Info Terkini

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian menyelenggarakan rapat koordinasi untuk penguatan program kegiatan Balitbangtan dalam rangka mendukung sasaran strategis Kementerian Pertanian,di Auditorium Ir. Sadikin Sumintawikarta, Bogor, 28 Januari 2020.

Tujuan kegiatan ini adalah untuk mensosialisasikan program dan kegiatan Balitbangtan 2020. Dalam kegiatan ini juga, dilakukan penyusunan perencanaan program dan kegiatan Balitbangtan 2020.

“Balitbangtan menjadi koordinator enam bidang pangan yaitu komoditas padi, jagung, kedelai, kelapa sawit, sapi potong, dan ayam lokal,” kata Kepala Balitbangtan. Fadjry juga mengingatkan bahwa salah satu tugas dan fungsi Balitbangtan adalah program akselerasi pemanfaatan inovasi teknologi serta produksi benih/bibit.

Pada kesempatan tersebut, Fadjry juga menyebutkan bahwa Balitbangtan mengemban amanah untuk mengkoordinasikan kegiatan pusat data pertanian (Agriculture War Room/AWR). Beberapa tahap pengembangan telah dilaksanakan mulai dari pengembangan ptototipe, pemograman, pengujian, dan selanjutnya akan dilakukan soft launching dalam waktu dekat.

 “Tagline Kementan adalah maju, mandiri dan modern. Teman-teman peneliti harus meningkatkan lagi hasil penelitiannya, bukan hanya menghasilkan varietas unggul, tapi juga dapat meningkatkan pendapatan petani dan meningkatkan ekspor” tegas Fadjry.

Upaya Balitbangtan dalam meningkatkan akselerasi pemanfaatan inovasi dan teknologi pertanian mendapat dukungan penuh dari Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL). Dalam arahannya, Syahrul meminta agar Balitbangtang mampu memaksimalkan science riset dan teknologi untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri.

“Hari ini saya berharap, besok kita menghasilkan pertanian yang kuat”, begitu ujar Syahrul. Balitbangtan telah memiliki hasil riset dan teknologi, untuk itu, sudah menjadi tugas berat bagi Litbang untuk memperkenalkan dan mengimplementasikan hasil riset kepada masyarakat.

“Pertanian yang baik bisa membuka lapangan usaha, pertanian yang baik merupakan solusi ekonomi untuk menjadi lebih baik, pertanian yang baik bisa membangun upaya-upaya untuk menyejahterakan rakyat” papar Syahrul. (LQ)

 

Blitar, 22 Januari 2020.Tim Peneliti BBSDLP, Dr. Edi Husen, Dr. Budi Kartiwa, dan Dra. Selly Salma, M.Si mengunjungi Pabrik Gula PT. Rejoso Manis Indo (PG RMI) di Blitar pada tanggal 20-22 Januari 2020. Kegiatan kunjungan ini dalam rangka penjajakan kerjasama pengelolaan limbah blotong (dari hasil proses pembuatan gula) dan pengelolaan sumberdaya air.

Permasalahan yang dihadapi PG RMI adalah limbah blotong yang melimpah dan beraroma tidak sedap bila menumpuk serta permasalahan kekurangan air untuk budidaya tebu. PT RMI sangat mengharapkan penerapan teknologi tepat guna yang dihasilkan oleh BBSDLP untuk pemanfaatan limbah blotong menjadi pupuk organik dan teknologi pencarian sumber daya air serta pemanfaatan airnya secara lebih efisien.

“Kami sangat berharap ada teknologi yang dihasilkan oleh BBSDLP yang dapat kami terapkan dalam pemanfaatan limbah blotong menjadi pupuk organik dan pencarian sumberdaya air”, ungkap pengelola PG RMI.

