Info Terkini

Dalam rangka pemantapan rencana Program Peningkatan Penyediaan Pangan di Kalimantan Tengah, Kementerian Koordinasi Bidang Perekonomian menyelengagrakan Rapat koordinasi penetapan luas ekstensifikasi padi di Kawasan Eks. PLG Kalimatan Tengah.
Rapat koordinasi yang berlangsung di AWR Balitbangtan, Bogor pada 12 Juni 2020 tersebut diikuti Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Pertanian, Kementerian BUMN, Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian Pekerjaan Umum dan Pekerjaan Rakyat, Kementerian Agraria dan Tata Ruang, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi.
Rapat Koordinasi tersebut dibuka secara langsung oleh Dr. Fadjry Djufry, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

 

 

Bogor, 11 Juni 2020. Badan Litbang Pertanian melalui Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan (BBSDLP) melaksanakan Webinar Pembuatan Pupuk Organik pada pukul 10.00-12.00 via Zoom dan live steraming Facebook serta Youtube. Webinar ini dimoderatori oleh Kepala Balai Penelitian Tanah (Balittanah), Dr. Ladiyani Retno Widowati.

Indonesia menghadapi tantangan pertanian berupa degradasi lahan sehingga produktivitas pertanian melandai. Musababnya sejak 1980 Indonesia menerapkan pertanian intensif yang hanya berbasis pupuk anorganik. Dampaknya tanah menjadi sakit dengan indikator C-organik rendah. “Di masa lalu tanah kita masih sehat dengan kadar C-organik 2-5%. Kini kadar C-organik tanah umumnya kurang dari 2%. Produktivitas lahan dapat dikembalikan bila tanah kembali disehatkan dengan meningkatkan kadar C-organik. “Tentu caranya dengan mengembalikan sebanyak mungkin biomassa ke tanah. Prakteknya dengan memberikan pupuk organik,” kata Retno.

Webinar itu diikuti oleh 925 peserta yang mengakses melalui zoom dan 355 peserta yang menggunakan youtube. Webinar diisi oleh narasumber yang sudah berpengalaman di bidangnya. Sebut saja IGM Subiksa yang membawakan materi proses pembuatan pupuk organik. Sementara Selly Salma membagikan teknologi pengomposan yang tepat. Terakhir Wiwik Hartatik menyampaikan bahan baku dan syarat mutu pupuk organik.

 

Berikut video Webinar Pembuatan Pupuk Organik:

Bogor, 10 Juni 2020. Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) melalui Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan (BBSDLP) melaksanakan Talk Show - Ngobrol Asyik Pertanian Rawa Kita pada pukul 10.00-12.00 via Zoom dan live steraming Facebook serta Youtube. Talk show ini dimoderatori oleh Ir. Dian Novarina, M.Sc, Deputy Director untuk Sustainability dan Stakeholder Engagement di APRIL Group.

Pembahasan mengenai optimalisasi lahan rawa untuk menunjang ketersediaan pangan nasional sudah banyak dilakukan. Topik ini belakangan mengemukakan kembali antara lain terkait kebijakan pemerintah dalam penyediaan pangan di tengah pandemi Covid-19. Kepala Balitbangtan, Dr. Fadjry Djufry mengatakan peringatan Hari Pangan Sedunia ke 38 dan Pekan Pertanian Lahan Rawa Nasional ke II tahun 2018 telah memberi berkah tersendiri bagi petani lahan rawa, karena pemerintah semakin memberi perhatian besar terhadap pertanian lahan rawa untuk mendukung ketahanan pangan nasional dan mewujudkan lumbung pangan dunia 2045. “Pemerintah didukung penuh oleh DPR terus mengembangkan lahan rawa agar lebih produktif,” kata Fadjry.

