Mineral primer adalah penentu utama  besarnya cadangan hara dalam tanah. Tanah yang mempunyai banyak mineral primer pembawa banyak cadangan hara akan mencerminkan tanah mempunyai sedikit faktor pembatas bagi tanaman dalam jangka waktu lama. Sebaliknya tanah yang didominasi mineral tahan pelapukan dan miskin hara akan mempunyai banyak faktor pembatas ketersediaan hara tanaman. Mineral batuan yang mempunyai cadangan K tinggi berpotensi untuk dijadikan alternatif sumber pupuk K agar mengurang impor pupuk KCl. Ketersediaan informasi jenis mineral liat (sekunder) pada lahan sawah akan mencerminkan kemampuan tanah untuk menahan unsur hara asal produk pelapukan dan pemupukan. Lahan sawah nasional seluas 7.9 juta ha tetapi informasi mengenai komposisi mineral baik primer maupun sekunder tidak tersedia sehingga pemberian pemupukan hampir tidak dibedakan pada lahan sawah dengan jenis, jumlah dan sifat mineral berbeda. Akibatnya terjadi pencucian atau kehilangan hara sangat besar karena kemampuan tanah menahan (retain) ion hara yang ditentukan oleh jenis mineral liat tidak dipertimbangkan, sehingga berdampak pada pemborosan dan pencemaran pupuk pada badan air.

Secara umum tujuan penelitian adalah (i) mendapatkan jenis mineral batuan sebagai bahan baku aternatif sumber pupuk K, (ii) meneliti jenis dan proporsi ketersedian cadangan mineral pembawa hara dan mineral liat pada tanah sawah asal sedimen masam, intermedier dan basis dan (iii) menentukan jenis mineral dan hara utama yang mengendalikan produksi dan kualitas tinggi biji kakao. Penelitian mineral batuan potential sebagai alternatif sumber pupuk K akan dilakukan di daerah yang mempunyai cadangan mineral kandungan K tinggi, sedangkan penelitian pada lahan sawah akan dilakukan pada lahan sawah dari bahan induk sedimen masam, tengahan (intermedier) dan basis. Untuk penelitian kakao akan dilakukan pada daerah sentra produksi kakao yang berkualitas tinggi. Pengambilan contoh batuan akan dilakukan menggunakan palu geologi atau linggis. Pengambilan contoh tanah pada lahan sawah dan kakao akan dilakukan dengan membuat profil dan sampel akan diambil dari tiap lapisan untuk analisa mineral, kimia dan fisik tanah. Disamping itu akan diambil contoh komposit sekitar profil tanah dan daun kakao untuk analisa berbagai kandungan unsur daun. Analisa total komposisi unsur mineral batuan menggunakan sinar X fluoresen (X-ray fluorescence, XRF), analisa mineral pasir menggunakan mikroskop polarisasi sedangkan analisa mineral liat menggunakan difraksi sinar X (X-ray diffraction, XRD) atau differential thermal analysis (DTA); disamping itu dilakukan juga analisa sifat kimia dan fisik tanah. Percepatan pelarutan K dari mineral batuan akan dilakukan secara biologi di laboratorium. Hasil yang diharapkan adalah ketersediaan informasi jenis batuan potensial sebagai alternatif bahan baku sumber pupuk K, jumlah mineral yang mmengandung cadangan hara tinggi pada lahan sawah, jenis dan jumlah mineral liat serta sifat-sifatnya, jenis mineral dan hara utama yang mengendalikan produksi dan kualitas kakao yang tinggi. Dampak penelitian adalah mendapatkan bahan baku alternatif sumber pupuk K untuk mengurangi impor pupuk KCl, strategi efisiensi pemupukan baik pada lahan sawah yang masih mempunyai cadangan mineral pembawa hara maupun pada lahan sawah yang sudah kehabisan cadangan hara untuk mengoptimalkan produktivitas lahan sawah, persyaratan tumbuh kakao kualitas tinggi untuk meningkatkan produksi kakao nasional dan daya saing di pasar global.

Peneliti : Dr. Markus Anda, M.Sc.