Rencana kerjasama ini juga didukung oleh Pemerintah Daerah Blitar yang ikut hadir bersama rombongan dalam acara diskusi di Kantor PG RMI, antara lain Kepala Dinas PMD, Dirut BUMD, Dosen Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya, Ketua Paguyuban Petani Tebu, Lurah setempat, dan pengelola PG RMI.

Semoga kerjasama ini dapat segera terwujud sehingga teknologi yang dihasilkan dapat dimanfaatkan secara cepat dan tepat.

Bogor (20/1) -- Pagi ini dilaksanakan Focus Group Discussion terkait dengan Development of The Soil Atlas of Asia and National Soil Information di Balai Besar Sumber Daya Lahan Pertanian (BBSDLP). FGD dilakukan dengan mengundang para Pakar dari IPB, UGM dan Univ. Brawidjaya disamping pakar dari BBSDLP. Dikemukakan oleh Dr. Yiyi Sulaiman saat memberikan pengantar kegiatan bahwa kegiatan ini akan berjalan selama 4 tahun sejak Sept 2019 hingga Agustus 2023.
Project ini merupakan salah satu kegiatan kerja sama hibah dengan sumber pembiayaan dari Asian Food and Agriculture Cooperative Initiatives (AFACI) yang disokong oleh RDA dari Korea Selatan, ungkapnya lagi.

Saat pembukaan FGD Kepala Bidang Evaluasi BBSDLP, Dr. Erna Suryani dalam hal ini mewakili Kepala BBSDLP menyampaikan FGD ini bertujuan untuk memberikan masukan awal atas pelaksanaan Project tidak saja untuk output peta tanah Asia nya akan tetapi juga impact secara nasionalnya.

Paparan lengkap dari Dr. Markus Anda diungkapkan bahwa sistem pemetaan Indonesia yang sudah ada berupa land form akan mengikuti FAO Guidelines sesuai dengan nama tanahnya, jelasnya.

Output serupa telah dihasilkan oleh Afrika berupa Soil Map of Afrika, dan Indonesia bersama 14 negara lain akan menyusun Soil Map of Asia, ungkap Dr. Husnain dalam kesempatan lain.

Kamis, 9 Januari 2020. Kegiatan Penelitian dan Pengembangan BBSDLP TA. 2019 terbagi menjadi 6 kelompok, yaitu (1) Peta; (2) Teknologi; (3) Diseminasi; (4) Rekomendasi; (5) Kerjasama Penelitian; dan (6) Layanan. Kegiatan yang akan dievaluasi berjumlah 26 laporan, yang terdiri dari 20 RPTP dan 6 RDHP.

kegiatan dan evaluator terbagi menjadi 4 kelompok, yaitu (1) Kelompok Peta, mengevaluasi 6 laporan akhir dengan evaluator Dr. Baba Barus (IPB), Dr. Trip Alihamsyah, dan Ir. Sofyan Ritung, M.Sc; (2) Kelompok Teknologi, mengevaluasi 6 laporan akhir dengan evaluator Dr. Chendy Tafakresnanto dan Dr. Sri Rochayati; (3) Kelompok Rekomendasi, mengevaluasi 7 laporan akhir dengan evaluator Prof. Fahmuddin Agus, Prof. Irsal Las, Prof. Sukarman, dan Prof. Hidayat Pawitan (IPB); dan (4) Kelompok Diseminasi, Kerjasama, dan Layanan, mengevaluasi 7 laporan akhir dengan evaluator Ir. Anny Mulyani, MS, Prof. Made Oka Adnyana, Dr. Mamat HS, dan Dr. Muhrizal Sarwani.