Talk show daring yang sangat menarik ini menghadirkan beberapa pakar seperti Prof. Supiandi Sabiham (Ketua Himpunan Masyarakat Gambut Indonesia), Prof. Budi Mulyanto (Ketua Himpunan Ilmu Tanah Indonesia), Dr. Suwandi (Dekan Fakultas Pertanian IPB University), Prof. Salampak Dohong (Pakar Gambut Universitas Palangkaraya), Prof. Azwar Ma’as (Pakar Gambut Universitas Gadjah Mada) dan Husnain MP, M.Sc, Ph.D (Kepala BBSDLP).(RS)

 

Berikut video Talk Show - Ngobrol Asyik Pertanian Rawa Kita:

Peran mikroorganisme tanah akan menjadi solusi masa depan pertanian dan kesehatan dunia. Mikroorganisme adalah salah satu kunci untuk menghasilkan tanah yang sehat. Tanah sehat akan menghasilkan tanaman sehat. "Ujungnya akan menghasilkan pangan sehat sehingga menghasilkan manusia yang sehat," kata Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP), Dr. Husnain, pada Webinar Pupuk Hayati, Kamis (4/6) pagi tadi.

Menurut Husnain, masa depan kesehatan manusia ada pada mikroorganisme tanah berupa pengembangan pupuk hayati. Pada sesendok tanah yang produktif terkandung 100-juta hingga 100-milyar sel bakteri. Itu belum termasuk fungi dan nematoda. Mikroorganisme yang bermanfaat tersebut kita kembangkan untuk membangun pertanian yang sehat," kata Husnain.

Indonesia sebagai negara tropis memiliki keragaman mikroorganisme yang tinggi di dunia sehingga menjadi kekuatan bangsa kita. "Dari beragam mikroorganisme itu diseleksi dan dikembangkan jenis yang unggul berupa pupuk hayati untuk mengatasi berbagai problem pertanian tropis," kata Husnain.

Balai Penelitian Tanah (Balittanah), menurut Husnain, telah mengembangkan pupuk hayati yang dapat mengatasi problem pertanian di lahan salin seperti yang dikembangkan oleh Dr. Edi Husein yang menjadi pembicara pertama. Lahan salin merupakan lahan yang mengandung kadar garam tinggi sehingga meracuni tanaman seperti padi. Umumnya lahan salin terdapat di sekitar pantai.

Balai yang berada di bawah koordinasi BBSDLP itu juga telah mengembangkan pupuk hayati yang dapat meningkatkan produksi pangan di lahan kering masam dan non masam seperti disampaikan Dr. Surono.

Bahkan Balittanah juga telah mengembangkan pupuk hayati untuk lahan sawah yang sangat mudah diaplikasikan pada benih padi, seperti yang dikembangkan Dr. Etty Pratiwi.

"Prinsipnya mikroorganisme itu sangat spesifik sehingga aplikasi pada berbagai jenis lahan juga spesifik," kata Husnain.

Webinar diikuti oleh 780 peserta dari 1000 pendaftar dengan komposisi 80% ASN dari berbagai kementerian pusat dan pemerintah daerah di 34 provinsi dari Sabang sampai Merauke. Sekitar 6% diikuti oleh mahasiswa dan 2% dosen dari kampus negeri dan swasta. Sisanya 12% berprofesi sebagai profesional, pegawai swasta, dan petani.

Menurut Kepala Badan Litbang Pertanian, Dr. Fadjry Djufry, M.Si, pemerintah mendukung riset pupuk hayati di tanah air dari hulu hingga hilir. Setiap produk pupuk hayati unggul dari peneliti diupayakan dapat digunakan oleh petani sebagai pengguna. "Balitbangtan melakukan kerjasama untuk memformulasi produk hayati dengan swasta maupun kelompok tani, serta menguji kesesuaian multilokasi agar mempunyai respon yang optimal," imbuh Fadjry. (DC)

 

Berikut video Webinar Pupuk Hayati:

Gambut kembali menjadi topik yang 'seksi' di tengah pandemi Covid 19 di tanah air. Demikian disampaikan, Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan (BBSDLP), Kementan, Husnain Ph.D, saat menjadi moderator di acara Webinar Pemanfaatan Gambut Secara Berkelanjutan. (28/5/2020)

Menurut Husnain, gambut kembali menjadi buah bibir karena Presiden Joko Widodo meminta Kementan menambah cadangan pangan 1,5-juta ton di luar produksi reguler untuk mengantisipasi krisis pangan di era pandemi. "Banyak lahan yang diarahkan untuk memenuhi permintaan tersebut, termasuk kemungkinan pemanfaatan gambut," kata Husnain. 

