pengendali perubahan iklim.

Acara dibuka oleh Menteri  Lingkungan Hidup dan Kehutanan Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc di Auditorium Manggala Wanabhakti, kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dan diikuti  oleh 700 peserta, baik dari lembaga baik kementerian maupun non kementerian, pemerintah daerah, swasta, generasi muda milenial, perguruan tinggi, maupun sekolah.

Dalam sambutannya, Siti mengatakan bahwa kegiatan festifal Iklim bertema “ Emisi Menurun, Indonesia Berketahanan Iklim” ini merupakan  puncak dari kegiatan Kampanya Perubahan Iklim 2019

 "Melalui kegiatan Kampanye Perubahan Iklim ini,diharapkan untuk memperkuat pengendalian perubahan iklim melalui sektor pertanian, kelautan dan kehutanan" ungkapnya disela-sela sambutannya."

Pameran ini berlangsung selama 3 hari, yakni  2-4 Oktober 2019. Kementerian Pertanian turut serta dalam acara ini yang diwakili oleh BBSDLP dan Balitklimat (Balitbangtan), dan Direktorat Jenderal Hortikultura. BBSDLP sendiri menampilkan AWS (Stasiun Cuaca Otomatis),  Prediksi Curah Hujan, Kalendes Tanam, I-PETA SDL, Teknologi Pengolahan Lahan Kering, lahan Gambut Indonesia, Surjan, dan beberapa publikasi hasil-hasil penelitian.

Pengunjung begitu antusias mengunjungi dan sangat tertarik dengan produk-produk yang dipamerkan di stand Kementerian Pertanian. terutama terhadap produk publikasi hasil penelitian, menurut mereka, buku-buku tersebut sangat bermanfaat dan langka untuk diperoleh. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga berkenan mengunjungi stand Kementerian Pertanian untuk bertanya tentang publikasi hasil penelitian tentang “ Lahan Gambut Indonesia”. 

Stand ini dibuka untuk masyarakat yang ingin berkunjung hingga pukul 16.00 WIB setiap harinya selama acara berlangsung, juga ada berbagai atraksi hiburan dan doorprice dikemas untuk menghibur pengunjung.(LQ)

Bogor, 27 September 2019. Tim Pemetaan Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) yang pimpin oleh Wahyu Supriatna S.Pd, M.Si  melakukan survey pemetaan gambut di Provinsi Bengkulu khususnya di Kabupaten seluma dan Muko Muko dalam rangka  updating sebaran lahan gambut skala 1:50.000 pada bulan April yang lau. Dalam melalukan survey ini, tim dari BBSDLP melakukan deskripsi tanah gambut di lapangan, tingkat kematangan dan ketebalan tanah gambut, luas dan sebaran serta pengambilan sampel tanah untuk dianalisis di laboratorium guna mengetahui sifat dan karakteristik tanah gambut.

Dalam pelaksanaan survei, Tim BBSDLP berkoordinasi dengan Kepala Dinas Pertanian Seluma Bapak Marah Halim SP, MP, M.Si, M.Ak. Beliau menyampaikan Di Kabupaten Seluma gambut sudah banyak yang mengalami penurunan ketebalan (subsidence) dan mungkin ada yang hilang. Setelah kami survey memang benar gambut hanya terdapat di Kecamatan Air Periukan dengan ketebalan 100 -200 cm. Berdasarkan data gambut BBSDLP 2011 luasan gambut di Seluma 798 Ha skarang tinggal 168 Ha.

Sedangkan tanah gambut di Kabupaten Muko Muko  memiliki ketebalan gambut bervariasi, dari empat kecamatan yang disurvei gambut hanya terdapat di Kecamatan XIV Koto dan Kota Muko Muko dengan kedalaman  bervariasi dari yang dangkal (50 cm) hingga yang dalam dalam (300-400cm). Berdasarkan data gambut BBSDLP 2011 luasan gambut di Muko Muko 7263 Ha sekarang tersisa 5847 Ha. Hilangnya tanah gambut tersebut disebabkan beberapa faktor diantaranya pengolahan lahan yang terlalu intensif dan kebakaran lahan. 

