Pada Tahun Anggaran 2017, Tim Peneliti Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian telah melakukan penelitian “Identifikasi dan Karaktersasi Lahan Gambut Mendukung One Map Policy” di 13 Kabupaten di Provinsi Riau, Jambi, Sumsel, Sulsel, dan Sulbar. Penelitian bertujuan untuk menyediakan data/informasi geospasial berupa Peta Sebaran Lahan Gambut  skala 1:50.000 berbasis wilayah kabupaten/kota mendukung Kebijakan Satu Peta (One Map Policy). Keluaran penelitian adalah: (a) peta sebaran lahan gambut skala 1:50,000, (b) informasi kesesuaian lahan dan arahan pemanfaatan lahan gambut untuk pertanian, dan (c) cadangan karbon.

Penelitian menggunakan pendekatan landscape mapping melalui analisis data citra satelit yang didukung oleh data DEM dari SRTM, peta RBI, dan peta geologi dengan teknik GIS. Peta hasil analisis citra satelit berupa Peta Analisis Satuan Lahan Gambut skala 1:50.000 digunakan untuk survei lapangan. Survei lapangan meliputi pengecekan hasil analisis satuan lahan gambut, pengamatan sifat-sifat tanah gambut, pengambilan contoh tanah untuk analisis lab untuk menyusun Peta Sebaran Lahan Gambut skala 1:50.000.

Tanah-tanah gambut di Sumatera umumnya luas, dalam, dan termasuk kedalam gambut ombrogen, topogen air tawar dan topogen pasang surut. Ketebalannya bervariasi dari dangkal (<1,0 m) sampai sangat dalam sekali (>5,0 m) dan berada diatas substratum tanah mineral bertekstur halus. Tingkat kematangan gambut umumnya hemik sampai saprik di lapisan atas, dan hemik sampai fibrik di lapisan bawah. Sebagian tanah gambut tersebut mendapat pengkayaan bahan mineral dari limpasan air sungai atau pasang surut. Tanah-tanah gambut di Sulawesi umumnya sempit, dangkal, dan termasuk gambut topogen air tawar, karena mendapat pengkayaan bahan mineral, sehingga tanah lebih subur. Ketebalan gambut umumnya <3 m berada diatas substratum tanah mineral bertekstur halus. Kematangan gambut hemik sampai saprik, dan ada sisipan tanah mineral.

Penggunaan lahan saat ini sebagian besar lahan gambut merupakan perkebunan kelapa sawit, perkebunan karet, perkebunan kelapa, dan hutan tanaman industri (HTI) seperti akasia, yang dikelola perusahaan atau rakyat setempat. Penggunaan lahan lainnya berupa kebun campuran, semak belukar dan hutan.

Rincian sebaran luas lahan gambut di 13 kabupaten tersebut adalah: Kabupaten Siak 383.331 ha, Kabupaten Kampar 102.202 ha, Kabupaten Rokan Hilir 391.980 ha, Kabupaten Rokan Hulu 51.438 ha, Kota Dumai 133.203 ha, Kabupaten Sarolangun 32.070 ha, Kabupaten Muara Enim 25.053 ha, Kabupaten Musi Rawas 4.112 ha, Kabupaten Musi Banyuasin 215.158 ha, Kabupaten Banyuasin 67.568 ha, Kabupaten Mamuju Utara 11.037 ha, Kabupaten Morowali Utara 6.541 ha dan Kabupaten Donggala 651 ha.

Estimasi cadangan karbon (carbon stock below ground) sangat bervariasi dengan sebaran seperti berikut: Kabupaten Siak 609,5 juta ton (1.590 t/ha), Kabupaten Kampar 195,9 juta ton (1.917 t/ha), Kota Dumai 183,7 juta ton (1.379 t/ha), Kabupaten Rokan Hilir 316,6 juta ton (808 t/ha), Kabupaten Rokan Hulu 47,1 juta ton (915 t/ha), Kabupaten Sarolangun 23,5 juta ton (733 t/ha), Kabupaten Muara Enim 56,7 juta ton (2.263 t/ha), Kabupaten Musi Rawas 3,7 juta ton (723 t/ha), Kabupaten Musi Banyuasin 270,34 juta ton (1.257 t/ha), Kabupaten Banyuasin 73,6 juta ton (1.089 t/ha), Kabupaten Mamuju Utara 12,5 juta ton (1.138 t/ha), Kabupaten Morowali Utara 4,7 juta ton (722 t/ha) dan Kabupaten Donggala 263.055 ton (405 t/ha).

Kesesuaian lahan gambut untuk tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan umumnya termasuk lahan sesuai marginal (S3) dan tidak sesuai (N) dengan faktor pembatas retensi hara (pH, kejenuhan basa), ketersediaan hara (NPK) dan ketebalan gambut. Pemanfaatan lahan gambut diarahkan pada lahan gambut saprik/hemik, substratum tanah mineral bertekstur halus, dan ketebalannya < 2 m untuk tanaman pangan dan < 3 m untuk tanaman perkebunan, serta berada di Kawasan Budidaya/APL (bukan kawasan lindung).

Lahan gambut bersifat dinamis, terutama yang telah dibuka/reklamasi untuk lahan pertanian atau perkebunan. Perubahan terjadi terutama pada ketebalan akibat pemadatan, dan dekomposisi serta fluktuasi muka air tanah/hidrologis. Oleh sebab itu, perlu dilakukan pembaharuan peta sebaran lahan gambut secara periodik untuk mengetahui perubahan tersebut sesuai dengan kebutuhan pembangunan pertanian dan lingkungan.

Peneliti : Ir. Hikmatullah, MSc