Riset 2017

Pada saat ini peran lahan gambut tropika Indonesia semakin menjadi strategis, baik ditinjau dari aspek budidaya, maupun aspek lingkungan. Untuk itu, lahan gambut seharusnya dikelola secara seimbang antara fungsinya sebagai kawasan lindung dan budidaya sehingga dapat digunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat baik untuk generasi saat ini maupun mendatang. Berbagai isu yang berkenaan dengan kedua aspek ini telah diteliti dalam rangkaian penelitian Indonesian Climate Change Trust Fund (ICCTF Fase II) yang berlangsung antara bulan September 2012 sampai bulan  Agustus 2014, dan dilanjutkan sampai saat ini dengan anggaran dari DIPA BBSDLP, dengan tujuan mengevaluasi pengelolaan berkelanjutan budidaya pertanian di lahan gambut.  Kegiatan-kegiatan yang dilakukan diantaranya adalah: memonitor laju emisi gas rumah kaca (GRK) khususnya CO2, pengamatan laju penurunan permukaan tanah (subsidence), dan monitoring respon tanaman terhadap berbagai perlakuan pemupukan dan ameliorasi (fokus pada hasil tanaman), pada empat lokasi (provinsi) yang mewakili daerah yang mempunyai lahan gambut cukup luas yaitu, Provinsi Riau, Jambi. Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Sumatera Utara. Khusus untuk lokasi Sumatera Utara kegiatan yang dilakukan fokus pada pengamatan emisi karbondioksida (CO2) pada lahan gambut di bawah tegakan kelapa sawit. Hasil utama penelitian yang dapat dirangkum dari ke lima lokasi (provinsi) diantaranya adalah: Hasil tandan buah segar (TBS) tanaman kelapa sawit pada perlakuan yang diberi pupuk kandang  dilokasi Riau dan Jambi memberikan hasil paling baik/tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Juga terlihat bahwa selama periode kemarau (bulan Mei s/d September) hasil TBS cendrung lebih rendah ibandingkan musim hujan. Pada tanaman karet, pemupukan lengkap (urea + TSP + KCl + kiserit + CuSO4 + ZnSO4 + borax) cendrung memberikan hasil getah karet lebih tinggi dibandingkan perlakuann lainnya. Pengamatan emisi CO2 pada budidaya nenas di lahan gambut menunjukkan bahwa aplikasi pupuk kandang (kotoran sapi) menghasilakn emisi CO2 lebih tinggi sekitar 66% (yaitu 88,24 t CO2 ha-1 th-1) dibandingkan tanpa aplikasi pupuk kandang (yaitu 53,00 t CO2 ha-1 th-1), sebaliknya pada perlakuan pupuk kandang sapi tersebut memberikan hasil nenas lebih tinggi sekitar 34% dibandingkan perlakuan kontrol. Pada lahan gambut yang telah digunakan untuk budidaya khususnya kelapa sawit, bakteri merupakan jenis mikroba dominan yang ditemukan, dan juga dominan mempengaruhi respirasi pada tanah gambut. Hasil pengamatan tinggi muka air tanah sepanjang tahun 2017 di lokasi Riau, Jambi, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat menunjukkan bahwa rata-rata tinggi muka air tanah > 40 cm, kondisi ini apabila dikaitkan dengan PP No 57 tahun 2016 (tentang perlindungan dan pengelolaan ekosistem gambut khususnya pasal 23 ayat 3.a) pada ke empat lokasi penelitian muka air tanah belum bisa memenuhi persyaratan/standar yang diamanatkan PP tersebut. Secara umum, pada lokasi yang terletak dekat dengan saluran drainase kecepatan penurunan permukaan tanahnya (subsidence rate) lebih tinggi dibandingkan dengan lokasi yang terletak lebih jauh dari saluran drainase, hal yang sama juga terjadi terhadap emisi CO2. Rata-rata penurunan permukaan tanah pada lokasi penelitian di Riau, Jambi, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan barat bervariasi yaitu  2,3 – 4,8 cm th-1 di Riau ; rata-rata 2,6 cm th-1 di Jambi; 3,1 cm – 6,9 cm th-1 di Kalimantan Tengah, dan rata-rata 4,3 cm th-1 di Kalimantan Barat.

Peneliti : Dr. Ir. Maswar  M., Agric. Sc