Info Terkini

Bogor, 26 September  2019. BBSDLP mengadakan workshop infografik dan komunikasi. Kegiatan ini bertujuan untuk memperdalam ilmu pengetahuan mengenai infografik dan komunikasi, khususnya di website dan media sosial lingkup BBSDLP.  .

Acara dibuka oleh Kabid Kerjasama dan Pendayagunaan Hasil Penelitian (KSPHP) Dr. Yiyi Sulaeman, SP, M.Sc, dan diikuti oleh 25 peserta, baik dari BBSDLP, maupun Balai-balai penelitian dibawahnya.

Dalam sambutannya, Yiyi mengatakan bahwa kegiatan workshop ini bertujuan untuk memaksimalkan diseminasi melalui media sosial dan elektronik, sehingga memudahkan masyarakat untuk menerima informasi produk riset dari lingkup BBSDLP.

Workshop ini berlangsung selama 2 hari, yakni  26-27 September  2019. Tidak main-main, BBSDLP mengundang Narasumber dari Staf Ahli Presiden, Thontowi Djauhari,  untuk  memaparkan “Strategi dan Teknik Pembuatan Infografi Dan Praktisi Infografis”, Sedangkan untuk “Strategi Komunikasi Dan Pemasaran Informasi” dipaparkan oleh Ermiel Thabrani dari London School of Public Relation, sebagai narasumbernya.

Kegiatan Workshop ini ditutup oleh Kepala BBSDLP Husnain SP, MP, Ph.D, beliau berharap tim infografis ini dapat meningkatkan pemberitaan dan viral produk riset BBSDLP. “ sayang sekali apabila hasil riset kita tidak tersampaikan kepada masyarakat” kata Husnain. (LQ)

 

Pekanbaru, 23 September 2019. Badan Penelitian dan Pengambangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) memperkenalkan dua teknologi pengelolaan lahan tanpa bakar melalui mekanisasi pertanian dan aplikasi mikroba dekomposer. Teknologi ini ramah lingkungan dan tidak menimbulkan kebakaran yang menyebabkan bencana asap seperti yang sedang terjadi saat ini.

Sosialisai teknologi ini dilaksanakan di Kelurahan Agrowisata, Pekanbaru dan dihadiri oleh Staf Ahli Menteri Pertanian Dr. Sam Herodian, Wakil Walikota Pekanbaru Ayat Cahyadi, Ketua KTNA Pusat, Kepala BPPSDMP, Direktur Alsintan, Kepala BBSDLP, Kadis TPHBun Prov Riau, Kepala BPTP Riau, Kepala Karantian Kelas 1 Pekanbaru, Penyuluh, dan Petani.

Menurut Kepala BBSDLP, Dr. Husnain, M.Sc, Penggunaan alat mekanisasi pertanian dalam penyiapan lahan dan tanam bertujuan menciptakan ruang pertumbuhan yang baik bagi perakaran tanaman, menghilangkan sumber/inang penyakit jamur akar putih (JAP), serta meningkatkan efisiensi kerja. Sementara penggunaan dekomposer pada prinsipnya adalah usaha untuk mempercepat dekomposisi bahan organik, terutama terhadap sisa tanaman berkayu.

“Mikroba dekomposer juga dapat membantu mempercepat pelapukan pangkasan gulma dan sisa tanaman menjadi kompos sehingga pembakaran tidak diperlukan dan penyemprotan decomposer harus dilakukan berulang-ulang agar pembusukan serasah berkayu lebih cepat,” tegas Husnain.

Terdapat beberapa tahapan dalam penyiapan lahan tanpa bakar, yaitu: (1) penggunaan eskavator untuk membersihkan alang-alang atau semak; (2) pengolahan tanah dengan traktor roda 4, berturut-turut dengan piringan dan rotary; (3) penggunaan drone untuk hambur benih di lahan sawah atau seeder di lahan kering; (4) penggunaan dekomposer untuk melapukan bahan organik dan aplikasinya berbarengan dengan olah tanah; dan (5) pembuatan biochar dari sisa tanaman dengan ukuran besar (tunggu-tunggul). Biochar ini sangat berperan dalam konservasi air, terutama di lahan kering.

Acara sosialisasi tersebut sekurangnya menekankan bahwa pengelolaan lahan tanpa bakar memiliki manfaat, yakni ramah lingkungan, dapat mempertahankan bahan organik tanah dan sejumlah hara tanah, mengurangi emisi Gas Rumah Kaca, mempertahankan keanekaragaman hayati, menghindari masalah hukum yang merugikan, serta mengurangi polusi udara akibat kebakaran yang dapat mengganggu kesehatan, transportasi dan berbagai aktivitas ekonomi.

