Riset 2015

Kekhawatiran terhadap krisis energi dan lingkungan yang terjadi di berbagai belahan dunia pada belakangan ini menyebabkan tuntutan terhadap penggunaan BBN sebagai sumber energi alternatif BBM semakin meningkat. Di Indonesia kelangkaan BBM karena mengeringnya sumur-sumur produksi telah berdampak pada peningkatan volume impor bahan bakar yang semakin lama semakin memberatkan keuangan negara. Untuk mengurangi ketergantungan tersebut, pemerintah mengeluarkan kebijakan melalui Perpres No. 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional untuk mengembangkan BBN sebagai sumber energi alternatif dan Inpres No. 1 Tahun 2006 tentang penyediaan dan pemanfaatan BBN sebagai bahan bakar alternatif.

BBN adalah bahan bakar dari sumber hayati (biofuel), disamping dapat meningkatkan ketahanan energi nasional, BBN ramah lingkungan dan merupakan sumber energi terbarukan (renewable). Indonesia memiliki berbagai jenis tanaman yang dapat dijadikan sebagai sumber minyak nabati pengganti minyak fosil, antara lain singkong (Manihot utilisima) dan tebu (Saccharum officanarum L.) sebagai sumber bahan baku bioetanol (pengganti bensin); kelapa sawit (Elaeisoleifera), kelapa (Cocos nucifera), jarak pagar (Jatropha curcas L.) dan kemiri sunan (Reutealis trisperma/Blanco Airy Shaw) sebagai sumber bahan baku biodiesel (pengganti solar).

Kemiri sunan adalah salah satu tanaman yang sangat potensial sebagai penghasil minyak nabati jenis biodiesel. Tanaman ini mampu menghasilkan 4-6 ton biji kering per hektar per tahun atau setara dengan 2-3 ton minyak kasar (crude oil)perhektar per tahun atau 1,8-2,8 ton biodiesel per hektar per tahun. Di sisi lain, tanaman ini beracun, sehingga tidak dapat dikonsumsi, berbeda dengan tanaman penghasil biofuel lainya yang berkompetisi dengan konsumsi. Kemiri sunan berasal dari Filipina dan sudah cukup lama dikenal oleh masyarakat Indonesia, terutama masyarakat di Pulau Jawa. Berbagai penelitian terkait aspek pemuliaan, teknik budidaya, penanganan pasca panen hingga teknologi pengolahan biodiesel telah banyak dilakukan, namun sangat sedikit yang mengkaji peran tanah sebagai media tumbuh dan penyedia hara serta lingkungan tumbuh, dan pengaruhnya terhadap produktivitas dan mutu minyak (crude oil) kemiri sunan, sehingga baik hara maupun lingkungan tumbuh yang menentukan produktivitas dan mutu minyak (crude oil) kemiri sunan belum diketahui.

Secara umum setiap tanaman membutuhkan hara dan lingkungan tumbuh yang spesifik untuk berproduksi dengan baik. Hara di dalam tanah sebagian besar berasal dari pelapukan mineral-mineral penyusun batuan induk, dimana batuan induk berbeda akan mempunyai komposisi mineral berbeda, sehingga jumlah dan jenis hara yang dihasilkan berbeda pula. Pendekatan kesesuaian lahan sebagai dasar pengembangan komoditas pertanian selama ini, belum sepenuhnya mempertimbangkan kecukupan hara di dalam tanah, sehingga baik jumlah maupun jenis yang dibutuhkan belum banyak diketahui, demikian juga jenis mineral sebagai menyedia hara belum banyak diteliti. Oleh karena itu identifikasi mineral dan hara tanah untuk pengembangan kemiri sunan sebagai sumber energi alternatif penting dilakukan.

