Dalam TA 2014 Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian telah melakukan penelitian “Identifikasi dan Evaluasi Potensi SDL untuk Pengembangan Pertanian di Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara dan Maluku” di 24 kabupaten. Penelitian terdiri atas kegiatan: (1) Penyusunan peta-peta potensi SDL skala 1:50.000 di 24 kabupaten (+ 15 juta ha), dan (2) Kompilasi peta tanah tinjau Provinsi Papua skala 1:250.000 (31,4 juta ha).

Metode penelitian menggunakan pendekatan satuan lahan yang dianalisis dan didelineasi secara semi-otomatis dari data DEM/SRTM, citra landsat, peta geologi dan peta RBI dengan teknik GIS. Peta analisis satuan lahan skala 1:50.000 digunakan dalam perencanaan survei lapangan. Survei lapangan dilakukan untuk pengecekan hasil analisis satuan lahan, pengamatan sifat-sifat tanah, pengambilan contoh tanah untuk analisis laboratorium. Sedangkan metode kompilasi peta tanah tinjau Papua dilakukan melalui analisis, evaluasi dan korelasi data/peta-peta tanah dari beberapa lokasi yang sudah ada untuk digabungkan menjadi satu peta dengan legenda peta yang seragam.Tanah-tanah di wilayah Kalimantan terbentuk dari batuan sedimen masam dan basis, volkan tua, intrusi volkan, dan endapan aluvium, serta bahan organik atau gambut pada kondisi iklim basah (curah hujan cukup tinggi).

Tanah-tanah yang terbentuk umumnya sudah mengalami pelapukan lanjut (tua), pH masam, kandungan hara rendah, dan kejenuhan Al tinggi, seperti Spodosols, Ultisols dan Oxisols. Pada lahan basah terbentuk tanah-tanah masih muda, seperti Inceptisols, Entisols dan Histosols, yang sebagian mengandung bahan sulfidik atau pirit di lapisan bawah.

Tanah-tanah di wilayah Sulawesi terbentuk dari batuan volkan (muda dan tua), intrusi volkan, metamorfik/skis, sedimen masam dan basis/batugamping, dan bahan endapan (aluvium, marin), membentuk tanah-tanah yang relatif muda (Entisols, Inceptisols, Mollisols, Andisols), Penampang tanah dalam, reaksi agak masam-netral, kandungan hara terutama K dan Ca tinggi, KTK tanah dan kejenuhan basa sedang-tinggi. Tanah dari volkan muda (Andisols, Mollisols, Inceptisols) mempunyai cadangan mineral mudah lapuk (sumber hara) tinggi. Sedangkan batuan volkan tua dan ultrabasik membentuk tanah-tanah berpelapukan lanjut (tua) yang miskin hara, tetapi mempunyai sifat fisik baik (Ultisols, Oxisols). Tanah gambut (Histosols) hanya dijumpai di Kabupaten Mamuju Utara, Sulawesi Barat.

Tanah-tanah di wilayah Halmahera yang terbentuk dari batuan volkan muda dan aluvium menunjukkan perkembangan awal masih muda (Entisols, Inceptisols, Andisols, Mollisols) pada kondisi curah hujan tidak terlalu tinggi. Tanah umumnya bertekstur sedang, agak masam, kandungan hara sedang-tinggi, KTK rendah-sedang, dan kejenuhan basa tinggi. Sedangkan tanah-tanah yang terbentuk dari batuan volkan tua dan sedimen mempunyai perkembangan lanjut (Ultisols, Alfisols), penampang dalam, pH masam, kandungan hara rendah, KTK dan kejenuhan basa rendah-sedang.

Tanah-tanah di wilayah Nusa Tenggara umumnya terbentuk dari batuan sedimen basis (batugamping, napal), batuan volkan (muda, tua), batuan intrusi, dan endapan aluvium. Tanah-tanah yang terbentuk relatif muda (Inceptisols, Mollisols, Vertisols, Andisols), pada kondisi curah hujan relatif rendah (rejim kelembaban tanah ustik). Penampang tanah dalam sampai dangkal (berkerikil/berbatu), bereaksi agak masam- netral, kandungan hara sedang-tinggi, kation basa-basa terutama Ca dan kejenuhan basa tinggi.

Penilaian kesesuaian lahan untuk berbagai komoditas pertanian mendukung pewilayahan komoditas pertanian di 24 kabupaten di Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara dan Maluku, menghasilkan kelas kesesuaian lahan yang bervariasi dalam hal faktor pembatas dan luasnya. Di Kalimantan, lahan lebih berpotensi untuk pengembangan tanaman perkebunan (sawit, karet, kelapa, kopi, tebu), disamping tanaman pangan (padi dan palawija). Di Sulawesi, lahan banyak berpotensi untuk tanaman pangan (padi sawah, palawija/jagung, kacang-kacangan, sayuran), disamping tanaman tahunan/perkebunan (kakao, cengkeh, kelapa, tebu, vanili). Di Halmahera, lahan lebih berpotensi untuk tanaman pangan (padi, jagung, kacang-kacangan), disamping tanaman tahunan (kelapa, cengkeh, pala). Di Nusa Tenggara, lahan lebih berpotensi untuk tanaman pangan lahan kering (padi dan palawija) dan tanaman tahunan/perkebunan (kelapa, kopi, mete, kemiri). Faktor pembatas umumnya terdiri dari kemiringan lereng/bahaya erosi, media perakaran (tekstur, drainase, kedalaman), ketersediaan air, dan retensi hara, serta toksisitas (untuk daerah pantai/marin).

Provinsi Papua terdiri dari 7 grup landform, yaitu Aluvial (5,36 juta ha), Marin (8,99 juta ha), Fluvio-Marin (1,93 juta ha), Gambut (0,92 juta ha), Karst (1,68 juta ha), Volkanik (0,86 juta ha) dan Tektonik (11,38 juta ha), serta Aneka bentuk 0,32 juta ha. Bahan induk tanahnya terdiri dari endapan aluvium, bahan organik, batugamping, napal, batupasir, batuliat, skis, filit, batuan volkan andesit-basalt, granit dan granodiorit. Tanah berkembang pada kondisi iklim basah sampai kering, relief datar-bergunung, dan elevasi 0-3500 m diatas permukaan laut. Tanah terdiri atas 8 ordo, yaitu: Histosols, Entisols, Inceptisols, Mollisols, Alfisols, Ultisols, Spodosols, dan Oxisols, yang menurunkan beberapa grup tanah. Peta tanah tingkat tinjau Papua terdiri atas 81 Satuan Peta Tanah, yang tersebar pada areal seluas 31,4 juta ha.

Pj : Ir. Hikmatullah, MSc