Rehabilitasi lahan bekas tambang merupakan salah satu teknologi dalam upaya untuk meningkatkan kualitas lahan. Kualitas lahan bekas tambang menurun akibat dari lapisan organik tanah yang hilang, hal ini menyebabkan proses revegetasi menjadi terhambat.  Terdapat 2 lokasi Rehabilitasi Lahan Bekas Tambang (LBT) yaitu LBT Timah di Bangka dan Batubara di Kaltim.  Areal ini dijadikan demplot kegiatan dengan luasan masing-masing ± 10 ha.  Teknologi yang diterapkan adalah peningkatan bahan organik dalam tanah secara insitu. Penanaman jenis legume penutup tanah seperti mukuna, Centrosema sp, Calopogonium sp dan legume semak seperti turi dan orok-orok serta komak.  Disamping itu dalam meningkatkan kualitas lahan, diperlukan juga pemanfatan lahan yang efektif. Dengan demikian bahan organik secara insitu dapat berkelanjutan.  Lahan bekas tambang memiliki peluang untuk pengembangan tanaman pertanian, perkebunan maupun untuk pakan ternak. Untuk mengubah LBT menjadi lahan pertanian, teknologi yang tersedia antara lain penggunaan pupuk kandang, kompos, mulching (serasah), biosolid, pupuk kimia, mikroba seperti bakteria, mikoriza dan penggunaan tanaman (fitoremediasi). Sepuluh (10) jenis rumput dan 6 jenis leguminosa telah ditanam dalam kegiatan demplot di LBT timah dan 10 jenis rumput dan 3 jenis leguminosa LBT batubara. Fungsi TPT selain untuk dievaluasi keamanan sebagai sumber pakan dan juga sebagai komponen rehabilitasi lahan pada LBT. Pertumbuhan tanaman kemiri sunan di lahan bekas tambang timah, juga menunjukan pertumbuhan yang seragam, kecuali untuk jumlah daun, namun pertumbuhannya lebih tertinggal kalau dibandingkan dengan kemiri sunan yang ditanam pada lahan bekas lahan tambang batu bara, demikian pula pertumbuhan serai wangi lebih baik di lahan bekas tambang batu bara. Keragaan tanaman baik kemiri sunan, lada perdu maupun serai wangi di lokasi Kabupaten Bintan Kepulauan Riau belum menunjukan tingkat pertumbuhan yang sebaik di lokasi lainnya. Kelayakan ekonomi kegiatan rehabilitasi merupakan salah satu pertimbangan pokok untuk menjamin kontinuitas dan sustainabilitas kegiatan. Ada banyak prinsip pengembangan keberlanjutan lingkungan, diantaranya adalah bahwa pertimbangan sosial perlu dikembangkan untuk meningkatkan perbaikan kualitas hidup semua, pengembangan keberlanjutan tergantung pada kerjasama dan kesepakatan antar bagian, pengambilan keputusan perlu dikembangkan dengan pendekatan holistic, dan partisipasi stakeholder perlu dikembangkan pada semua tingkat pengambilan keputusan.

 

Kata kunci : intergrasi tanaman; rehabilitasi lahan; lahan bekas tambang     

Nama Peneliti   :     Prof.Dr. Fahmuddin Agus