Kegiatan penelitian RPTP “Superimposed Teknologi Rehabilitasi Lahan Bekas Tambang” dimulai pada TA 2016. Kegiatan ini terdiri atas 5 sub kegiatan yaitu: 1. Penelitian penggunaan bahan amelioran, pupuk kandang dan pupuk hayati untuk perbaikan sifat tanah, 2. Penelitian fitoremediasi untuk tanah dan air bekas tambang emas tercemar logam berat, 3. Fertigasi untuk mendukung produksi tanaman hortikultura, 4. Pengendalian erosi dan pencucian hara serta peningkatan pertumbuhan tanaman dengan menggunakan metode vegetatif dan geofilter, dan 5. Evaluasi berbagai jenis mineral mudah dan tahan pelapukan serta mineral liat pada lahan bekas tambang untuk mendukung strategi rehabilitasi lahan. Kegiatan penelitian teknologi amelioran dan geofilter erosi dilaksanakan di lahan bekas tambang batubara di Kaltim, teknologi fertigasi di lahan bekas tambang timah di Bangka, kegiatan bioremediasi di lahan bekas tambang emas di P. Buru, Maluku dan penelitian logam berat serta analisis finansial dilakukan untuk semua lokasi demplot dan superimposed termasuk lahan bekas tambang nikel (5 lokasi). Dalam kegiatan superimposed, teknologi unggulan pengelolaan dan pemulihan lahan rusak bekas tambang dicobakan dengan lebih detail untuk verifikasi teknologi sehingga untuk tahun kedua dan selanjutnya perbaikan rekomendasi teknologi dapat dilakukan. Laporan akhir tahun ini memaparkan hasil kajian terkait dengan pelaksanaan kegiatan lapangan superimposed sampai bulan Desember 2016. Beberapa hasil penelitian secara umum adalah sebagai berikut. Hasil penelitian sub kegiatan 1 tentang amelioran di lahan bekas tambang batubara di Kaltim menunjukkan bahwa pemberian kompos berpengaruh positif terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung. Hasil pipilan kering jagung tertinggi di peroleh dari perlakuan kompos 40 ton ha-1 + kapur pertanian (1 ton/ha) + pupuk hayati 1 to/ha + pupuk tunggal yaitu Urea 350 kg/ha, SP-36 200 kg/ha, dan KCl 100 kg/ha dengan hasil 4,78 ton ha-1.  Sub kegiatan 2 tentang fitoremediasi di lahan bekas tambang emas memberikan hasil sebagai berikut. Hasil identifikasi cemaran merkuri dan arsen di lahan pertanian di Kabupaten Buru menunjukkan bahwa kandungan merkuri total di lahan pertanian antara 0,07-0,68 ppm dan kandungan arsen total di lahan pertanian antara 0-53,97 ppm. Tingginya kadar merkuri (Hg) dan arsen (As) berada di area-area hotspot (lokasi pertambangan) yaitu masing-masing sebesar 306,6-1414,5 ppm dan 44,8-47,0 ppm. Upaya yang dilakukan dalam meremediasi limbah tailing adalah dengan menambahkan bahan organik berupa kompos dan penambahan kapur serta pupuk hayati yang mengandung Azotobacter-Trichoderma. Tanaman yang digunakan adalah tanaman legume yaitu Crotalaria sp, Mucuna sp, dan Centrosema pubescens.  Hasil penelitian sub kegiatan 3 tentang fertigasi di lahan bekas tambang timah di Bangka memberikan beberapa hasil sebagai berikut. Ameliorasi berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan produksi cabai. Ameliorasi dengan campuran Pukan+Biochar lebih baik dibandingkan dengan amelioran Pukan saja. Formula AB-mix tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman cabai, tetapi berpengaruh terhadap pertumbuhan generatif karena mengandung hara lengkap makro mikro. Formula AB-mix komersial tampak lebih baik dibandingkan Formula AB-mix Balitbangtan. Pembenah tanah meningkatkan pertumbuhan tanaman yaitu tinggi tanaman, diameter batang dan cabang primer. Pembenah tanah pupuk kandang sama baiknya dengan biochar Accasia mangium dan biochar sekam yang dicampur dengan pupuk kandang (1:1), sehingga dapat menghemat pemberian pupuk kandang sebanyak 50%.  