Riset 2013

Rekomendasi pemupukan yang berdasar pada kebutuhan tanaman dan ketersediaan hara dalam tanah adalah acuan dalam melaksanakan pemupukan berimbang. Pemupukan berimbang ini berlaku untuk semua jenis tanaman agar produktivitas tinggi dan kelestarian lingkungan terjaga. Di Indonesia terdapat beberapa komoditas utama yang dibudidayakan cukup luas yakni tebu sebagai bahan gula dan padi yang tentunya adalah bahan baku beras. Produksi kedua bahan tersebut memerlukan dukungan pengelolaan hara yang baik agar efisiensi hara dan target produksi tercapai.

Gula adalah salah satu kebutuhan pokok yang sangat sensitif sebagai penyebab gejolak yang timbul di masyarakat, oleh karenanya stabilitas produksi gula nasional perlu dijaga. Namun fakta yang paradok dengan harapan dimana produksi gula nasional cenderung fluktuatif. Rendahnya pendapatan yang diterima petani diduga menjadi penyebab utama menurunnya luas areal tebu.  Luas areal tanam tebu di Jawa menurun secara signifikan dari 295 ribu ha pada tahun 1995 menjadi hanya 224 ribu ha pada tahun 2002, sementara luas areal tebu di luar Jawa relatif stabil. Produktivitas tebu di Jawa berkisar antara 70 – 75 ton/ha, masih jauh dari potensi produksinya yang dapat mencaoai lebih dari 100 ton/ha. Saat ini rendemen gula hanya sekitar 5,4 – 7,6%  masih sangat jauh dibandingkan rendemen tertinggi yang pernah dicapai pada tahun 1930-an yaitu sekitar 15%.

Tanaman tebu umumnya dilaksanakan pada lahan kering dengan areal yang cukup luas. Kendala utama penanaman tebu di luar Jawa adalah tanah yang miskin hara, drainase buruk dan atau topografi yang bergelombang. Lahan yang berlereng menyebabkan terjadinya erosi permukaan tanah cukup besar sehingga lahan tersebut akan cepat mengalami degradasi. Penerapan teknik konservasi tanah pada lahan pertanian yang mempunyai kelerengan > 5 % di daerah dengan curah hujan tinggi dan tanahnya peka terhadap erosi, mutlak harus dilakukan.  Tanah dengan lereng 3% dan mempunyai faktor erodibilitas tinggi seperti tanah Ultisol di Pekalongan, Lampung Timur setiap tahun dapat kehilangan lapisan tanah setebal > 0,5 mm.  Tanah yang hilang tersebut adalah lapisan subur dan membawa serta hara-hara yang semula dibenamkan di daerah perakaran.  Untuk itu diperlukan teknik konservasi tanah yang dapat menurunkan erosi dan aliran permukaan.  Untuk perencanaan penerapan teknik konservasi tanah digunakan SPLaSH, dalam menilai faktor-faktor penyebab degradasi dan tindakan konservasi tanah.

Peneliti : Prof. Dr. Didi Ardi Suriadikarta MSc