Penelitian dilaksanakan dalam empat tahap kegiatan, yaitu: 1) Identifikasi karakteristik lahan (tanah dan lingkungan tumbuh), 2) Identifikasi hara dan lingkungan tumbuh yang berperan penting terhadap produktivitas dan mutu minyak (crude oil) kemiri sunan, 3) Evaluasi potensi tanah untuk pengembangan kemiri sunan, dan 4) Penyusunan persyaratan tumbuh dan kriteria kesesuaian lahan untuk kemiri sunan. Tujuan akhir penelitian adalah tersusunnya persyaratan tumbuh yang berperan penting terhadap produktivitas dan mutu minyak (crude oil) kemiri sunan. Berdasarkan persyaratan tumbuh tersebut disusun kriteria kesesuaian lahan dengan mempertimbangkan persyaratan pengelolaan (management requirement) dan persyaratan konservasi/lingkungan (conservation/environment requirement).

Penelitian terdiri atas penelitian lapang dan laboratorium. Penelitian lapangan bertujuan untuk mengumpulkan data karakteristik lahan, baik karakteristik tanah maupun karakteristik lingkungan tumbuh melalui deskripsi profil pewakil, pengambilan contoh tanah dan tanaman, pengamatan lingkungan (elevasi), pengumpulan data produksi, dan data iklim. Penelitian lapang telah dilakukan di tujuh lokasi kebun (kecuali di Kabupaten Garut dan Majalengka), yaitu Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (KP Balittri), Pakuwon-Sukabumi; kebun kemiri sunan PT. Bahtera Hijau Lestari Indonesia (PT. BHLI) di Subang, Jawa Barat; kebun kemiri sunan masyarakat di Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung; dan kebun kemiri sunan PT. Jasa Tirta di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Di Kabupaten Garut dan Majalengka penelitian dilakukan di kebun kemiri sunan masyarakat yang ditanam di makam-makam tua.

Sebanyak 50 contoh tanah yang berasal dari 12 profil pewakil dan 30 contoh tanah komposit telah diambil dan dianalisis sifat fisika-kimia, mineralogi dan status kesuburan tanah di laboratorium. Sebanyak 31 contoh tanaman yang terdiri atas 17 contoh daun, tujuh contoh kulit buah dan tujuh contoh isi buah (kernel) kemiri sunan telah pula dianalisis serapan hara dan karakteristik minyak nabatinya (crude oil). Penelitian laboratorium dilaksanakan di Laboratorium Kimia Tanah, Balai Penelitian Tanah, Bogor. Komposisi mineral pasir dilaksanakan di Laboratorium Mineralogi, Balai Besar Litbang Sumber Daya Lahan Pertanian, sedangkan identifikasi mineral liat menggunakan X-Ray Difractometer dilaksanakan di Laboratorium Puslitbang Geologi, Bandung. Analisis karakteristik minyak nabati (crude oil) kemiri sunan dilaksanakan di Laboratorium Energi Minyak dan Gas Bumi (LEMIGAS), Kementerian ESDM.

Hasil penelitian lapang menunjukkan tanaman kemiri sunan yang ditanam di kebun percobaan dan perkebunan berumur 4-5 tahun, dan umumnya berbuah 1-2 kali (berbuah sejak umur rata-rata 3,5 tahun). Berbeda dengan tanaman kemiri sunan  yang dijumpai di Kabupaten Garut dan Majalengka, tanaman sudah berusia puluhan tahun, rata-rata di atas 50 tahun, bahkan ada yang berumur lebih dari 70 tahun. Pohon besar dan tinggi serta berdaun lebat, diameter pohon 1-2 m dengan tinggi 15-20 m. Berdasarkan ciri-ciri morfologis, varietas kemiri sunan yang dijumpai termasuk Kemiri Sunan 2, kecuali di Kabupaten Garut termasuk Kemiri Sunan 1.

Tanah sebagai media tumbuh tanaman kemiri sunan berkembang dari bahan volkan bersifat andesit-basalt sampai basalt. Komposisi mineral utama terdiri atas opak, feromagnesia, feldspar, perbedaannya hanya terdapat pada jumlah mineral penyusun. Berdasarkan jumlah dan jenis mineral penyusun, SP berkembang dari bahan volkan andesit-basaltik, sedangkan lainnya (SG1, SG2, SG3, SM4, dan SM5) dari bahan volkan yang bersifat basalt. Mineral feromagnesia yang dijumpai adalah augit, hipersten, enstatit, dan hornblende. Mineral-mineral tersebut merupakan sumber dari magnesium (Mg), besi (Fe), dan kalsium (Ca). Sedangkan mineral feldspar yang dijumpai adalah labradorit, bitownit, dan andesin. Mineral-mineral tersebut kaya akan kalsium (Ca) dan sodium (Na). Tanah tergolong subur ditunjukkan oleh tingginya kandungan mineral mudah lapuk pada semua profil yang dianalisis. Berdasarkan jumlah kandungan mineral mudah lapuknya bahwa profil SG1 > SG2 > SM5 > SG3 > SM4 > SP.

