Riset 2018

Lahan sub optimal merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi lahan cukup besar untuk pengembangan tanaman pangan dan juga komoditas lainnya. Kendala utama di daerah yang memiliki karakteristik seperti ketersediaan air, bahan organik dan kemasaman tanah yang relatif rendah (pH 4-5). Berdasarkan hasil identifikasi sementara, sumber air dari sungai tersedia tetapi belum dapat diakses dan didistribusikan ke lahan. Integrasi tanaman ternak juga berpotensi untuk dikembangkan sehingga bisa menyediakan bahan organik secara mandiri melalu kotoran ternak maupun bahan tanaman lainnya. Aspek kelembagaan juga sangat berperan penting dalam mengoptimalkan peran petani dan masyarakat di lahan sub optimal. Oleh karena itu, sumberdaya yang ada di lahan sub optimal perlu dioptimalkan melalui inovasi dan implementasi teknologi yang telah dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian. Dalam penelitian ini, pengembangan Pertanian Lahan sub optimal di Provinsi Jawa Tengah, Lampung dan Kalimantan Selatan dilakukan melalui implementasi paket teknologi unggulan pengelolaan sumberdaya lahan yang meliputi: 1. Optimalisasi pengelolaan sumberdaya air, 2. Pengelolaan hara tanah, 3. Pengelolaan bahan organik, 4. Teknologi ameliorasi dan konservasi tanah, dan 5. Integrasi tanaman ternak. Melalui denfarm yang diimplementasikan diharapkan inovasi dan implementasi paket teknologi unggulan pengelolan SDL dapat meningkatkan potensi sumberdaya lahan dan meningkatkan taraf hidup petani.

Tingkat kesuburan tanah yang dicirikan oleh status hara tanah merupakan salah satu faktor penentu produktivitas tanaman. Analisis status hara tanah di laboratorium memerlukan waktu lama, biaya mahal, dan tidak praktis. Untuk itu perlu suatu perangkat uji tanah yang bisa cepat, murah, dan praktis atau ramah pengguna, serta memanfaatkan teknologi informasi. Saat ini Badan Litbang Pertanian telah berhasil merakit beberapa perangkat uji tanah dan aplikasi rekomendasi pemupukan. Namun demikian perangkat uji tersebut masih belum praktis karena menggunakan metode colorimetry dan rekomendasi pupuk masih manual atau aplikasinya terpisah dengan perangkat uji. Penggunaan detector gelombang infra merah (near infra red NIR), aplikasi rekomendasi pemupukan yang digabung dengan perangkat uji, dan rekomendasi pupuk ditayangkan dalam display digital yang menggunakan teknologi informasi merupakan perangkat uji yang lebih cepat, praktis, dan pemanfaatannya luas.

 

Peneliti: Ir. Mas Teddy Sutriadi, M.Si