Hasil penelitian sub kegiatan 4 yaitu kepadatan tanah yang ditunjukkan dengan nilai ketahanan penetrasi tanah memperlihatkan adanya peningkatan kepadatan dengan kedalaman tanah. Ketahanan penetrasi pada kedalaman 20 cm mencapai 15 kgF/cm2 yang akan menghambat perkembangan akar tanaman dan kapasitas infiltrasi tanah. Teknologi pencegahan erosi dengan sistim alley cropping mampu menurunkan besarnya erosi sebesar 13%, penambahan mulsa jerami jagung sebesar 10 ton ha-1 meningkatkan efektifitas alley cropping mencegah erosi hingga 67%. Sementara penggunaan mulsa geotextile hanya mampu menekan erosi sebesar 38% dan tidak berbeda nyata dengan erosi yang terjadi pada perlakuan kontrol.  Hasil penelitian sub kegiatan 5 tentang mineral sebagai berikut: (i) pada lahan bekas tambang timah mineral fraksi pasir didominasi oleh mineral tahan pelapukan, utamanya kuarsa bervariasi dari 70-95% dan sedikit opak, zircon, garnet dan turmalin. Mineral mudah lapuk pembawa cadangan hara praktis sudah melapuk habis, memberikan implikasi bahwa semua hara kebutuhan tanaman tergantung dari managemen teknologi pemupukan. Pada bahan buangan yang mengandung fraksi liat, jenis mineral liat didominasi kaolinit dan sedikit gibsit dan illit. (i) Total logam berat pada tambang timah terdiri dari oksida Cr 204-286 mg/kg, oksida Sn mencapai 95 mg kg-1 tetapi kadar  tersebut lebih rendah dari kandungan pada tanah alami (203-418 mg/kg). (ii) Pada lahan bekas tambang emas mineral pasir didominasi kuarsa 62-77% diikuti lapukan mineral dan fragmen batuan serta mineral tahan pelapukan untuk lahan perbukitan, sedangkan pada lokasi pelembahan dan dataran yang mendapat pengaruh limbah merkuri didominasi oleh fragmen batuan 35-63% diikuti kuarsa 17-26% dan sedikit mineral mudah lapuk (< 5 %). Mineral mudah lapuk meliputi sanidin, muskopit, hornblende dan augit. Mineral pada fraksi liat didominasi kaolinit dan illit; (iii) Pada lahan bekas tambang batubara komposisi mineral didominasi kuarsa 60-84%, diikuti opak, zircon, lapukan mineral dan fragmen batuan. Mineral mudah lapuk masih ada sedikit (2-8%) terdiri dari orthoklas, labradorit, sanidin dan hornblende. Mineral pada fraksi liat terdiri dari kaolinit, smektit dan illit pada tanah dengan pH 6.5-8.0, tetapi kaolinit, vermikulit dan illit pada profil dengan pH kurang 5.5. Total logam berat pada tambang batubara utamanya oksida Cr 122-176 mg/kg sedangkan Ni berkisar dari 37-69 mg/kg (semua masih di bawah ambang batas); (iv) Pada lahan bekas tambang nikel komposisi mineral pasir terdiri dari serpentin, olivin dan hyperstin, sedangkan liat terdiri dari kaolinit dan gutit. Total logam berat pada tambang nikel untuk material overburden (OB) didominasi oleh oksida Cr (14200-22100 mg/kg) diikuti oleh Ni (7570-15100 mg/kg) dan Co (295-875 mg/kg), sedangkan pada limonit didominasi oleh oksida Cr (18100-24200 mg/kg) diikuti Ni dan Co masing-masing 11500-13000 mg/kg, dan 941-1070 mg/kg; dan (v) Pada tambang bauxite mineral liat terdiri dari kaolinit dan gibsit. Total logam berat terdiri dari oksida Cr pada overburden campur bauxite, dan overburden asal tanah alami masing-masing 44 dan 105 mg/kg, sedang pada tailing oksida Cr lebih tinggi 170 mg/kg. Logam berat seperti Pb, Cd, dan Hg sangat rendah atau tidak terdeteksi.

Nama Peneliti :     Dr. Husnain, M.Sc