Dalam arahannya, Ibu Kepala BBSDLP menyampaikan :

  1. Diharapkan kegiatan evaluasi ini dapat memberikan masukan untuk kegiatan TA. 2020 dan 5 tahun mendatang.
  2. Arahan Menteri Pertanian harus memegang key person dari setiap daerah di Indonesia.
  3. Saat ini sudah harus memastikan produk, teknologi, dan rekomendasi, serta policy brief yang dibutuhkan oleh user di setiap daerah.
  4. Diharapkan hasil kegiatan evaluasi laporan akhir TA. 2019 ini dapat memberikan masukan yang konstruktif untuk kegiatan evaluasi proposal TA. 2020.
  5. Diharapkan kegiatan lingkup BBSDLP yang menghasilkan produk ataupun teknologi dapat bergabung, agar lebih komprehensif dan luasannya bisa lebih besar karena terdapat padu padan antar Balit lingkup BBSDLP.
  6. Kegiatan pemetaan TA. 2020 akan dilakukan seperti yang sudah dirancang.
  7. Diharapkan hasil evaluasi laporan akhir ini dapat menjadi pembelajaran bagi penanggungjawab.
  8. Koordinasi, komunikasi, dan sinkronisasi kegiatan antar Balai lingkup BBSDLP penting dilakukan.
  9. BPK sudah masuk dari mulai Bulan Januari ini.

Ketua Evaluator menegaskan dalam arahannya bahwa :

  1. Pembahasan terhadap laporan akhir tidak terlalu mendetail oleh evaluator, yang terpenting adalah output yang dihasilkan apakah sudah memenuhi apa yang sudah tertulis dalam proposal (tujuan jangka pendek dan tujuan akhir).
  2. Apakah terdapat pembaharuan dari kegiatan yang di evaluasi tersebut. Karena walaupun metodologinya sama, tetapi harus ada pembaharuan terhadap isi.
  3. Perlu dicermati oleh evaluator apakah kesimpulan sudah menjawab tujuan dan keluaran dalam proposal.
  4. Selain itu juga perlu dicermati, biasanya dalam proposal terdapat output penulisan makalah.
  5. Hasil evaluasi perlu ditindaklanjuti oleh penanggungjawab.
  6. Setelah penanggungjawab memperbaiki laporan hasil evaluasi, Bidang PE perlu mencermati apakah saran evaluator sudah ditindaklanjuti oleh penanggungjawab (SN).

Sukabumi, BBSDLP membentuk tim Soil Atlas untuk kerjakan proyek dengan Asian Food & Agriculture Cooperation Initiative (AFACI). Kegiatan ini diketuai oleh Dr. Husnain, selaku Kepala BBSDLP, sedangkan untuk kegiatanya sendiri di pimpin oleh Dr. Yiyi Sulaeman selaku Kabid KSPHP, sedangkan peneliti yang dirangkul adalah Dr. Markus Anda. Kerjasama antara BBSDLP dan The Food and Agriculture Organization ( FAO) meliputi pembuatan peta atlas Indonesia skala 1:500.000.

Kemarin, 26-30 Desember 2019, tim Soil Atlas  melakukan pengumpulan data, klasifikasi tanah, serta verifikasi lahan. Pengumpulan data dilaksanakan di Cisarua, Kab. Bogor.  Dalam penyiapan pembuatan peta atlas skala 1:500.000 ini, tim mulai mengumpulkan data-data dan mebuat klasifikasi tanah untuk pulau Sumatera.

Untuk verifikasi lahan, tim menuju ke Sukabumi, tempat-tempat yang diambil profilnya antara lain daerah Pasirhuni, Kecamatan Jampang, Desa Cirajeg Kecamatan Purabaya, serta Desa Batucuri Kecamatan Sagaranten. Ketiga daerah tersebut dipilih dikarenakan memiliki elevasi dan struktur tanah yang berbeda. Dalam verifikasi lahan kemarin, tim menentukan klasifikasi tanah, dengan cara mengukur kedalaman tanah, menentukan lapisan tanah, menentukan jenis dan teksrur tanah, serta mengukur kadar pH tanah.

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan target quartal pertama dalam penyiapan peta skala 1:500.000 dapat tercapai, sehingga proyek kerjasama menjadi lancar. (LQ)