Riset 2013

Dengan makin meningkatnya jumah penduduk dan kebutuhan lahan untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional, serta semakin terbatasnya lahan subur, maka perhatian pemerintah di masa mendatang akan terfokus pada pengembangan wilayah-wilayah tertinggal dan pengembangan khusus, seperti lahan sub optimal yaitu lahan kering masam, lahan kering beriklim kering, serta lahan rawa (pasang surut, gambut dan lebak). Untuk mempercepat dan memperluas pembangunan ekonomi, termasuk pembangunan daerah tertinggal seperti lahan sub-optimal, pemerintah telah menyusun Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang memberikan arah pembangunan Ekonomi Indonesia mulai 2011 hingga 2025. Pengembangan wilayah lahan sub-optimal sangat potensial, terutama lahan yang belum atau tidak dimanfaatkan, menjadi sangat strategis dan penting, terutama sebagai lumbung pangan alternatif, yang sekaligus untuk menghadapi dampak perubahan iklim. Badan Litbang Pertanian, Kementrian Pertanian saat ini memiliki lebih dari 66 orang profesor riset aktif yang jika digerakkan  dan diperankan akan sangat potensial untuk menghasilkan berbagai gagasan yang inovatif dalam mendukung program empat suskes pertanian, termasuk program penelitian dan pengembangan pertanian. Gagasan inovatif tersebut akan lebih efektif dan unggul jika disusun dan dirancang melalui pendekatan multi disiplin dan tidak BAU (business as usual). Kegiatan kunjungan kerja ini bertujuan untuk menyusun model atau program percepatan pembangunan pertanian di lahan sub optimal melalui pendekatan wilayah agroekosistem dan penanganan permasalahan secara multidisiplin dan terintegrasi, yang dilakukan baik secara deskwork, field study/survei lapang, maupun diskusi, workshop, atau FGD, baik dengan pemerintah daerah, LSM, swasta dan masyarakat. Pada tahun 2012 telah dilakukan kunjungan kerja tematik ke lahan sub optimal rawa pasang surut di Kecamatan Muara Sabak Timur, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi, lahan sub optimal rawa lebak Alabio, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Provinsi Kalimantan Selatan, dan laha sub optimal lahan kering iklim kering di Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Pada tahun 2013, kegiatan akan dilanjutkan dengan implementasi di lapangan untuk mendukung program pemda setempat, yaitu dengan mengembangkan Laboratorium Lapangan di 3 lokasi lahan sub optimal tersebut. Badan Litbang Pertanian akan mendukung dari aspek inovasi baru yang telah tersedia, dengan pengawalan dan pendampingan oleh pakar di bidangnya masing-masing, yang tentunya berkoordinasi baik dengan pemerintah setempat, BPTP maupun masyarakat petani. Sedangkan kunker tematik tetep akan dilakukan untuk lokasi baru yaitu lahan sub optimal kering masam di Provinsi Lampung

Peneliti : Prof. Dr. Ir. Irsal Las