Peneltian: “Estimasi Laju Subsiden Lahan Gambut Pada Berbagai Tipe Penggunaan Lahan dan Usaha untuk Mengatasinya” bertujuan untuk: 1) estimasi laju subsiden lahan gambut yang dimanfaatkan untuk tanaman pertanian, 2) mengkaji parameter-parameter yang mempengaruhi besarnya laju subsiden di lahan gambut, 3) menyusun alternatif usaha untuk mengurangi dan mengatasi terjadinya subsiden di lahan gambut bila dimanfaatkan untuk budidaya pertanian, 4) mengkaji morfologi (perbedaan elevasi) dan  karakteristik gambut pada suatu kawasan  gambut untuk estimasi posisi pusat  kubah gambut.

Dalam kondisi alami lahan gambut selalu dalam keadaan jenuh air (anaerob), sementara itu sebagian besar tanaman memerlukan kondisi yang aerob. Pemanfaatan lahan gambut untuk komoditas tanaman pertanian/perkebunan atau Hutan Tanaman Industri (HTI) mengharuskan adanya saluran drainase atau kanal untuk meningkatkan ketersediaan oksigen bagi akar supaya tanaman dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Pembuatan drainase menyebabkan penurunan muka air tanah, akibatnya terjadi perubahan kondisi lingkungan dari anaerob menjadi aerob pada lapisan dekat permukaan gambut. Pembuatan saluran drainase di lahan gambut akan diikuti oleh penurunan permukaan lahan (subsidence). Proses ini terjadi karena pemadatan, dekomposisi, dan erosi gambut di permukaan yang kering. Semakin dalam saluran drainase, diindikasikan penurunan permukaan lahan semakin besar dan semakin cepat. Penurunan permukaan gambut mudah diamati dengan munculnya akar tanaman tahunan di permukaan tanah.

Di kawasan pantai timur Riau khususnya di daerah Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten  Siak sebagian lahan gambut telah dimanfaatkan untuk pengembangan kelapa sawit, karet, kelapa, tanaman pangan semusim/padi dan juga untuk Hutan Tanaman Industri (HTI) yang sebagian besar berupa akasia. Umumnya gambut yang digunakan untuk pengembangan tanaman kelapa sawit dan HTI dilakukan pada gambut berketebalan 200-400 cm bahkan beberapa tempat ada yang mencapai 800 cm. Sedangkan untuk pengembangan tanaman karet dan kelapa umumnya dikembangkan pada lahan gambut yang relatif lebih dangkal (<300 cm). Paling dangkal adalah lahan gambut yang digunakan untuk persawahan (ditanami padi dan pangan semusim) pada lahan gambut yang tebalnya <200 cm. Lahan gambut yang ditelantarkan pada saat ini didominasi oleh semak  belukar (diduga pada awalnya merupakan hutan primer atau hutan sekunder yang telah dilakukan tebang pilih atau tebang habis dan ditelantarkan) ketebalan gambutnya bervariasi antara 200-600 cm.

Laju subsiden yang tinggi dijumpai pada lahan gambut yang dimanfaatkan untuk HTI (12,9 cm/tahun), kemudian disusul berturut-turut oleh lahan gambut yang dimanfaatkan untuk kelapa (11,25 cm/un), sawah (9,8 cm/tahun) dan kelapa sawit (8,8 cm/tahun).. Tingginya laju subsiden pada lahan gambut yang dimanfaatkan untuk HTI dimungkinkan dalamnya drainase (>80 cm) dan rapatnya drainase yang dibuat. Besarnya laju subsiden pada lahan gambut yang disawahkan diduga karena intensifnya pengelolaan sehingga lahan gambut cepat menyusut.

Strategi untuk memperbaiki dan mengurangi kerusakan ekologi gambut sebagai dampak adanya subsiden, sekaligus meningkatkan stok karbon pada lahan gambut dalam jangka panjang, dapat ditempuh antara lain melalui kegiatan: 1) meningkatkan ketinggian  air permukaan tanah (ground water level) sehingga permukaan tanah gambut tetap lembab/ basah tidak mudah terbakar, mencegah terjadinya kebakaran, dengan cara mengatur kadar air gambut di atas permukaan air tanah harus dapat dipertahankan dalam kondisi hidrofilik. Hindari pembuatan drainase pada lahan gambut. semakin dalam dan semakin panjang/ dalam saluran drainase dibuat, resiko terjadinya subsiden dan lahan menjadi rawan banjir akan semakin tinggi.

Peneliti : Drs. Wahyunto, M.Sc