Peningkatan suhu udara dan kejadian iklim ekstrim menyebabkan dampak negatif perubahan iklim jauh lebih menonjol dibandingkan dampak positifnya. Selain terhadap tanaman dan ketersediaan air, perubahan iklim juga berdampak negatif terhadap tanah seperti dinamika bahan organik tanah, populasi dan aktivitas mikroba tanah, dan berbagai karakteristik tanah yang terkait dengan bahan organik, air tanah dan tingkat erosi. Untuk itu diperlukan langkah pengamanan berupa adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim. Penelitian bertujuan untuk 1) Melakukan kordinasi internal untuk sinkronisasi dan komunikasi program dan kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim lingkup Kementerian Pertanian, 2) Menghadiri, berpartisipasi, serta mensintesis berbagai event nasional dan internasional tentang perubahan iklim sebagai salah satu dasar penyusunan strategi dalam pembangunan pertanian nasional yang bijak terhadap perubahan iklim, 3) Menyusun dokumen kebijakan berkenaan dengan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim dalam bentuk power point, pidato pembukaan, key-note speech dan dalam bentuk lain yang relevan, dan 4) melakukan kajian dampak pengaturan tinggi muka terhadap emisi gas rumah kaca, resiko kebakaran, dan produktivitas tanaman pada lahan gambut.

Penelitian ini dilaksanakan dalam bentuk 4 kegiatan yaitu 1) Konsorsium Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim Sektor Pertanian, 2) Koordinasi, Komunikasi, dan Sinkronisasi Kegiatan Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim, 3)  Kajian Teknis Dampak Muka Air Tanah Dangkal pada Lahan Gambut terhadap Emisi Gas Rumah kaca, resiko kebakaran, produktivitas tanaman.

Kegiatan kordinasi kegiatan perubahan iklim diantaranya adalah tagging kegiatan Kementrian Pertanian terkait adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.  Kompilasi tagging anggaran dilakukan dengan cara megindentifikasi kegiatan-kegiatan yang berkaitan langsung ataupun mempunyai co benefit terhadap adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.  Berbagai kegiatan kordinasi yang dilaksakan adalah 1) Forum diskusi iklim untuk menyusun prediksi dan implementasi teknis serta rekomendasi adaptasi untuk MK2018 dan MH 2018/2019, dan 2)  Mengadakan Lokakarya Restorasi Gambut dan Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim Sektor Pertanian

Event ditingkat nasional dan internasional yang diikuti adalah 1) Penyusunan Laporan Green Sukuk, 2) FAO Regional Conference for Asian and the Pacific (APRC) ke-34, 3) Fourth ASEAN Climate Resilience Network Meeting (ASEAN CRN), 4) Bonn Climate Change Conference (BCCC), 5) The 7th Adhoc Steering Committee on Climate Change and Food Security Meeting, 6) APEC Climate Symposium 2018, , 7) Workshop Finalisasi PEP (Pemantauan, Evaluasi, dan Pelaporan) TAHUN 2017 dan Kaji ulang RAD-GRK Sektor Pertanian, 8) Workshop Perencanaan Pembangunan Rendah Karbon dan Berketahan Iklim (PPRK), 9) Penyusunan Permentan “Sistim Peringatan Dini dan Penanganan Dampak Perubahan Iklim Pada Sektor Pertanian, 10) 2nd Lead Author Meeting of Special Report of Climate Change and Land (SRCCL), dan 11) Pertemuan COP-24 UNFCCC  Climate Change Conference, Katowice, Polandia

Hasil kajian tinggi muka air pada perkebunan kelapa sawit di lahan gambut menunjukkan kisaran antara 28-100 cm. Kadar air tanah gambut pada lapisan permukaan (kedalaman 0-10 cm) berkisar antara 227,6-367,4%.  Hasil pengamatan emisi GRK pada kondisi TMA 45-65 cm rata-rata<50 t CO2/haeq.  Emisi paling tinggi yaitu 65 CO2/haeq terjadi pada bulan Oktober (akhir musim kemarau).  Namun demikian tidak ada korelasi nyata antara tinggi muka air (TMA) dengan besarnya emisi. Penurunan kadar abu pada lapisan permukaan gambut dengan meningkatnya jarak dari sungai mengindikasikan adanya kontribusi pengkayaan sedimen dari luapan air sungai.

Hasil pengamatan padatanah gambut menunjukkan  tinggi muka air tanah sangat dinamis dan berfluktuatif baik secara temporal maupun secara spasial.  Antara bulan April-Nopember 2018, hanya 17% kejadian yang  kedalaman MAT < 40 cm. Berdasarkan hasil kajian tersebut membuktikan bahwa tinggi muka air tanah gambut < 40 cm  seperti yang diamanatkan pada pasal 23 ayat 3 PP 57 tahun2016 di areal budidaya, sangat tidak mungkin dipenuhi  baik saat musim hujan, terlebih lagi saat musim kemarau.

 

Peneliti: Prof. Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, M.Agr