Secara umum tanah dalam sampai sangat dalam, tekstur halus sampai agak halus, drainase baik, permeabilitas sedang sampai agak cepat. Tanah yang berkembang dari bahan volkan andesit basalt mempunyai pH yang tergolong masam, sedangkan tanah dari bahan volkan basalt agak masam sampai netral. Kandungan C organik sangat rendah sampai rendah. Basa-basa dapat tukar bervariasi dari rendah sampai sangat tinggi, dan tanah-tanah dari bahan volkan basalt mengandung basa-basa (terutama Ca, Mg dan Na) lebih tinggi dari bahan volkan andesit basalt, sedangkan KTK tanah rendah sampai sedang.

Tanaman kemiri sunan 2 yang dijumpai berada pada kisaran ketinggian 35-610 m dari permukaan laut (m dpl). Curah hujan rata-rata tahunan berkisar antara 2.000 – 3.000 mm, dengan bulan kering (curah hujan < 60 mm/bulan) berkisar antara 0-3 bulan, dan suhu udara minimum 14,4°C dan maksimum 34,1°C. Kemiri sunan yang berasal dari Giriwoyo (Wonogiri) menghasilkan persentase minyak nabati paling tinggi sebesar 16,18%, kemudian diikuti oleh kemiri sunan dari Kasokandal (Kabupaten Majalengka) sebesar 14,29% dan Padahanten (Kabupaten Majalengka) sebesar 12,31%. Blok Balong dari Desa Limbangan Tengah (Garut) menghasilkan minyak nabati sebesar 8,06%, dan kemiri sunan dari Desa Kumpay, (Subang, PT. BHLI) hanya menghasilkan minyak nabati sebesar 5,48%.

Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang sangat erat antara kadar minyak nabati kemiri sunan dengan elevasi (m dpl), ditunjukkan oleh R² = 0,96. Kadar minyak nabati menurun sejalan dengan bertambahnya elevasi. Kadar minyak tertinggi akan diperoleh pada ketinggain < 200 m dpl. Selain jumlah curah hujan tahunan bahwa kadar minyak menurun sejalan meningkatnya curah hujan tahunan. Hubungan yang erat ditunjukkan kadar minyak dengan tingkat kebasahan suatu wilayah. Keeratan hubungan ditunjukkan oleh koefisien determinasi (R²) sebesar 0,74, bahwa semakin kering suatu wilayah, maka kadar minyak nabati akan semakin tinggi.

Kemiri sunan memegang peranan penting dalam sistem energi nasional, yaitu sebagai sumber energi alternatif bahan bakar minyak (BBM) yang bersumber dari fosil. Berdasarkan kajian cadangan BBM yang ada hanya mampu mencukupi kebutuhan 18 tahun ke depan. Oleh karena ini untuk menjadikan kemiri sunan sebagai sumber energi alternatif, perlu penelitian yang kongrit, tidak saja teknik budidaya, aspek ekonomi tetapi juga lingkungan tumbuh yang diinginkan agar tanaman kemiri sunan dapat tumbuh berproduksi optimal. Hal ini sangat penting dilakukan di tengah keterbatas sumberdaya lahan. Saat ini kemiri sunan sudah mempunyai 4 varietas yang sudah direlease oleh Balittri, Puslitbangbun, balitbangtan untuk dikembangkan mendukung sistem energi nasional. Masing-masing varietas mempunyai karakteristik produk yang dihasilkan. Oleh karena itu penelitian untuk menentukan lingkungan tumbuh perlu dilakukan agar tanaman kemiri sunan dapat berproduksi optimal sesuai dengan karakteristiknya.

Peneliti : Dr. Ir. Erna Suryani, M.Si