Dengan makin meningkatnya jumlah penduduk dan kebutuhan lahan untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional, serta semakin terbatasnya lahan subur, maka perhatian pemerintah di masa mendatang akan terfokus pada pengembangan wilayah-wilayah tertinggal dan pengembangan khusus, seperti lahan sub-optimal yaitu lahan kering masam, lahan kering beriklim kering, serta lahan rawa (pasang surut, gambut, dan lebak). Untuk mempercepat dan memperluas pembangunan ekonomi, termasuk pembangunan daerah tertinggal seperti lahan sub-optimal, pemerintah telah menyusun Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang memberikan arah pembangunan Ekonomi Indonesia mulai 2011 hingga 2025. Pengembangan wilayah lahan sub-optimal sangat potensial, terutama lahan yang belum atau tidak dimanfaatkan, menjadi sangat strategis dan penting, terutama sebagai lumbung pangan alternatif, yang sekaligus untuk menghadapi dampak perubahan iklim. Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian saat ini memiliki lebih dari 66 orang profesor riset aktif yang jika digerakkan dan diperankan akan sangat potensial untuk menghasilkan berbagai gagasan yang inovatif dalam mendukung program empat suskes pertanian, termasuk program penelitian dan pengembangan pertanian. Gagasan inovatif tersebut akan lebih efektif dan unggul jika disusun dan dirancang melalui pendekatan multidisiplin dan tidak BAU (business as usual). Kegiatan kunjungan kerja ini bertujuan untuk menyusun model atau program percepatan pembangunan pertanian di lahan sub-optimal melalui pendekatan wilayah agroekosistem dan penanganan permasalahan secara multidisiplin dan terintegrasi, yang dilakukan baik secara deskworkfield study/survei lapang, maupun diskusi, workshop, atau FGD, baik dengan pemerintah daerah, LSM, swasta, dan masyarakat. Pada tahun 2012 telah dilakukan kunjungan kerja tematik ke lahan sub-optimal rawa pasang surut di Kecamatan Muara Sabak Timur, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi, lahan sub-optimal rawa lebak Alabio, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Provinsi Kalimantan Selatan, dan lahan sub-optimal lahan kering iklim kering di Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Pada tahun 2013, kegiatan dilanjutkan dengan implementasi di lapangan untuk mendukung program pemda setempat, yaitu dengan mengembangkan Laboratorium Lapangan di 3 lokasi lahan sub-optimal tersebut. Badan Litbang Pertanian akan mendukung dari aspek inovasi baru yang telah tersedia, dengan pengawalan dan pendampingan oleh pakar di bidangnya masing-masing, yang tentunya berkoordinasi baik dengan pemerintah setempat, BPTP maupun masyarakat petani. Sedangkan kunker tematik pada tahun 2013 telah dilakukan pada lahan sub-optimal lahan kering masam di Provinsi Lampung, dan untuk tahun 2014 pada lahan sub-optimal dan daerah tertinggal di Provinsi Sulawesi Tenggara dan Maluku. Sedangkan pada tahun 2015 telah dilakukan kunjungan kerja tematik pada lahan sub-optimal khususnya pada lahan terlantar bekas tambang di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Selain itu, pendampingan tetap dilaksanakan pada laboratorium lapang yang sudah dilaksanakan di 4 provinsi yaitu Jambi, Kalsel, NTB, dan Lampung.

Peneliti : Ir. Anny Mulyani, MS