Dalam TA 2016 Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian telah melakukan penelitian “Penyusunan Informasi Geospasial Mendukung Pengembangan Kawasan Pertanian” di 120 Kabupaten/Kota yang tersebar di Sumatera, Jawa dan Sulawesi. Penelitian bertujuan untuk menyediakan informasi geospasial sumberdaya lahan dalam bentuk Peta Tanah Semi Detail skala 1:50.000 berbasis wilayah Kabupaten/Kota.

Metode penelitian menggunakan pendekatan landscape mapping melalui analisis/ delineasi satuan lahan dari data DEM/SRTM, didukung oleh data citra landsat, peta geologi dan peta RBI dengan teknik GIS. Peta Analisis Satuan Lahan skala 1:50.000 digunakan untuk kegiatan survei lapangan, yang meliputi pengecekan hasil analisis satuan lahan, pengamatan sifat-sifat tanah dan lingkungan, pengambilan contoh tanah untuk analisis sifat fisik-kimia dan susunan mineral, untuk menyusun Peta Tanah Semi Detail skala 1:50.000.

Peta Tanah Semi Detail dilengkapi dengan Legenda Peta Tanah yang mengandung informasi penyebaran jenis-jenis tanah dan sifat-sifat utamanya. Dalam Legenda Peta Tanah dicantumkan Nomor Satuan Peta Tanah, Jenis tanah dan sifat-sifat utamanya, yaitu kedalaman, drainase, tekstur, pH, kapasitas tukar kation tanah, dan kejenuhan basa, serta informasi landform, bahan induk, dan relief/lereng, serta luasan dalam hektar. Jumlah satuan peta tanah setiap kabupaten/kota dapat berbeda, tergantung variasi jenis dan sifat-sifat tanah, dan bahan induknya. Keterangan sifat-sifat tanah yang lebih detail disajikan pada lampiran uraian morfologi, data analisa fisik-kimia, dan susunan mineral tanah.

Keadaan faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembentukan tanah, yaitu seperti keadaan iklim/curah hujan, keadaan landform, litologi/bahan induk tanah, keadaan relief/ lereng, dan penggunaan lahan di 120 kabupaten/kota sangat beragam, sehingga menghasilkan sifat-sifat dan jenis-jenis tanah yang beragam pula. Faktor bahan induk tanah tampaknya menjadi faktor yang paling menentukan sifat-sifat tanah yang terbentuk.

Tanah-tanah di wilayah Sumatera terbentuk dari berbagai macam bahan induk, yaitu endapan bahan organik/gambut, endapan aluvium, batuan sedimen masam dan basis, batuan metamorfik, batuan volkan muda dan volkan tua, dan intrusi volkan pada kondisi iklim basah (curah hujan tinggi), kecuali wilayah Aceh bagian pantai timur termasuk berklim agak kering (rejim kelembaban ustik). Tanah-tanah yang terbentuk mempunyai tingkat perkembangan struktur yang bervariasi dari yang belum berkembang (muda) sampai sudah berkembang lanjut (tua). Jenis-jenis tanah yang dijumpai terdiri atas Tanah Organosol, Litosol, Aluvial, Regosol, Renzina, Kambisol, Latosol, Molisol, Andosol, Mediteran, Podsolik, dan Oksisol. Sifat-sifat tanah tersebut sangat bervariasi dalam hal kedalaman, drainase, tekstur, pH tanah, kapasitas tukar kation/KTK tanah dan kejenuhan basa, serta sifat-sifat lainnya. Tanah Organosol mempunyai penyabaran luas di Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan. Tanah-tanah dari endapan aluvium dan marin umumnya bertekstur halus, dan sebagian mengandung bahan sulfidik/pirit. Tanah-tanah dari bahan volkan muda mempunyai sifat khas, seperti terasa licin jika dipirid, tekstur ringan dan sangat gembur, termasuk jenis tanah Andosol. Sedangkan tanah-tanah dari bahan volkan tua menunjukkan perkembangan lanjut, tekstur halus, pH masam, KTK dan kejenuhan basa rendah.

Tanah-tanah di wilayah Jawa terbentuk dari berbagai jenis batuan induk pada kondisi iklim cukup basah dan sebagian agak kering di wilayah pantai utara. Jenis bahan induk terutama volkan muda, volkan tua, intrusi volkan, batuan sedimen masam dan basis, endapan aluvium dan marin. Tanah-tanah yang terbentuk terdiri atas jeins tanah Aluvial, Regosol, Gleisol, Kambisol, Grumusol, Andosol, Latosol, Mediteran, Podsolik, dan Oksisol. Dua jenis tanah terakhir tergolong mempunyai perkembangan lanjut yang dicirikan oleh kandungan liat tinggi, pH masam, KTK dan kejenuhan basa rendah. Bahan volkan muda membentuk tanah Andosol yang berasosiasi dengan Latosol dan Kambisol. Tanah dari bahan volkan tua berwarna merah, sudah berkembang lanjut, miskin hara, dan termasuk jenis tanah Podsolik dan Oksisol. Tanah-tanah dari batuan sedimen basis/batugamping membentuk tanah-tanah Grumusol dengan sifat-sifat khas, seperti rekahan lebar, bidang kilir/slickenside di lapisan bawah, tekstur liat, pH alkalis, KTK dan kejenuhan basa tinggi.

Tanah-tanah di wilayah Sulawesi Selatan terbentuk dari endapan aluvium dan marin, batuan sedimen basis/batugamping dan berkapur, batuan volkan tua, intrusi volkan, dan batuan metamorfik/skis, pada kondisi iklim cukup basah. Tanah-tanah yang terbentuk terdiri atas jenis tanah Aluvial, Regosol, Kambisol, Gleisol, Grumusol, Molisol, Mediteran, Podsolik dan Oksisol. Sifat-sifat fisik-kimia tanah sangat variasi terutama kedalaman, drainase, tekstur, pH, KTK dan kejenuhan basa. Tanah-tanah dari batuan sedimen berkapur umumnya bertekstur halus, pH alkalis, KTK dan kejenuhan basa tinggi. Tanah-tanah dari batuan skis mengandung mika tinggi, sehingga kandungan K- totalnya tinggi. Tanah-tanah dari batuan volkan tua umumnya membentuk tanah-tanah yang sudah berkembang lanjut, seperti Podsolik dan Oksisol.

Dengan menyediakan data dasar berupa data spasial/peta tanah semi detail dan data karakteristik tanah/lahan (data tabular) yang menyertainya, akan memudahkan dalam penyusunan peta-peta turunannya, seperti peta-peta kesesuaian lahan untuk berbagai komoditas pertanian, peta zone agroekologi, peta bahaya erosi, peta potensi kesuburan tanah, dan peta-peta tematik lainnya.

Peneliti: Ir. Hikmatullah, MSc