Dalam kesempatan terpisah Kepala Badan Litbang Pertanian, Dr. Fadjry Djufry menyampaikan bahwa potensi lahan gambut di Indonesia 13,4 jt ha, dan ini yang terluas kedua di dunia, oleh karenanya pemanfaatannya untuk ekonomi harus terus dioptimalkan, ujarnya.

Peneliti senior BBSDLP, Sofyan Ritung, mengungkap bahwa istilah gambut yang berkembang di masyarakat memiliki beragam makna sehingga seringkali simpang siur. Demikian pula terdapat banyak pemilahan gambut sehingga rekomendasi pemanfaatannya beragam. "Yang paling sederhana adalah pemilahan gambut berdasarkan tingkat kematangan dan ketebalan gambut," kata Sofyan. Itu belum termasuk pertimbangan tutupan lahan di atas gambut.  Tingkat kematangan gambut misalnya terbagi 3 (tiga) yaitu mentah, sedang, dan matang. Sementara ketebalan gambut dibedakan dangkal (0,5 m -1 m), sedang (1-2 m), dan dalam (2 - 3 m). "Rekomendasi pemanfaatan sangat spesifik tergantung gambutnya," kata Sofyan. 
Lahan gambut mempunyai manfaat ekonomi dan lingkungan yang penting bagi penduduk lokal dan masyarakat global sehingga prinsipnya adalah menjaga keseimbangan kedua manfaat tersebut, ungkap Prof. Fahmuddin Agus, peneliti Balai Penelitian Tanah. 

Fahmuddin menyebutkan untuk mempertahankan lahan gambut berupa hutan tidak terganggu dan hutan yang terganggu.   Sementara Hutan Tanaman Industri dikelola dengan pembuatan kanal blok untuk intensifikasi. Sebaliknya untuk semak belukar dapat dibiarkan regenerasi alami. 

Berikutnya untuk lahan bera dapat dipilih 3 (tiga) opsi yaitu rehabilitasi menjadi lahan pertanian terutama pangan, paludiculture, atau restorasi untuk dihutankan kembali. 

Tentu untuk lahan yang sudah dibuka untuk pertanian diperlukan intensifikasi dan pembuatan kanal blok untuk menghambat ektensifikasi pertanian. 

Prinsipnya lahan gambut mempunyai berbagai manfaat ekonomi dan lingkungan yang kesemuanya amat penting bagi penduduk lokal dan masyarakat global, karena itu perlu dijaga keseimbangan kedua manfaat tersebut, ungkapnya lagi. 

Tersedia berbagai pendekatan pengelolaan lahan gambut secara berkelanjutan yang bersifat spesifik lokasi. "Tapi ingat setiap pendekatan tidak dapat diterapkan untuk semua penggunaan lahan," kata Fahmuddin. 

Sementara untuk kepentingan lingkungan regulasi nasional tentang penghentian penerbitan izin baru penggunaan hutan primer dan lahan gambut (INPRES 5/2019) perlu didukung untuk membuka pasar lebih luas.  SY/HMSL

 

sumber : swadayaonline.com

Copyright © 2017 Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian. All Rights Reserved.
Jl. Tentara Pelajar No. 12, Kampus Penelitian Pertanian Cimanggu - Bogor 16114
Telpon: 0251-8323011, 8323012 Fax: 0251-8311256 Email: sekretariatbbsdlp@yahoo.com atau bbsdlp@litbang.pertanian.go.id