Bogor, 26 September  2019. BBSDLP mengadakan workshop infografik dan komunikasi. Kegiatan ini bertujuan untuk memperdalam ilmu pengetahuan mengenai infografik dan komunikasi, khususnya di website dan media sosial lingkup BBSDLP.  .

Acara dibuka oleh Kabid Kerjasama dan Pendayagunaan Hasil Penelitian (KSPHP) Dr. Yiyi Sulaeman, SP, M.Sc, dan diikuti oleh 25 peserta, baik dari BBSDLP, maupun Balai-balai penelitian dibawahnya.

Dalam sambutannya, Yiyi mengatakan bahwa kegiatan workshop ini bertujuan untuk memaksimalkan diseminasi melalui media sosial dan elektronik, sehingga memudahkan masyarakat untuk menerima informasi produk riset dari lingkup BBSDLP.

Workshop ini berlangsung selama 2 hari, yakni  26-27 September  2019. Tidak main-main, BBSDLP mengundang Narasumber dari Staf Ahli Presiden, Thontowi Djauhari,  untuk  memaparkan “Strategi dan Teknik Pembuatan Infografi Dan Praktisi Infografis”, Sedangkan untuk “Strategi Komunikasi Dan Pemasaran Informasi” dipaparkan oleh Ermiel Thabrani dari London School of Public Relation, sebagai narasumbernya.

Kegiatan Workshop ini ditutup oleh Kepala BBSDLP Husnain SP, MP, Ph.D, beliau berharap tim infografis ini dapat meningkatkan pemberitaan dan viral produk riset BBSDLP. “ sayang sekali apabila hasil riset kita tidak tersampaikan kepada masyarakat” kata Husnain. (LQ)

 

Pekanbaru, 23 September 2019. Badan Penelitian dan Pengambangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) memperkenalkan dua teknologi pengelolaan lahan tanpa bakar melalui mekanisasi pertanian dan aplikasi mikroba dekomposer. Teknologi ini ramah lingkungan dan tidak menimbulkan kebakaran yang menyebabkan bencana asap seperti yang sedang terjadi saat ini.

Sosialisai teknologi ini dilaksanakan di Kelurahan Agrowisata, Pekanbaru dan dihadiri oleh Staf Ahli Menteri Pertanian Dr. Sam Herodian, Wakil Walikota Pekanbaru Ayat Cahyadi, Ketua KTNA Pusat, Kepala BPPSDMP, Direktur Alsintan, Kepala BBSDLP, Kadis TPHBun Prov Riau, Kepala BPTP Riau, Kepala Karantian Kelas 1 Pekanbaru, Penyuluh, dan Petani.

Menurut Kepala BBSDLP, Dr. Husnain, M.Sc, Penggunaan alat mekanisasi pertanian dalam penyiapan lahan dan tanam bertujuan menciptakan ruang pertumbuhan yang baik bagi perakaran tanaman, menghilangkan sumber/inang penyakit jamur akar putih (JAP), serta meningkatkan efisiensi kerja. Sementara penggunaan dekomposer pada prinsipnya adalah usaha untuk mempercepat dekomposisi bahan organik, terutama terhadap sisa tanaman berkayu.

“Mikroba dekomposer juga dapat membantu mempercepat pelapukan pangkasan gulma dan sisa tanaman menjadi kompos sehingga pembakaran tidak diperlukan dan penyemprotan decomposer harus dilakukan berulang-ulang agar pembusukan serasah berkayu lebih cepat,” tegas Husnain.

Terdapat beberapa tahapan dalam penyiapan lahan tanpa bakar, yaitu: (1) penggunaan eskavator untuk membersihkan alang-alang atau semak; (2) pengolahan tanah dengan traktor roda 4, berturut-turut dengan piringan dan rotary; (3) penggunaan drone untuk hambur benih di lahan sawah atau seeder di lahan kering; (4) penggunaan dekomposer untuk melapukan bahan organik dan aplikasinya berbarengan dengan olah tanah; dan (5) pembuatan biochar dari sisa tanaman dengan ukuran besar (tunggu-tunggul). Biochar ini sangat berperan dalam konservasi air, terutama di lahan kering.

