Riset 2017

Jenis dan banyaknya cadangan hara pada tanah sawah ditentukan oleh jenis, jumlah, dan komposisi mineral primer mudah lapuk. Lahan sawah nasional seluas 8.1 juta ha tetapi ketersediaan informasi komposisi mineral baik pasir maupun liat sangat terbatas sehingga pemberian pemupukan tidak dibedakan pada lahan sawah dengan jenis, jumlah dan sifat mineral pasir dan liat berbeda. Akibatnya terjadi pencucian atau kehilangan hara sangat besar karena kemampuan tanah menahan (retain) ion hara yang ditentukan oleh jenis mineral liat tidak dipertimbangkan, sehingga berdampak pada pemborosan dan pencemaran pupuk pada badan air. Tujuan penelitian adalah (i) meneliti jenis dan proporsi komposisi mineral fraksi pasir dan fraksi liat pada tanah sawah terbentuk dari bahan induk berbeda di daerah beriklim kering dan (ii) meneliti perbedaan sifat kimia dan fisik tanah  sawah berdasarkan perbedaan jenis dan komposisi kandungan mineral pasir dan liat untuk mendukung efisiensi pemupukan. Penelitian dilakukan pada lahan sawah berbasis perbedaan bahan induk yaitu volkan, sedimen, dan aluvial sungai atau aluvial marin di Provinsi Bali, NTB dan NTT. Tanah disampel dari tiap lapisan profil untuk analisa mineral, kimia, fisika dan biologi. Komposit tanah juga diambil disekeliling profil (sampai jarak 100 m dari profil) untuk penentuan status kesuburan.

Hasil penelitian menunjukkan mineral mudah lapuk lebih tinggi pada  tanah sawah di Bali dan NTB berturut-turut 45-88% dan 34-73% dibanding mineral mudah lapuk pada tanah sawah di NTT sebesar 10-54%, kecuali lahan volkan di Satarmese pada unit landform kaki volkan mencapai 64-69%. Mineral mudah lapuk didominasi labradorit, hiperstin, hornblende dan augit. Kondisi besarnya mineral mudah lapuk dan jenis mineral tersebut mencerminkan kandungan kation Ca dan Mg yang tinggi. Tanah sawah di Bali yang berasal dari bahan volkan dan aluvium mengandung mineral pasir mudah lapuk relatif sama (45-88% vs 55-88%) terdiri dari dominan labradorit, hiperstin, hornblende, augit, dan sedikit andesin dan  gelas volkan; dan mineral liat terdiri dari smektit dan haloisit dengan proporsi seimbang. Tanah dari bahan sedimen mengadung mineral mudah lapuk lebih rendah (42-56%) dibanding tanah dari bahan volkan dan aluvium;sedang mineral liat didominasi smektit dan sedikit haloisit.

Di NTB tanah sawah yang terbentuk dari batuapung coklat kekuningan dan andesit (erupsi Tambora) bersifat basis memperlihatkan kandungan mineral mudah lapuk tinggi (29-68%) dan mineral tahan pelapukan berupa opak lebih rendah (12-66%). Pada tanah sawah yang terbentuk dari bahan aluvium sungai (SWS7, SWS8, SWS9 dan SWS13) dan aluvium marin (SWS10) juga mengandung mineral mudah lapuk yang tinggi, bervariasi dari 30-73% sedang mineral resisten pelapukan (opak dan kuarsa) bervariasi dari 5-33%. Mineral mudah lapuk didominasi oleh labradorit dan augit pada tanah volkan, dan augit dan labradorit pada tanah bahan aluvium. Mineral lain dalam jumlah lebih sedikit adalah hornblende dan gelas volkan pada semua tanah walaupun bahan induk bukan volkan, menunjukkan semua tanah mendapat material erupsi gunung Tambora.Mineral liat tanah volkan dengan posisi di unit landform lereng bawah volkan didominasi haloisit dan sedikit illit, sedang pada landform dataran volkan didominasi smektit dan sedikit haloisit. Pada tanah dari bahan aluvium terdiri dari smektit dan kaolinit dalam proporsi seimbang serta sedikit illit.

Di NTT tanah sawah terbentuk daribahan andesit volkan tua (SWF3, SWF4, SWF5 dan SWF6) dengan posisi elevasi 70-950 m di atas permukaan laut susunan mineral mudah lapuk berkisar antara 10-69% sedangkan mineral resisten pelapukan antara 23-88%. Lahan sawah dari bahan volkan andesit yang paling banyak mengandung mineral mudah lapuk (61-69%) dan resisten pelapukan 26-33% terdapat pada elevasi 70-100 m (SWF5 dan SWF6) serta mineral liat terdiri dari mektit dan kaolinit, sedangkan pada elevasi 267-950 m mineral mudah lapuk 10-38% dan resisten23-88%;mineral liat utamanya kaolinit dan sedikit smektit. Lahan sawah dari bahan induk aluvium konglomerat, batupasir dan batugamping (SWF1 dan SWF2) mineral mudah lapuk bervariasi antara 13-36% dan mineral resisten pelapukan 54-82% terdiri dari opak dan kuarsa dalam proporsi relatif sama, sedangkan mineral liat terdiri dari smekti dan kaolinit dalam proporsi seimbang. Pada lahan sawah dari bahan induk aluvium kerikil, batupasir dan lumpur pada fluvio-marin (SWF7) dan fluvial (SWF8) mineral mudah lapuk bervariasi antara 21-54% dan mineral resisten pelapukan 16-29%, utamanya kuarsa diikuti opak.

Rekomendasi pemupukan di Bali adalah pemberian 250 kg urea/ha untuk sawah asal volkan dan 300 kg/ha untuk sawah asal sedimen dan alluvium. Pupuk SP-36 dan KCl semua sawah 50 kg/ha kecuali untuk sawah asal sedimen memerlukan pupuk SP-36 sebanyak 75 kg/ha. Semua takaran perlu disertai pemberian pupuk kandang 2 t/ha.

Di NTB terdapat potensi untuk mengurangi atau tanpa pemberian pupuk K pada tanah sawah dari bahan volkan batuapung dan andesit karena kandungan K tinggi pada batuapung. Permasalahan hara adalah status P tersedia rendah dan N total tanah sangat rendah sehingga pemupukan bersumber P dan N mutlak diperlukan. Rekomendasi pemupukan adalah urea 225 kg/ha untuk tanah dari bahan induk volkan batuapung dan andesit, 200 kg/ha untuk tanah dari bahan induk alluvium liat, alluvium liat campur pasir, dan alluvium liat marin campur endapan sungai; sedangkan takaran pupuk SP-36 untuk semua sawah adalah 50 kg/ha dan KCl 15 kg/ha disertai pemberian bahan organik 2 t/ha.

Di NTT rekomendasikan takaran urea, SP-36 dan KCl berturut 300, 75 dan 100 kg/ha untuk tanah sawah di Kecamatan Lembor (alluvium berkapur), takaran 250, 100 dan 50 kg/ha untuk tanah sawah di Kecamatan Ruteng dan Satarmese (bahan andesit) dan 250, 50 dan 15 kg/ha di Kecamatan Komodo (alluvium tidak berkapur) dengan semua lahan sawah diberikan pupuk organik 2 t/ha

Peneliti : Dr. Markus Anda, M.Sc