 

Berikut link berita terkait olah tanah tanpa bakar

http://technology-indonesia.com/pertanian-dan-pangan/inovasi-pertanian/kementan-latih-petani-olah-tanah-tanpa-bakar/

https://kabarbisnis.com/read/2894676/cegah-kerusakan-lingkungan-kementan-latih-petani-olah-tanah-tanpa-bakar-lahan#.XYi8SpQKFSE.whatsapp

https://pilarpertanian.com/cegah-kebakaran-kementan-latih-petani-olah-tanah-tanpa-bakar

https://pilarpertanian.com/mekanisasi-dan-dekomposer-cara-jitu-olah-lahan-tanpa-bakar1

http://technology-indonesia.com/pertanian-dan-pangan/inovasi-pertanian/mekanisasi-dan-dekomposer-cara-jitu-olah-lahan-tanpa-bakar/

Bogor, 23 September 2019. Lembaga Penelitian dan perguruan tinggi merupakan dua hal yang tidak terpisahkan. Dengan kegiatan Seminar Nasional ini diharapkan ada sharing informasi terhadap hasil-hasi-hasil penelitian yang sudah diperoleh oleh lembaga penelitian dengan perguruan tinggi, untuk menghasilkan dampak yang berarti, sehingga hasil temuan suatu penelitian harus diketahui oleh masyarakat, baik secara spesifik dalam kelompok tertentu maupun kepada kalangan umum kata Dekan Fakultas Pertanian Dr Jamhari saat membuka Seminar Nasional Hasil Penelitian IX di Audotorium Prof Haryono Danoesastro Fakultas Pertanian UGM, Yogyakarta Sabtu (21/09/2019).

Seminar Nasional dalam Rangka Dies Natalis Ke-73 Fakultas Pertanian UGM Yogyakarta ini menampilkan pembicara: Dr Husnain Kepala Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian dan Dr. Jamhari Dekan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Dalam seminar yang dihadiri para peneliti lingkup Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian, civitas akademisi, dan undangan lainnya, para narasumber menekankan pentingnya mengajak generasi muda terjun dan menekuni usaha pertanian, sehingga cita-cita menjadikan Indonesia Lumbung Pangan Dunia tahun 2045 benar-benar bisa terwujud. 

Kepala BBSDLP dalam Keynote Speech kali ini menyampaikan paparan mengenai “Optimalisasi Sumberdaya Pertanian Untuk Mewujudkan Kedaulatan Pangan Nasional”. Kementerian pertanian memiliki tugas selain untuk mencetak sawah 1 juta hektar serta pencapaian target swa sembada pangan dengan komoditas padi, jagung, kedelai, bawang merah, bawang putih, gula, cabai dan daging sapi sesuai dengan Nawacita, Kementerian Pertanian Indonesia Menjadi Lumbung Pangan Dunia 2045 yang didukung dengan program #SERASI (Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani)” dan UPSUS PAJALE. Dan tentunya tujuan kedua program ini adalah untuk meningkatkan indeks kesejahteraan petani kata Husnain, dihadapan peserta seminar yang mayoritas dari mahasiswa. 

Sedangkan Dr Jamhari Dekan Fakultas Pertanian dalam paparannya tentang Perguruan Tinggi, Pertanian dan Kedaulatan Pangan mengingatkan bahwa kebutuhan pangan masyarakat Indonesia terus meningkat sehingga apabila tidak diimbangi dengan penyelesaian di sisi produksi akan terjadi lonjakan konsumsi. 

“Perlu ada keseimbangan antara produksi dan konsumsi sehingga konsumsi beragam pangan yang dapat di produksi perlu digalakkan” tegas Jamhari. Hal ini didukung dengan posisi Indonesia sebagai Negara dengan keanekaragaman hayatinya peringkat dua terbesar di dunia tandasnya (wa)

Bogor, 20 September 2019. Koordinasi Bidang Program dan Evaluasi yang dilaksanakan pada tanggal 16 - 18 September 2019 di Mess KP BB Biogen, Pacet, bertujuan untuk mempertajam perencanaan kinerja BBSDLP untuk masa RPJMN 2020-2024. Selain itu, kegiatan ini juga untuk menyiapkan bahan-bahan terkait pemeriksaan maturitas SPI yang akan dilaksanakan pada Bulan November mendatang. Kegiatan ini diikuti oleh pejabat beserta operator perencanaan lingkup BBSDLP, serta narasumber dari Bagian Perencanaan, Badan Litbang Pertanian. Bagian Perencanaan Badan Litbang Pertanian yang diwakili oleh Kepala Sub Bagian Program dan Anggaran dan Kepala Sub Bagian Evaluasi dan Pelaporan menjadi narasumber dalam kegiatan ini.

Kepala Sub Bagian Program dan Anggaran, Laila Kadar, SE., M.Si memaparkan terkait Rancangan Sasaran Program dan Indikator Kinerja Sasaran Program Balitbangtan 2020-2024. Terdapat 3 indikator yang merupakan target Badan Litbang Pertanian dalam RPJMN 2020-2024, yaitu 1) Jumlah varietas unggul tanaman dan hewan untuk pangan yang dilepas, 2) Tingkat adopsi teknologi pertanian oleh petani, dan 3) Sumberdaya genetika tanaman dan hewan sumber pangan yang terlindungi/tersedia. Indikator kedua, yaitu tingkat adopsi teknologi pertanian oleh petani, merupakan indikator yang masih perlu dilakukan tindaklanjut trilateral meeting antara Litbang, BBPSDMP, dan Bappenas untuk memutuskan manual IKU dan pengertian “petani” dalam indikator tersebut.

