Riset 2017

Teknik rehabilitasi lahan bekas tambang merupakan salah satu teknologi yang penting dalam upaya untuk meningkatkan kualitas lahan terdegradsi. Kualitas lahan bekas tambang sangat rendah akibat dari lapisan olah tanah (topsoil) yang kaya bahan organik tanah yang hilang, sehingga menyebabkan proses revegetasi lahan menjadi terhambat. Dalam penelitian ini digunakan dua lokasi untuk penelitian rehabilitasi lahan bekas tambang (LBT), yaitu LBT Timah di Bangka dan LBT Batubara di Kaltim yang dijadikan kegiatan demfarm dan superimposed.

Penelitian ini bertujuan untuk merakit teknologi rehabilitasi lahan bekas tambang yang dapat mendukung pertanian. Areal demfarm untuk kegiatan ini luasan masing-masing 5 - 10 ha. Teknologi yang diterapkan adalah peningkatan bahan organik dalam tanah secara insitu. Kegiatan demfarm terdiri atas evaluasi rehabilitasi lahan bekas tambang, pengembangan tanaman pakan ternak dan membuat kebun kolesi pakan serta pemeliharaan tanaman perkebunan seperti lada, seraiwangi dan kemiri sunan. Berbagai jenis rumput dan legume ditanam untuk koleksi tanaman pakan ternak. Pada demfarm juga ditanam tanaman legume penutup tanah seperti mukuna, Centrosema sp, Calopogonium sp guna untuk meningkatkan kandungan bahan organik tanah. Sumber bahan organik juga dapat diperoleh dari tanaman pagar seperti turi. Penyediaan bahan organik selain dari sisa tanaman dan legume, juga berasal dari kotoran sapi yang sudah dikomposkan. Dengan demikian bahan organik secara in situ dapat berkelanjutan. Pengembangan pakan ternak dan kebun koleksi sangat diminati oleh petani setempat dan sekitarnya. Kegiatan Superimposed terdiri atas, teknologi ameliorasi, fertigasi dan pengendalian erosi. Hasil yang diperoleh di lahan bekas tambang batubara menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang dan fosfat alam berpengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman jagung.

Hasil penelitian  fertigasi di lahan bekas tambang timah di Pulau Bangka memberikan beberapa hasil sebagai berikut. Ameliorasi berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan produksi cabai. Ameliorasi dengan campuran Pukan+Biochar lebih baik dibandingkan dengan amelioran Pukan saja. Formula AB-mix tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman cabai, tetapi berpengaruh terhadap pertumbuhan generatif karena mengandung hara lengkap makro mikro. Formula AB-mix komersial tampak lebih baik dibandingkan Formula AB-mix Balitbangtan. Teknologi pencegahan erosi dengn sistim alley cropping pada masa pertumbuhan tanaman kacang tunggak mampu menurunkan besarnya erosi sebesar 13%, penambahan mulsa jerami jagung sebesar 10 ton/ha meningkatkan efektifitas alley cropping mencegah erosi hingga 67%.  Sementara penggunaan mulsa geotextile hanya mampu menekan erosi sebesar 38% dan tidak berbeda nyata dengan erosi yang terjadi pada perlakuan kontrol. Dengan input teknologi yang tepat, lahan bekas tambang memiliki peluang untuk mendukung pengembangan tanaman pertanian, perkebunan maupun untuk tanaman pakan ternak. Kunci perlakuan rehabilitasi lahan adalah penambahan pupuk kandang

Peneliti : Dr. Husnain, MP., MSc