Pengembangan pertanian ke depan hanya bertumpu pada lahan suboptimal kering masam dan rawa gambut karena saat ini lahan produktivitas tinggi sudah termanfaatkan. Lahan suboptimal mempunyai banyak masalah untuk pertanian karena faktor pembatas sifat fisik, kimia, biologi dan mineral. Oleh karena itu perlu penelitian detail proses pembentukan dan karakteristik tanah mencakup aspek morfologi, fisika, kimia, biologi dan mineralogi tanah sebagai informasi dasar untuk menentukan strategi pengelolaan lahan dalam meningkatkan produktivitas. Tujuan umum penelitian adalah (i) mengetahui perbedaan sifat tanah pada lahan mineral suboptimal yang terbentuk dari bahan induk berbeda, penggunaan lahan berbeda dan mengetahui beratnya faktor pembatas (kemisikinan hara, keracunan, fisik dan biologi) terhadap produktivitas lahan suboptimal, (ii) melakukan identifikasi perbedaan sifat bahan, proses pembentukan dan pengaruh zona kawasan landform pada sifat tanah gambut (iii) memberikan arahan teknologi pengelolaan lahan suboptimal berbasis karakteristik tanah, potensi dan tingkat kendala lahannya untuk mencapai produktivitas optimal berkelanjutan. Lokasi penelitian adalah provinsi Banten, Jambi dan Kalimantan Barat. Pengamatan dilakukan untuk sifat morfologi tanah (dengan membuat lubang profil), penggunaan lahan, bahan induk, landform,sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Pengambilan contoh tanah dilakukan dari tiap lapisan profil dan komposit untuk analisa mineral, sifat  kimia, fisika dan biologi tanah. Hasil penelitian pada tanah mineral menunjukkan terdapat perbedaan sifat morfologi, kimia dan mineral secara mencolok akibat perbedaan bahan induk. Sifat morfologi tanah dari bahan volkan tua bersifat andesitik basal memperlihatkan solum dalam, warna coklat pada lapisan permukaan dan coklat kemerahan pada seluruh lapisan bawah dengan solum tanah dalam dan batas  horizon baur pada lapisan bawah permukaan. Tanah  yang terbentuk dari volkan tua mempunyai kandungan liat tinggi (60-80%), pH masam (4.9-5.3), mempunyai KTK dan kation tukar lebih tinggi sedangkan Al dapat tukar tidak terdeteksi pada dua lapisan teratas profil sehingga tidak ada masalah keracunan Al. Mineral pasir didominasi opak (~90%) dengan sedikit andesin (~10%), sedangkan fraksi liat hanya jenis mineral kaolinit.  Pada tanah dari bahan sedimen bersusunan batupasir dan batuliat di lapisan atas berwarna coklat, tekstur lempung berpasir, struktur lemah berukuran halus sampai sedang. Pada lapisan bawah berwarna coklat sampai kekuning kemerahan dan tektur lempung liat berpasir. Tanah mengandung pasir tinggi (50-71%), pH sangat masam ( < 4.5), KTK dan kation tukar sangat rendah, dan Al dapat tukar tinggi menujukkan adanya keracunan Al pada tanaman pangan. Mineral pasir didominasi kuarsa (~95%) dengan sedikit opak, sedangkan mineral liat utamanya kaolinit dan sedikit vermikulit, gibsit dan gutit. Faktor pembatas kesuburan tanah mineral berupa bahan organik, P dan K tersedia  termasuk sangat rendah pada semua tanah. Fiksasi P lebih tinggi pada tanah yang terbentuk dari bahan volkan tua dibanding yang terbentuk dari bahan sedimen. Faktor pembatas menunjukkan semua tanah memerlukan pemupukan N, P dan K. Kedalaman gambut bervariasi antara 440-730 cm di Mempawah, Kalbar  dengan gambut terdangkal ditanami karet dan paling dalam ditumbuhi semak. Pada lahan yang ditanami nenas dan kelapa sawit kedalamannya 630-670 cm. Warna tanah pada tingkat kematangan saprik adalah Kelabu sangat gelap (5YR 3/1) sampai kelabu merah kehitaman (2,5YR 3/1 dan 10R 3/1), sedangkan kematangan hemik berwarna merah kehitaman (10R 3/2). Kandungan C organik gambut Mempawah bervariasi antara 42-55% dengan tingkat kematangan saprik di lapisan atas dan hemik sampai saprik di lapisan bawah dengan variasi pH 3.5-4.3, dengan BD antara 0.12-0.16 g/cc pada lapisan 0-100 cm.  Di Tangkit Baru dan Tanjung Jabung, Jambi, ketebalan bervariasi dari 230 sampai 700 cm, tergantung jarak dari sungai. Makin jauh dari sungai makin dalam gambutnya. Warna kelabu merah kehitaman (2,5YR 3/1) pada tingkat kematangan hemik dan berwarna coklat merah kehitaman (5YR 3/2) pada tingkat kematangan saprik. Tanah ada yang ditanami nenas, kelapa sawit, rambutan, karet dan hutan. Kandungan C organik gambut bervariasi antara 42-64% tetapi umumnya 50-55% dengan tingkat kematangan saprik di lapisan atas dan hemik sampai saprik di lapisan bawah dengan variasi pH 3.2-3.9, dengan BD antara 0.11-0.16 g/cc pada lapisan 0-100 cm. Kunci keberhasilan pemanfaatan lahan suboptimal gambut adalah pengelolaan air dan pemilihan tanaman adaptif. Drainase dangkal dengan muka air tanah 40 cm efektif untuk mengurangi emisi dan dapat mendukung pertumbuhan tanaman. Strategi pengelolaan gambut lainnya adalah adaptasi berupa pemilihan jenis tanaman tahan kemasaman dan genangan air (seperti karet) atau tanaman berakar dangkal (seperti nenas) sehingga tidak diperlukan drainase dalam.

Nama Peneliti :     Dr. Markus Anda