Sedangkan Kepala Sub Bagian Evaluasi dan Pelaporan, Aulia, STP., MM memaparkan terkait Persiapan Penilaian Maturitas SPI Lingkup Balitbangtan. Dasar hukum SPI adalah PP 60/2008 tentang SPIP, Permentan 23/2009 tentang Pedoman Umum SPI di Lingkungan Deptan, Perka BPKP No. 4/2016 tentang Pedoman Penilaian Strategi Peningkatan Maturitas SPIP, dan Pedoman Pelaksanaan SPI badan Litbang Pertanian 2013. Fokus penilaian maturitas SPIP merupakan variable yang digunakan untuk menunjukkan tingkat maturitas penyelenggaraan SPIP. Variable tersebut merupakan sub-sub unsur SPIP di dalam PP Nomor 60 Tahun 2008. Unsur penilaian SPI berdasarkan Perka BPK No. 4/2016 adalah lingkungan pengendalian, penilaian risiko, kegiatan pengendalian, informasi dan komunikasi, dan pemantauan. Level maturitas SPIP Kementerian Pertanian tahun 2018 adalah level 3 (3,037) terdefinisi. Tim counterpart Balitbangtan dari BBSDLP adalah Kasie Evaluasi dan Pelaporan, Sulaeman, SP., M.Si. Responden dari SPI adalah dari struktural (seluruh struktural UK (Es. 2) Lingkup Balitbangtan) dan non struktural (fungsional dan staf senior).

Dengan dilaksanakannya koordinasi program dan evaluasi lingkup BBSDLP diharapkan dapat mempertajam perencanaan kinerja dan anggaran tahun 2020 dan bahan-bahan untuk pemeriksaan maturitas SPI dapat tersusun dengan baik.

Bogor, 18 September 2019. Sampai saat ini, sawah masih menjadi tulang punggung pengadaan pangan nasional. Tahun 2018, Pemerintah merilis luas lahan sawah Indonesia sekitar 7,1 juta hektar, berkurang 1 juta hektar dari tahun 2013. Luas lahan sawah diperkirakan akan terus berkurang karena terjadi alih fungsi ke penggunaan lain (non pertanian). Di sisi lain, kebutuhan bahan pangan akan terus meningkat sejalan bertambahnya jumlah penduduk. Dari luasan sawah nasional tersebut, hampir 50% berada di Pulau Jawa, dan terluas di Jawa Timur, disusul Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Peneliti BBSDLP yang dikoordinir oleh Dr. Erna Suryani pada tanggal 9 September yang lalu melakukan verifikasi lahan sawah di Jawa Timur. Hasil verifikasi tersebut menunjukkan bahwa lahan-lahan sawah di Jawa Timur tidak saja diusahakan untuk tanaman padi, tetapi juga komoditas pangan lainnya seperti jagung, dan kacang-kacangan, hortikultura cabai, bawang merah, dan sayuran lainnya setelah padi (off season). Disamping itu, di lahan sawah juga diusahakan tanaman perkebunan tebu, terutama di daerah-daerah yang berdekatan dengan Pabrik Gula, seperti di Ngawi, Madiun dan Kediri.

Hasil wawancara dengan masyarakat setempat di Kabupaten Magetan, meski sumber air masih cukup untuk mengusahakan padi sawah untuk MT II, namun masyarakat mengusahakan lahannya dengan tanaman palawija. Hal ini dimaksudkan untuk memutus hama tikus yang sering menyerang tanaman padi sawah mereka. Petani sudah sangat paham manfaat pengendalian hama secara terpadu.

Sedangkan di Kabupaten Nganjuk dan kabupaten lainnya, pengusahaan lahan sawah untuk tanaman jagung dan tanaman pangan lainnya, karena air tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan tanaman padi pada MT II. Pada musim kemarau, masyarakat harus menggunakan pompa untuk mengeluarkan air dari sumur bor dengan kedalaman 19-20 m.

Selain tanaman palawija, sangat luas lahan-lahan sawah di Jawa Timur yang diusahakan untuk tanaman tebu, terutama pada daerah-daerah yang berdekatan dengan pabrik gula. Banyak sekali terdapat pabrik gula di Jawa Timur, seperti PG. Purwodadi di Ngawi. Tebu sebagai bahan baku gula, diusahakan di lahan sawah dan lahan kering, baik yang ditanam langsung oleh pihak perusahaan (perusahaan meminjam lahan ke petani), maupun diusahakan langsung oleh petani (hasil dijumal ke perusahaan).

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari petani setempat, banyak lahan-lahan sawah disewakan ke perusahaan gula untuk ditanami tebu sejak 5 tahun yang lalu.