Acara sosialisasi tersebut sekurangnya menekankan bahwa pengelolaan lahan tanpa bakar memiliki manfaat, yakni ramah lingkungan, dapat mempertahankan bahan organik tanah dan sejumlah hara tanah, mengurangi emisi Gas Rumah Kaca, mempertahankan keanekaragaman hayati, menghindari masalah hukum yang merugikan, serta mengurangi polusi udara akibat kebakaran yang dapat mengganggu kesehatan, transportasi dan berbagai aktivitas ekonomi.

 

Berikut link berita terkait olah tanah tanpa bakar

http://technology-indonesia.com/pertanian-dan-pangan/inovasi-pertanian/kementan-latih-petani-olah-tanah-tanpa-bakar/

https://kabarbisnis.com/read/2894676/cegah-kerusakan-lingkungan-kementan-latih-petani-olah-tanah-tanpa-bakar-lahan#.XYi8SpQKFSE.whatsapp

https://pilarpertanian.com/cegah-kebakaran-kementan-latih-petani-olah-tanah-tanpa-bakar

https://pilarpertanian.com/mekanisasi-dan-dekomposer-cara-jitu-olah-lahan-tanpa-bakar1

http://technology-indonesia.com/pertanian-dan-pangan/inovasi-pertanian/mekanisasi-dan-dekomposer-cara-jitu-olah-lahan-tanpa-bakar/

Bogor, 23 September 2019. Lembaga Penelitian dan perguruan tinggi merupakan dua hal yang tidak terpisahkan. Dengan kegiatan Seminar Nasional ini diharapkan ada sharing informasi terhadap hasil-hasi-hasil penelitian yang sudah diperoleh oleh lembaga penelitian dengan perguruan tinggi, untuk menghasilkan dampak yang berarti, sehingga hasil temuan suatu penelitian harus diketahui oleh masyarakat, baik secara spesifik dalam kelompok tertentu maupun kepada kalangan umum kata Dekan Fakultas Pertanian Dr Jamhari saat membuka Seminar Nasional Hasil Penelitian IX di Audotorium Prof Haryono Danoesastro Fakultas Pertanian UGM, Yogyakarta Sabtu (21/09/2019).

Seminar Nasional dalam Rangka Dies Natalis Ke-73 Fakultas Pertanian UGM Yogyakarta ini menampilkan pembicara: Dr Husnain Kepala Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian dan Dr. Jamhari Dekan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Dalam seminar yang dihadiri para peneliti lingkup Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian, civitas akademisi, dan undangan lainnya, para narasumber menekankan pentingnya mengajak generasi muda terjun dan menekuni usaha pertanian, sehingga cita-cita menjadikan Indonesia Lumbung Pangan Dunia tahun 2045 benar-benar bisa terwujud. 

Kepala BBSDLP dalam Keynote Speech kali ini menyampaikan paparan mengenai “Optimalisasi Sumberdaya Pertanian Untuk Mewujudkan Kedaulatan Pangan Nasional”. Kementerian pertanian memiliki tugas selain untuk mencetak sawah 1 juta hektar serta pencapaian target swa sembada pangan dengan komoditas padi, jagung, kedelai, bawang merah, bawang putih, gula, cabai dan daging sapi sesuai dengan Nawacita, Kementerian Pertanian Indonesia Menjadi Lumbung Pangan Dunia 2045 yang didukung dengan program #SERASI (Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani)” dan UPSUS PAJALE. Dan tentunya tujuan kedua program ini adalah untuk meningkatkan indeks kesejahteraan petani kata Husnain, dihadapan peserta seminar yang mayoritas dari mahasiswa. 

Sedangkan Dr Jamhari Dekan Fakultas Pertanian dalam paparannya tentang Perguruan Tinggi, Pertanian dan Kedaulatan Pangan mengingatkan bahwa kebutuhan pangan masyarakat Indonesia terus meningkat sehingga apabila tidak diimbangi dengan penyelesaian di sisi produksi akan terjadi lonjakan konsumsi. 

“Perlu ada keseimbangan antara produksi dan konsumsi sehingga konsumsi beragam pangan yang dapat di produksi perlu digalakkan” tegas Jamhari. Hal ini didukung dengan posisi Indonesia sebagai Negara dengan keanekaragaman hayatinya peringkat dua terbesar di dunia tandasnya (wa)